BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Thursday, June 14, 2018

KERJA RASA LIBURAN VOL. II

Di postingan sebelumnya, disini, saya pernah sedikit bercerita mengenai profesi saya sebagai konsultan. Dimana perpindahan lokasi proyek dari satu tempat ke tempat yang lain sudah menjadi hal yang biasa. Dan tak jarang lokasi proyek yang berada diluar kota bahkan sampai di pulau atau daerah terpencil.
Penerbangan Pagi-Pagi Buta Selalu Bikin Mata Krenyep2
Lagi lagi saya kebagian proyek luar kota, kali ini di salah satu pulau yang terdapat di Kepulauan Riau namanya Pulau Kundur.
Pulau Kundur Adalah Salah Satu Pulau di Kep. Riau

PULAU KUNDUR

Proyek kali ini saya ditugaskan untuk menjadi Trainer di salah satu perusahaan BUMN, PT. Timah yang kebetulan berlokasi di Pulau Kundur. Akses menuju pulau ini melewati tiga elemen perjalanan; tanah (mobil), air (kapal) dan udara (pesawat).

Pertama, dari Jakarta menuju Batam menggunakan pesawat dengan waktu tempu sekitar 1,5jam. Dari Bandara International Hang Nadim Batam menuju Harbour Bay sekitar 30 menit menggunakan taksi. Selain taksi konvensional, sudah ada taksi online juga. Tapi kabarnya masih belum legal, jadi terkadang jika menggunakan taksi online harus umpet-umpetan sama driver.
Hujan Mengguyur Saat Sampai di Bandara Hang Nadim
Dari Harbour Bay menyeberang ke Tanjung Balai Karimun. Perlu diketahui, ada beberapa pelabuhan di Batam antara lain Sekupang, Batam Centre, Harbour Bay, Batu Ampar, Punggur, dan Waterfront City Batu Aji. Namun sesuai panduan, saya diarahkan untuk menyeberang dari Harbour Bay. Di Harbour Bay melayani rute perjalanan Domestik dan International, jadi yang mau melakukan penyebrangan ke negara sebelah, Singapura bisa melalui pelabuhan ini.
Harbour Bay Batam
Untuk penyeberangan ke Tanjung Balai Pulau Karimun, terakhir jam 13.00. Jadi jika lewat dari jam terakhir, mau tidak mau harus menunggu hari esok untuk jadwal berikutnya.
Armada Untuk Penyeberangan International
Diatas Kapal Oceanna
Dua Jam Berlayar Dengan View Ciamik
Itu Negara Sebelah Udah Keliatan, Singapore
Selama Perjalanan Beberapa Kali Papasan Dengan Kapal Lain
Seteleh menempuh perjalanan kurang lebih 2jam, saya sampai di Tanjung Balai Pulau Karimun. Dari sini saya harus berpindah kapal dan juga berpindah pelabuhan KPK yang jaraknya sekitar 300meter. Memang tidak terlalu jauh tapi saat itu saya membawa beberapa 4 dus yang isinya adalah manual book/user guide untuk digunakan pada saat training *kebayang gimana rempongnya*. Untungnya setelah keluar dari pelabuhan ada banyak tukang ojek, becak, serta mobil carteran untuk mengantar penumpang.
Pelabuhan Tanjung Balai Karimun
Parkiran Motor di Tanjung Balai Karimun
Tanjung Balai Karimun
Sesampai di Pelabuhan KPK, saya membeli tiket tujuan ke Selat Beliah Pulau Kundur. Jangan sampai salah, karena di Pulau Kundur sendiri ada 2 pelabuhan, yaitu Selat Beliah dan Tanjung Batu. Namun yang paling dekat dengan PT. Timah yaitu pelabuhan Selat Beliah. Jarak tempuh menuju Selat Beliah hanya sekitar 30-45 menit.


Pelabuhan Selat Beliah
Dan sesampai di Selat Beliah sudah ada bapak driver dari PT. Timah yang menjemput saya *lega rasanya udah gak kayak anak ilang*
Kantor PT. Timah
View Dari Kantor
Kehidupan yang jauh dari peradaban pun dimulai sampai dua minggu ke depan. Seminggu pertama rute mess ke kantor dan sebaliknya, berangkat pagi dan pulang sore selepas training. Malamnya yang mendem di kamar dengan kesibukan baca buku atau nonton tv.
Mess PT. Timah
View Dari Balkon Mess
Bisa dibilang saya beruntung. Saat di Pulau Kundur saya bertemu dengan warga lokal, namanya Kak Melly. Kak Melly inilah yang menjadikan weekend saya terisi *gak kosong kayak hati kalian upss*. Kak Melly mengajak saya ke beberapa pantai di Pulau Kundur. How Lucky I Am ^_^

Beberapa tempat yang saya kunjungi selama di Pulau Kundur:

Pantai Sawang

Hari Jumat di minggu pertama, user dari PT. Timah mengajak saya untuk bersantap malam di salah satu tempat makan pinggir pantai. Restoran Batu Besar Sawang nama tempat makannya, berlokasi di pesisir pantai Sawang, dan berjarak sekitar 45 menit berkendara dari mess.






Pada Ngiler Gak?? Bodo Amat :p
Kolong Dendeng

Tak jauh dari mess tempat saya menginap, ternyata diadakan sebuah turnamen mancing oleh warga sekitar. Dan Kolong Dendeng ini adalah salah satu lokasi yang sering dijadikan tempat berlangsungnya turnamen. Kabarnya warga disini sering mengadakan turnamen pancing, makanya tak jarang dari warga-warga disini memiliki alat pancing sendiri-sendiri.

Peserta yang mengikuti turnamen tersebut lebih dari 100 orang loh, ruameeee. Sepertinya memancing sudah menjadi kebiasaan bagi warga disini.
S.T.R.I.K.E
Saya sempat bertanya pada warga lokal, kenapa tempat ini dinamakan Kolong Dendeng. Jadi di Pulau Kundur ini, Kolong berarti Danau dan kata Dendeng berasal dari nama Kapal Keruk. Dahulu kala *yailah udah kayak mau baca dongeng aja* ada Kapal Keruk milik PT. Timah yang nangkring di danau ini. Makanya dinamakan Kolong Dendeng oleh warga setempat.

Pantai Teluk Dalam

Walaupun pulau kecil tapi keindahan pantai-pantai di Pulau ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Malahan saya lebih suka dengan pantai-pantai di pulau terpencil. Biasanya pantainya masih bersih dan keasliannya masih terjaga, tidak terusak oleh pelaku-pelaku wisatawan yang tak bertanggung jawab.
Jadi Inget Lagu Rayuan Pulau Kelapa

Pantainya Bersih, Gak Ada Sampah2 Nyangkut di Pinggir Pantai
Salah satunya Pantai Teluk Dalam, suasana pantai dengan angin sepoi-sepoi, tenang, damai, jauh dari kebisingan kota. Benar-benar sempurna untuk melepas penat dari rutinitas harian.
Ini Yang Namanya Kak Melly
Salah Selalu Membawa Botol Minum Sendiri Untuk Mengurangi Penggunaan Botol Minum Sekali Pakai

Pantai Batu Kucing

Pantai selanjutnya yang saya kunjungi adalah Pantai Batu Kucing. Pantai ini memiliki pasir dengan warna coklat kekuningan. Pantai ini sepertinya tidak terlalu dikenal oleh orang-orang sehingga tidak heran jika dipantai ini sangat sepi pengunjung, paling hanya masyarakat sekitar pantai yang sekedar mencari siput atau menangkap ikan.
Pantai Batu Kucing
Kayak Lagi Di Belitung Ya
Tapi keindahan pantai ini tak kalah dengan pantai-pantai sebelumnya. Ada begitu banyak batu-batu besar tersebar disekitar pantai. Hampir mirip dengan yang ada di Belitung. Mungkin bisa dibilang mini Belitung.
Foto Gak Cukup Cuman Satu Pose
Hari sudah semakin petang, matahari sebentar lagi akan kembali ke peraduannya, saya dan Kak Melly memutuskan untuk kembali pulang.
Liburan Tipis-Tipis Brow
Sebenarnya Pulau Kundur ini terkenal dengan buah duriannya. Namun sayangnya pada saat saya kesana sedang tidak musim. Yasudah tak apalah, tak perlu menunggu sampai musim durian.

Dua minggu sudah saya di Pulau ini. Tugas negara pun telah tertunaikan. Saatnya untuk kembali ke ibu kota. Sebelum benar-benar kembali ke Jakarta saya memutuskan untuk menghabiskan satu malam di Kota Batam. Mumpung lagi disini, eksplore Batam sebelum pulang kan gak ada salahnya *untung tipis-tipis bro*
Foto Bersama Peserta Training

KOTA BATAM

Sabtu siang setelah menyeberang dari Kundur sekitar pukul 01.00 WIB saya sampai di Batam. Setelah mengisi kampung tengah saya menuju hotel. Niatnya setelah checkin mau langsung jalan tapi ternyata cuaca tidak mengijinkan. Saat itu Batam diguyur hujan, sembari menunggu hujan reda tak ada salahnya memejamkan mata sejam dua jam. *Backsound, Andra & The Backbone-Sempurna*
Ada beberapa tempat yang ingin saya datangi di Batam, yang sekiranya pas untuk menghabiskan waktu sebelum besoknya sudah terbang ke Jakarta.

Rumah Kopi Fatmawati

Oke destinasi pertama adalah Rumah Kopi Fatmawati. Saya menargetkan tempat ini karena memang saya  lagi pengen ngopi dan tempatnya berada di pinggi pantai. Seduhan kopi dan laut, semacam kolaborasi sempurna untuk seorang yang ingin menyepi *hallaaaaaaah pengen baper aja ribet amat*



Rumah Kopi Fatmawati terletak di Kawasan Mega Wisata Coastarina. Dari gerbang Mega Wisata Coastarina, sekitar 100 meter berjalan kaki melewati jembatan menuju kedai kopi. Kafe ini berada diatas laut seperti rumah panggung, terdiri dari dua lantai dengan design yang minimalis. Saya sarankan memilih lantai dua karena view nya yang sungguh ciamik, apalagi di malam hari. Suara deburan ombak, kapal yang lalu Lalang, dan pantulan cahaya bulan di laut bikin gak mau pulang. Aseli, paraaaaaah, tempatnya bikin nyaman.
Rumah Kopi Fatmawati
Ngopi Guys Biar Gak Letoi Kayak Tempe Mendoan
Kopinya Enak, Pisang Bakarnya Enak, Cream Soupnya juga enak. Pesanan Saya Untuk Seorang Diri  ^_V
Sempat ngobrol-ngobrol sama pengunjung lain, eh malah temenan, eh malah dianterin kemana-mana, ke  tempat ikonik di Batam. Malah sampai dianterin beli oleh-oleh juga. Serunya bepergian itu, dapat tempat-tempat baru, pengalaman baru, dan teman-teman baru.

Jembatan Barelang

“Belum ke Batam kalau belum ke Jembatan Barelang”, semacam istilah kalau berkunjung ke Batam maka wajib berkunjung ke Jembatan Barelang yang menjadi ikon dari Kota Batam.
Barelang adalah singkatan dari BAtam, REmpang, dan gaLANG, sebuah jembatan yang menghubungkan beberapa pulau di Batam. Pembangunan jembatan ini diprakarsai oleh Pak Habibie, makanya ada juga yang menyebutnya sebagai Jembatan Habibie.
Disediakan spot mainstream untuk yang ingin berfoto berlatar jembatan barelang, namun sayang karena saya kesananya di malam hari dan belum ada penerangan yang memadai makanya hanya bisa menikmati dengan mata telanjang.

Nagoya Hill Batam

Dan terakhir belanja oleh-oleh. Batam merupakan salah satu kota pusat perdagangan Internasional di Asia Tenggara, sehingga tak heran jika ada banyak tempat-tempat perbelanjaan untuk memanjakan para wisatawan yang hobi berbelanja. Salah satunya di Nagoya Hill Shopping Mall. Begitu banyak barang-barang import dengan brand-brand ternama. Namun karena saya demennya barang-barang outdoor jadinya kurang melirik kiri kanan, yang ada malah belanja coklat.

Ada banyak jenis cokelat, dari coklat lokal hingga cokelat import dari luar. Dan enak enaaaaaak. Duh jadi khilaf.

Dan itulah perjalanan singkat selama di Batam, kerja sembari liburan tipis-tipis. Setiap profesi ada plus minusnya, tinggal bagaimana kita menjalani serta bersyukur dengan apa yang kita punya.
Disetiap Perjalanan Saya Selalu Membawa Buku. Dan Kali ini Catatan Juang Menjadi Teman Seperjalanan Saya
Read More

Sunday, June 10, 2018

PULAU BELITUNG, BUMI LASKAR PELANGI YANG FENOMENAL PART II

Destinasi Pertama di Hari Kedua, Museum Kata Andrea Hirata
#HARI KEDUA

Di hari pertama seharian kami menghabiskan waktu menjajaki beberapa tempat eksotik di wilayah Belitung Barat. Yup, semua pantai-pantai yang saya sebutkan di hari pertama berada di Belitung Barat. Lantas sekolah Muhammdiyah tempat Andrea Hirata dana teman-temannya bersekolah dimana? Itu di Belitung Timur. Jauh gak? Barat ke Timur dengan jarak tempuh sekitar 72KM. Jawabannya pasti jauh.

Jadi saran saya kalau mau eksplore beberapa tempat di Belitung sebaiknya menggunakan mobil. Tapi kalau tetap menggunakan motor monggo, asal tahan pegel linu, encok dikit. 
Selain itu, jalanan di Belitung menurut saya agak berbahaya untuk berkendara dengan motor di malam hari karena ada beberapa jalan yang melewati hutan dan perkebunan sawit jadi sangat minim penerangan. Beberapa kali kami harus rem mendadak karena anjing yang nyebrang gak pakai nengok kiri nengok kanan. Jadi kudu hati-hati.

Memang banyak yang salah persepsi. Laskar Pelangi memang sudah sangat melekat dengan pulau ini. Inget Belitung, Inget Laskar Pelangi, dan Inget Pantai dengan batu-batu granit raksasanya. Tapi sebenarnya Laskar Pelangi itu ada di Belitung Timur, tempat dimana sekolah SD & SMP Muhammadiyah berada, tempat dimana Museum Kata Andrea Hirata berada.

Jadi jika disimpulkan, Belitung Barat menyajikan wisata bahari di pantai-pantai dan pulau-pulau kecil yang menawan. Sedangkan di wilayah Belitung Timur menyajikan wisata dengan konsep budaya, seni dan edukasi. Jadi jelaskan kenapa pulau ini menjadi pulau wajib kunjung minimal sekali dalam seumur hidup.
Belitung Timur Dengan Konsep Wisata Yang Berbeda Dengan Belitung Barat
Homestay - Musem Kata Andrea Hirata. Homestay Lokasinya di Kota Tanjung Pandan
1 jam 20 menit versi gak macet

MUSEM KATA ANDREA HIRATA

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 72KM dengan menggunakan motor akhirnya kami sampai di destinasi pertama, Museum Kata Andrea Hirata.  Museum kata ini adalah private museum milik Andrea Hirata.

Bangunannya terlihat begitu sederhana, bahkan menyatu dengan rumah-rumah yang ada disekitar, tak ada penghalang dari rumah-rumah yang lain bahkan tak ada pagar tinggi sebagai pembatas.
Dari Luar Terlihat Cat Dinding Warna Warni Gembira Macem Soda Gembira
Desain dan warna bangunan dari luar saja sudah sangat menampakkan nilai seni. Seperti keinginan Andrea Hirata yang ingin menjadikan wilayah Belitung Timur semakin berkembang dengan mengemban konsep wisata budaya dan seni

Namun sayangnya kami tidak sempat untuk masuk kedalam karena jam buka museum ini adalah pukul 09.00 dan kami kami sampai disana sebelum jam 9, selain itu cuaca sedang mendung dan kami mengejar untuk destinasi yang lain. Tak apalah, foto-foto dari luar saja sudah happy banget nih hati.
Kedai Kopi di Depan Museum. Tapi Karena Bulan Puasa Jadi Tutup

REPLIKA SD MUHAMMADIYAH GANTONG

Dari Museum Kata Ke Sekolah Laskar Pelangi tidaklah jauh, dalam waktu beberapa menit berkendara kami sudah tiba di Sekolah Laskar Pelangi.
Museum Kata - Replika SD Muhammadiyah Gantung
Siapa sangka sekolah yang sudah jauh dari kata layak ini malah pernah melahirkan seorang pemuda hebat. Nah ini dia sekolah tempat Andrea Hirata menimba ilmu.
Kalau Dulu Sebelum Sekolah Bayar SPP Dulu, Nah Ini Sebelum Masuk Sekolah Bayar Tiket Dulu
Bangunan ini hanyalah replika yang merupakan representasi dari bangunan aselinya , dibangun kembali menyerupai bentuk aselinya untuk keperluan syuting Laskar Pelangi. Kalau bangunan aselinya sendiri sudah ambruk.
Sekolah yang terlihat reyot ini malah menyimpan begitu banyak pesan inspiratif. Ada semangat belajar yang begitu besar serta kobaran kebangkitan yang terus berkumandang di tempat ini.

Tempat ini mengajarkan saya bahwa tak ada keterbatasan untuk menimbal ilmu selama kemauan ada didalam hati, dimanapun dan kapanpun. Karena saat kau memutuskan untuk berhenti belajar saat itu pulau kau sudah dianggap mati.
VANDALISME!!!!
Saya Mohon Dengan Sangat Untuk Tidak Melakukan Hal Seperti Ini. Jadilah Wisatan Cerdas Bukan Perusak

DANAU KAOLIN

Untuk destinasi selanjutnya, sebenarnya kami menargetkan daerah Manggar. Tapi apadaya di pertengahan jalan malah hujan, alhasil kami putar balik dan memutuskan untuk kembali ke Belitung Barat dan menargetkan Danau Kaolin untuk destinasi selanjutnya.
Replika SD Muhammadiyah - Danau Kaolin
Berkat foto-foto yang beredar di Instagram yang menampilkan warna air yang biru cerah, jadilah kami bertekad ke tempat ini. Dan pas sampai, *LOL* under expectation. Gak ada biru-birunya. *apa karena saat itu sedang mendung?*. Trus kok lihatnya cuman bisa dari atas, di foto orang-orang kok beda *apa orang-orang nekat nerobos palang pembatas buat turun ke bawah?*. Bermunculan lah begitu banyak pertanyaan apa, kenapa, dan kok bisa dari kami berdua yang intinya menyisakan rasa penasaran.
Gak Ada Biru-Birunya, Adanya Ijo Ijo Hambar
Mungkin orang-orang pas kesini lagi beruntung dan kami lagi apes jadi gak dapet view cantiknya *positif thinking aja lah guys*

Tapi sejujurnya memang terlihat indah. Sebuah danau dengan warna daratan yang terlihat putih bersih, dengan warna air yang hijau (pada saat saya kesana) dan biru cerah (di foto-foto Instagram) adalah pemandangan yang terbentuk dari bekas pertambangan Kaolin. Jadi daerah ini adalah daerah pertambangan.

Sedikit pengetahuan tentang Kaolin. Kaolin adalah semacam tanah liat berwarna putih yang biasa dijadikan bahan industri salah satunya kosmetik.

Perlu berhati-hati saat mengunjungi danau Kaolin. Karena tekstur Kaolin yang sangat rapuh, lembek, lunak. Jadi salah napak bisa terperosok.
Cukup terperosok oleh masa lalu, terperosok di Danau Kaolin, Jangan!!
Danau Kaolin - Masjid Sijuk

MASJID SIJUK

Dari destinasi-destinasi yang telah kami kunjungi, sebenarnya ini adalah destinasi prioritas utama. Karena trip ke Belitung kali ini memang buat nemenin si bapak satu ini buat hunting materi video.
Masjid Al Ikhlas atau dikenal juga dengan Masjid Sijuk
Capt by Arif Prabowo
Walaupun jadi tempat terakhir yang di kunjungi tapi inilah pokok pentingya *makanya kalian jangan seneng dulu kalau jadi yang pertama, karena yang terakhir biasanya jadi yang paling penting* *Gha kayaknya lu mabok deh*
Capt by Arif Prabowo
Nama masjid ini adalah Masjid Al-Ikhlas, namun karena bertempat di daerah Sijuk jadi dikenal dengan sebutan Masjid Sijuk. Masjid Sijuk merupakan masjid tertua yang masih ada dan masih asli yang ada di Pulau Belitung. Bentuk bangunan masjid tidak terlalu besar dengan wana cokelat yang mendominasi. Walaupun telah mengalami perbaikan beberapa kali namun desain dan bentuknya tidak merubah dari bentuk aselinya.
Sejarah Singkat Mengenai Masjid Sijuk
Capt by Arif Prabowo
Suasana di masjid ini sangat tenang dan adem. Selepas sholat ashar berjamaah, berbincang sebentar dengan bapak yang biasanya mengurusi masjid, Arif yang sudah siap dengan peralatan ondel-ondelnya mulai mengambil gambar dan video.
Dan saya? Bobo siang dipojokan :)))))))))))) *Gha gha bukannya bantuin temen malah molor*
Vlog In The Making
(Sila mampir ke channel youtube teman saya Arif Prabowo, klik)

Untuk hari kedua ini memang lumayan kejar-kejaran dengan waktu dan cuaca, urutan destinasi dan estimasi kami atur sedemikian supaya semua destinasi yang di targetkan bisa tercapai. Dan hari kedua memang lebih banyak berkendara karena jarak satu tempat ke tempat lain lumayan berjauhan.

Demikianlah serangkain cerita selama di Pulau Belitung dengan destinasi yang beragam; dari Wisata Bahari, Edukasi, Seni, sampai Wisata Rohani.
PAKET KUMPLIT
Tapi selepas dari sini saya masih punya PR. BELUM NYICIPIN MIE ATEP. So, ke Belitung lagi, jangan??

Oiya ini info mengenai tempat penginapan saya selama di Belitung.

Di Homestaynya Bisa Menyewakan Motor Juga Guys

Kamarnya Bersih. Ada TV, AC, Kamar Mandi Dalam, Dapet Handuk Juga. Recommended lah

More Information:
Tiket pesawat PP : Rp 1.582.000 (ini udah untuk 2 orang)
Kapal buat nyebrang dan snorkeling: Rp 400.000 (muat 10 orang)
Alat-alat snorkeling: Rp 30.000 (per orang)
Homestay: Rp 80.000 (per orang)
Read More
Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts