BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Monday, November 28, 2016

MENCICIPI KEINDAHAN SUMATERA BARAT BARENG SAHABAT

Yang namanya dadakan persentase mengecewakannya lebih rendah ketimbang yang terencana. Dan benar saja seminggu sebelumnya sudah merencanakan untuk berkunjung ke Bukittinggi namun GATOT!! GAGAL TOTAL!! Semua rencana gagal, mood berantakan, pikiran awut-awutan. Hemmmmm. 

Namun kemudian datanglah hari berkunjung ke Bukittinggi-Padang dan sekitarnya pun terjadi. Setelah benar-benar duduk diatas mobil travel yang melaju dari Pekanbaru ke Bukittinggi menandakan rencana kali ini benar-benar akan terjadi. Ihhiiiiiyyy happy nya. Oiya buat kalian yang akan melakukan perjalanan dari Pekanbaru ke Bukittinggi siap-siap dengan kondisi jalurnya yang berkelok-kelok dengan jarak tempuh sekitar 5 jam an lah. Dari Bukittinggi ke Padang sekitar 2 jam. Jadi yang punya penyakit mabuk darat jangan sampai absen antimonya.

Sate Padang dgn tingkat kenikmatan 99%
Sesampai di Bukittinggi hawa sejuk menyambut. Bukittinggi memang terkenal sebagai sebuah kota dataran tinggi dengan kontur alam yang berbukit-bukit. Terang saja kota ini memiliki hawa dengan udara yang sejuk. Dari Bukittinggi pun kita sudah bisa menikmati tampilan Gunung Singgalang dan Gunung Marapi yang menjulang kokoh dengan jarak pandang yang terlihat cukup dekat. Terlihat dekat tapi sebenarnya jauh sama kayak jauh dihati dekat di hati eh kebalik ya hahaha *eyyaaa gak jauh2 dari baper*

Tadinya sok-sok gak mau makan malam tapi aroma dan tampilan Sate Padang yang sungguh indah tak sanggup menahan nafsu ingin melahapnya. Dan beuuuhhh the best taste of Sate Padang ever belum pernah nemu Sate Padang seenak ini sebelumnya. Kuah kental yang berasa Padang sesungguhnya, dan dagingnya yang empuk ditambah kerupuk kerenyes2 waahh petjah. Kalian harus nyobain *titik*

 

JAM GADANG 

Setelah makan kami (Saya, Ima, Rahman, dan Bg Indra) menyempatkan untuk ke Jam Gadang sebelum balik ke penginapan. Jam Gadang merupakan simbol atau ikon dari Kota Bukittinggi, rasanya tak lengkap jika ke kota ini tapi tidak berkunjung ke Jam Gadang. Ternyata tampilannya memang sefenomenal namanya. Di malam hari tampak lampu warna warni menambahan keindahan objek wisata satu ini. Puas berfoto-foto kamipun kembali ke penginapan, berisitirahat mempersiapkan esok hari untuk trip di beberapa lokasi.
Dalam kondisi lelah sekalipun selalu ada semangat untuk berfoto
Walaupun semalam kami sudah mengunjungi wisata Jam Gadang, namun kami tak melewatkan untuk melihat wisata fenomenal satu ini di siang hari *Yaa mumpung lagi di Bukittinggi*. Mau objek wisata yang sama tetap aja, jeprat-jepret tak terhindarkan *pada banci kamera sih*
Inilah kami para banci kamera
Istana Bung Hatta yang berada tepat didepan Jam Gadang
NGARAI SIANOK 

Dari hasil searching di Google, ada wisata alam milik Bukittinggi yang akan membuat mata membelalak. Ngarai Sianok, melihat wujud indahnya dari mbah Google pikirku wisata alam ini berada berkilo-kilo meter dari Kota Bukittinggi. Siapa sangka jaraknya hanya 10 menit dari Jam Gadang *eng ing eng*. Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak diperbatasan kota Bukittinggi, di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ngarai Sianok yang dalam jurangnya sekitar 100m, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (sumber wikipedia).
View Ngarai Sianok
Dan benar saja, pemandangan yang tampak didepan mata saat itu beneran bikin gak bisa mingkem. Indaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh. Bisa menikmati keindahan seperti ini tanpa harus treking berkeringat itu woooow. 1 2 3 cegrak 4 5 6 cegrek *terus aja itung ampe 100 :)))))*. Pemandangan ini memang benar-benar hasil pahatan Tuhan yang tak tertandingi indahnya. Dari atas terlihat lekukan-lekukan hasil patahan yang membentuk dinding bukit yang seolah-seolah sedang berbaris. Dibawah terlihat sungai yang berkelok-kelok diantara dinding bukit yang curam menambah hiasan indah objek wisata alam yang satu ini. Manusia mana yang bisa menyamai keindahan seperti ini.

LOBANG JEPANG (GOA JEPANG)

Masih di area Ngarai Sianok. Tak jauh dari itu ada wisata lain yang bisa menambah list trip saya untuk weekend kali ini yaitu Lobang Jepang. Beralih dari wisata alam ke wisata sejarah. Seperti kata Presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno, “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah
Tepat didepan saya sudah ada lubang berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi sekitar 2 meter yang diatasnya bertuliskan “Lobang Jepang”. “Lobang ini adalah pintu masuk Lobang atau Goa Jepang yang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara Jepang sekitar tahun 1942” jelas Uda Nanda yang merupakan tour guide kami sewaktu mulai menuruni anak tangga dari pintu masuk Goa Jepang. Uda Nanda kembali menjelaskan dengan aksen minangnya, “diperkirakan puluhan bahkan ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha  dikerahkan untuk menggali terowongan ini yang berasal dari pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Tak ada 1 tenaga kerja pun yang berasal dari Bukittinggi, hal ini dilakukan koloniel Jepang di masa itu untuk menjaga kerahasiaan proyek tersebut. Orang-orang asli Bukittinggi malah dikirim ke wilayah lain seperti Bandung”. Sebagai informasi guide di Goa Jepang sebenarnya free tapi tidak ada salahnya kita memberikan tip seikhlasnya kepada mereka, itung-itung sebagai penghargaan kepada mereka yang telah membantu dalam melestarikan bukti sejarah yang masih ada sampai sekarang.
Pintu masuk Lobang (Goa) Jepang
Uniknya, pintu masuk Goa memang berbentuk setengah lingkaran namun saat berada didalam dapat dilihat bentuk Goa berbentuk kotak. Kalau dari penjelasan si Uda, model seperti ini sengaja dirancang agar Goa ini terlihat kecil dari luar namun ternyata memiliki space yang lebar didalamnya.

Kondisi didalam Goa
Didalam Goa terdapat banyak ruangan-ruangan, ruang amunisi, barak militer, ruang rapat, ruang makan, dapur, pintu penyergapan, dan penjara. Pada saat Goa Jepang pertama kali ditemukan banyak ditemukan bambu yang merupakan tempat tidur para tentara Jepang. Namun karena kondisi bambu yang sudah lapuk sehingga warga sekitar membuang bambu tersebut. Sembari menceritakan sejarah Goa Jepang, saya, Ima, dan Rahman sibuk mengambil gambar sambil beraharap dalam hati tidak ada gambar-gambar aneh yang terekam dikamera masing-masing *khan ngeri bo’*

Keunikan lain yang saya temui didalam Goa ini, ada sebuah lorong yang kata Uda Nanda merupakan lorong yang digunakan tentara Jepang untuk mengumpulkan tentara lainnya jika ingin mengadakan rapat. Pimpinan mereka cukup berteriak di lorong tersebut dan akan terdengar ke segala penjuru Goa. Lorong tersebut sengaja dibuat sedemikian rupa agar suara bisa bergema *Lorong Toa nama lorong versi Egha hihi*

Uda Nanda kembali menjelaskan bahwa posisi kita saat ini berada di bawah Kota Bukittinggi, jadi diatas kita sedang berlangsung aktifitas harian warga kota Bukittinggi dan jika kita terus berjalan menyusuri lorong-lorong Goa maka kita bisa saja sampai ke Istana Bung Hatta yang berada didepan Jam Gadang. Tapi jalan menuju kesana sudah ditutup oleh Pemda setempat karena tidak dimungkinankan untuk pengunjung berjalan sejauh itu.

Sampailah disebuah lorong sebelah kiri, saya melihat sebuah ruangan yang gelap dan kondisinya lebih mistis dari ruangan-ruangan lain. Ruangan tersebut ditutup dengan pagar besi dan diatasnya ada tulisan PENJARA *pantesan aja tampilannya horor*.Konon ceritanya para tahanan didalam penjara tidak kadang tidak diberi makan dalam waktu yang lama dan jika ada yang meninggal mayatnya tidak dibuang melainkan hanya dibiarkan didalam penjara. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi nenek moyang kita terdahulu. Dan disebelah kanan penjara ada sebuah ruangan yang bertuliskan DAPUR dan didalamnya ada lagi sebuah ruangan yang bertuliskan PINTU PENGANTAIAN. Pikir saya dalam hati kenapa ada dapur didekat Penjara. Apa mungkin ini tempat menaruh makanan untuk para tahanan. Tak butuh waktu lama, Uda Nanda langsung menceritakan bahwa Dapur ini sebenarnya digunakan oleh tentara Jepang untuk menyiksa para tahanan. Dapur hanya sebagai kamuflase untuk melakukan pembantaian. Dinding dapur sudah ditutupi semen oleh Pemda karena aslinya di dinding dapur masih menempel bekas-bekas darah hasil penyiksaan dan pembantain. Walaupun bukti sejarah tapi rasanya tak pantas jika bekas-bekas darah tersebut menjadi bahan tontonan bagi pengunjung.

Ini yang namanya Uda Nanda
Sambil meninggalkan Dapur saya menanyakan pertanyaan yang sama skali tak ada hubungannya dengan sejarah “Uda, selama jadi guide pernah gak sih ngerasain atau sampai ngeliat hal-hal aneh?”. “Ohh sering, bukannya mau nakut-nakutin tapi pas kita turun dari pintu masuk itu sudah ada yang berdiri di tangga. Dengar suara penyiksaan juga sering. Saya kan INDIGO”. Ampun deh salah nanya kan. Seketika Ima melipir mendekati saya dan kami pun berjalan sambil rangkul-rangkulan. Untung saja didepan kami sudah ada pintu yang merupakan pintu keluar yang merupakan tanda bahwa perjalanan kami sudah akan berakhir. Dan sebelum keluar, Uda menutup ceritanya dengan menjelaskan bahwa sekarang pun ada yang sedang berjalan dibelakang kami. Mereka ingin keluar dari Goa tapi tidak bisa karena sudah beda alam *mereka dalam tanda kutip*. Ibaratnya saat kita masuk ke dalam Goa kita memasuki dunia yang berbeda. Oleh karena itu, untuk kalian yang ingin mengunjungi wisata ini jagalah omongan, jangan berbuat seenaknya, apalagi membuat keributan.
Didalam Goa saya juga sempat mendapati banyak coretan dari para pengunjung alay tak bertanggung jawab *gak digunung gak di Goa tetep aja ada coretan haddeeeeh*. Tapi untungnya didalam Goa sudah dipasangi CCTV sehingga dapat dipantau segala aktifitas pengunjung di dalam Goa. Bukan hanya pengunjung tapi aktifitas guide pun dipantau. Jadi jangan sampai melewatkan wisata sejarah satu ini jika mengunjungi Bukittinggi.

NGARAI SIANOK (LAGI)

Didepan pintu keluar Bg Indra sudah menunggu kami. Masih dalam kawasan Ngarai Sianok, kami pun segera meluncur ke spot selanjutnya. Kalau tadi kami menyaksikan keindahan Ngarai Sianok dari atas sekarang kita akan kebawah, melihat keindahan lain dari Ngarai Sianok dari sisi yang berbeda.

Jalan menurun yang sedikit curam, dalam hati ini naiknya pasti PR *yelah egha kyk gak pernah naik gunung aja, tiba2 jadi manja gitu*. Lagi lagi Ngarai Sianok tidak mengecewakan kami karena dari bawah sini kami disuguhkan dengan keindahan yang tidak setiap hari bisa kami lihat di Jakarta. Siap-siap saya akan racuni kalian dengan foto.
Jangan diganggu plis, lagi anteng
Puas berfoto-foto, kami kembali ke mobil untuk menuju tujuan selanjutnya. Dan benerkan butuh treking cantik pulangnya.

PUNCAK LAWANG, DANAU MANINJAU

Welcome to Puncak Lawang
Matahari belum berada tepat diatas kepala, menandakan belum tengah hari tapi kami sudah mendatangi beberapa spot karena lokasi tempat wisatanya yang memang saling berbedakatan.

Tujuan selanjutnya adalah PUNCAK LAWANG. Lagi-lagi saya menjudge, yaa namanya puncak pasti tak jauh-jauhlah dari tempat seperti puncak bogor atau lembang di Bandung. Dan untuk kesekian kalinya perkiraan saya terpatahkan. Benar-benar keindahannya diluar perkiraan.
View Danau Maninjau dari Puncak Lawang
Dari atas puncak, kami bisa dengan leluasa menikmati keindahan Danau Maninjau. Saat itu cuaca lagi cerah-cerahnya, rasanya Tuhan sedang mengijinkan kami untuk menikmati hasil lukisanNya yang tak tertandingi ini. Di air danau yang biru kita dapat melihat pantulan awan bak permen gulali, hamparan sawah berbentuk kotak-kota dengan berbagai warna, serta angin sepoi basah dengan suhu sekitar 18-20 derajat celcius.

Puncak Lawang pun dijadikan lokasi olahraga Prahlayang. Kebayangkan main parahlayang dengan view Danau Maninjau. Tapi sayang bertepatan dengan adanya event Porprov (Pekan Olah Raga Provinsi) dan pilot-pilotnya sedang mengikuti event tersebut. Yasudahlah belom rejeki main Parahlayang. Diberi tampilan seperti ini pun rasanya sudah lebih dari cukup. Berasa sedang melihat walpaper di laptop atau gambar-gambar di kalender. Kalau kata Ima ini viewnya terlalu photogenic, mau foto sambil tengkurep pun hasilnya bakal tetep kece hihi.
Sebelum meninggalkan lokasi ini kami pun menunaikan kewajiban sebagai umat muslim. Rasanya tak adil jika Tuhan memberi ijin untuk menikmati semua keindahan ini tapi kita sebagai manusia tidak meluangkan waktu untuk menyembah, bersyukur, dan menjalankan perintahnya.

Trip di Bukittinggi memang sudah berakhir tapi tidak untuk trip hari itu. Karena setelah ini kami akan mengunjungi Pantai Air Manis yang lokasinya ada di Padang. Oiya sebelumnya, bicara Danau Maninjau, pasti kita juga akan berbicara mengenai kelok 44. Kelok 44 ini adalah akses yang kita lewati dari Puncak Lawang – Danau Maninjau menuju Padang via Pariaman. Disebut kelok 44 karena jumlahnya ada 44 kelokan. Kok bisa tau jumlahnya ada 44? Karena disetiap kelokan akan dipasangi papan untuk menandakan kita sudah berada dikelokan keberapa. Jadi gak usah iseng buat ngitung jumlah keloknya. Kecuali emang penasaran benar-benar mau mastiin, bebas. Kelok 44 dimulai dari atas bukit dan mulailah jalan yang berkelok-kelok menuruni bukit hingga kelok 1 yang menandakan kita telah berada dipenghujung cinta eh kelok maksudnya. Jalur yang rawan kecelakan, jadi dibutuhkan driver yang handal dan mengerti dengan aturan yang berlaku yaitu toleransi memberi jalan bagi kendaraan yang datang dari arah yang berlawanan, terutama pada bagian kelok jalan.

PANTAI AIR MANIS

Dari Bukittinggi ke Padang membutuhkan waktu sekitar 2 jam, dan dari Padang ke Pantai Air Egha eh Manis dink :D membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Pantai Air Manis juga dikenal dengan Pantai Malin Kundang. Berbicara tentang Malin Kundang pastinya kita langsung tau mengenai cerita anak durhaka yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Mengunjungi Sumatera Barat memang tak lengkap jika tidak berkunjung ke Pantai Air Manis karena di pantai ini kita akan menemukan sebuah batu yang tampak seperti seorang laki-laki yang sedang bersujud. Disekitarnya terdapat bebatuan-bebatuan besar yang tersebar diperkirakan adalah kapal milik Malin Kundang yang juga menjadi batu. Rasanya belum habis rasa kagum dari objek wisata sebelumnya sekarang ditambah dengan objek wisata Pantai Air Manis ini. Oiya lagi lagi sebagai pengunjung kita harus tetap menjaga attitude dan sopan santun. Ceritanya ada pengunjung yang pernah kesurupan karena berdiri diatas batu Malin Kundang dan mnginjak bagian kepalanya.
Batu Malin Kundang
Kami memang tak menghabiskan waktu lama di Pantai Air Manis, setelah mengabadikan momen dengan berfoto-foto kami bergegas menuju kota Padang. Cuaca saat itu memang kurang bersahabat, mendung dan rintik-rintik gerimis manja.

Dengan kembalinya matahari ke peraduannya, menandakan berakhir pula One Day Trip kami di Sumatera Barat. Memang masih banyak tempat wisata yang dimiliki Sumatera Barat namun tempat-tempat wisata yang sudah kami datang sudah mewakili kebahagiaan kami di hari itu. Wisata bukit, wisata sejarah, wisata pantai menjadi paket komplit di trip kami. Warga Sumatera Barat patut berbangga dengan semua kekayaan yang mereka miliki. Tak perlu polesan banyak di setiap tempat wisatanya. Cukup dengan selalu menjaga kebersihan dan tidak menghilangkan/mengubah keindahan tempat wisata yang sudah ada jauh sebelum menjadi tempat wisata maka akan semakin akan menarik peminat para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Untuk kalian yang doyan travelling, Sumatera Barat sangat pas untuk dijadikan sebagai destinasi trip. Namun sebelumnya kalian perlu membuat list lokasi mana yang kalian akan kunjungi dengan memperhitungkan lokasi tempat wisata. Buatlah kumpulan tempat wisata yang saling berbedakatan. Hal ini untuk mengefisiensikan waktu kalian. Case ini untuk kalian yang akan travelling tanpa didampingi penduduk sekitar yang paham dengan lokasi-lokasi tempat wisata.

Sekali lagi mengingatkan jadilah pengunjung yang ber-atitude, pengunjung yang memiliki rasa tanggung jawab, dan smart traveler. Jangan mengotori apalagi merusak segala sesuatu yang ada di tempat-tempat wisata. Karena dimanapun kita berada, berbeda daerah, Indonesia tetap milih kita bersama. 

More Information:
Travel PKU – BUKITTINGGI: Rp. 110.000 (class ekonomi-CP: 085375378080)
Hotel di Bukittinggi: Rp. 350.000/malam (Kharisma Hotel)
Tiket Taman Panorama (Ngarai Sianok & Goa Jepang): Rp. 15.000/orang
Tip Guide Goa Jepang: Seikhlasnya
Tiket Puncak Lawang: Rp. 5.000/orang + Rp. 5.000 (parkir mobil)
Tiket Pantai Air Manis: Rp. 5.000/orang
Hotel di Padang: Rp. 520.000/malam (Ibis Hotel)
Travel PDG-PKU: Rp. 170.000 (class executive-CP: 085375378080)


Read More

Saturday, November 19, 2016

CIN[T]A - ANTARA CINA, TUHAN, DAN ANNISA

Minggu ke-4 #mendadakNgeblog mengangkat tema #WajahSinemaIndonesia. Ohhh Emmm Jiii tema yang ngeri-ngeri sedep. Memaksa untuk memutar otak mencari bahan apa yang akan jadi bahan tulisan untuk bisa menjawab tantangan ini. Dannnn entah kenapa tiba-tiba teringat satu judul film yang ingin saya jadikan sebagai bahan tulisan. Film yang saya rasa tidak banyak orang yang tau. Film lama, dan bahkan tidak booming pada jamannya. Namun film ini cukup bisa menggambarkan realita yang terjadi di Indonesia. Judul film ini adalah CIN[T]A, yang artinya ANTARA CINA, TUHAN, DAN ANNISA. Hayo siapa yang sudah pernah nonton film ini? atau yang pernah dengar judul filmnya? atau malah yang baru tau kalau ada judul film ini di Indonesia?

Masih belum ketebak arti dari film ini? Hahahaha

Yaudahlah gak mau sok sok misterius. Dilihat dari judulnya, melibatkan dua genre dan Tuhan sebagai perantara. Yup betul sekali film ini menceritakan tentang Cinta Beda Agama. Film yang dirilis pada tahun 2009 ini menceritakan tentang 2 insan yang saling jatuh cinta namun berbeda agama. Sedikit gambaran mengenai film CIN[T]A. Cina diperankan oleh Sunny Soon adalah pria Batak keturunan Tionghoa yang beragama Kristen. Sedangkan Annisa diperankan oleh Saira Jihan seorang gadis muslim keturunan Jawa yang berprofesi sebagai seorang artis. Diceritakan mereka berdua sedang menempuh pendidikan di kampus yang sama yaitu ITB (Institut Teknologi Bandung) yang dimana ditempat itulah awal mula kisah mereka. Cina adalah seorang Mahasiswa baru dan Annisa adalah mahasiswa tingkat akhir. Pertanyaannya, kok mereka bisa saling jatuh cinta padahal dari umur udah jauh beda. Belum lagi agama. Nah, itulah cinta, bisa menyingkirkan segala macam perbedaan #eaaaa #eaaaa. Yakin deh, yang penasaran langsung pada nyari filmnya. Buka youtube, streaming BUAHAHAHA... #devilface

Saya pernah mendengar sebuah kalimat “jika ingin melihat keadaan suatu negara maka tontonlah filmnya”, misalnya film India selalu saja ada adegan menari dan menyanyi. Ya benar di India memang orang-orangnya suka dengan tarian dan nyanyian. Sama halnya dengan film CIN[T]A, adalah realita yang terjadi di Indonesia yang masih dianggap tabu hingga saat ini.

Film yang menyentuh persoalan yang cukup sensitif yang membahas begitu banyak perbedaan, mulai dari perbedaan umur Cina dan Annisa (Annisa lebih tua daripada Cina), perbedaan suku antara Cina dan Annisa, dan yang paling sensitif perbedaan agama dari keduanya. Sehingga menurut saya, film ini adalah film yang Indonesia banget. Indonesia dengan berbagai macam suku, budaya, ras, hingga agama sama kayak di film CIN[T]A. Belum lagi dalam film ini menghadirkan warna Indonesia dengan menampilkan simbol nasionalisme dengan menampilkan Burung Garuda dan Bendera Merah Putih. Bukan hanya itu, ada pula ciri khas daerah yaitu boneka wayang, yang merupakan ciri khas daerah Jawa.

Namun perlu saya tekankan, walaupun saya memberikan statement bahwa film ini adalah film yang Indonesia banget, tapi bukan berarti saya setuju dengan pernikahan beda agama. Toleransi beragama memang saya terapkan, namun tidak sampai merusak akidah saya sebagai seorang muslim.

Kembali ke peran utama yaitu Cina dan Annisa. Walaupun ada rasa cinta diantara mereka namun perbedaan yang hadir tidak dapat terelakkan, hingga akhirnya muncul berbagai dialog yang membawa perkara tentang Tuhan dan agama. Belum lagi saat terjadi pengeboman gereja di Hari Natal yang semakin menjadikan mereka emosional dalam memperdebatkannya. Memang pernah tejadi di Indonesia perayaan Idul Fitri dan Natal yang berdekatan. Dan akhirnya mereka sadar bahwa mereka tidak dapat bersatu walaupun mereka sama-sama mencintai Tuhan.

Saya jadi teringat kalimat-kalimat yang ada pada lembaran buku "Udah Putusin Aja" karangan Ustad Felix Siauw bahwa CINTA adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada manusia. Jadi jika cinta itu tidak dapat menjadikan kita lebih dekat dengan Allah maka mungkin itu bukan cinta melainkan nafsu belaka. Konsep mengenai anugerahnya pun luntur oleh nafsu yang berkamuflase sebagai cinta. Cinta membawa kebahagiaan, cinta membawa ketenangan, cinta membawa kedamaian, cinta menjadikan manusia kuat bukan lemah, dan cinta menjadikan manusia bangkit bukan terpuruk. Makanya hati-hati memaknai cinta. Karena cinta bisa menjadikan manusia hancur dan cinta pula yang bisa menjadikan manusia itu kokoh. Ya kira-kira seperti itulah AHA MOMENT yang saya dapatkan dari buku "Udah Putusin Aja" yang saya kaitkan dengan film CIN[T]A.

Ambillah nilai positif dari setiap film yang kita tonton. Memberi masukan dan kritikan dari film yang kita tonton memang sah sah saja. Tapi ingatlah, film adalah hasil karya seseorang. Hargai mereka yang menghasilkan sebuah karya. Karena dari sebuah pembuatan film ada ide, usaha, dan biaya yang tidak sedikit harganya.

Read More

Sunday, November 13, 2016

PULAU PARI - BESTFRIEND BESTMOMENT

Sudah sekitar 3 bulan gak nempelin keril dipundak, sinyal merah tanda setres sudah memulai kedap kedip.  Mana sekarang lagi project diluar kota yang artinya waktu untuk ngetrip tidak se-flexible jika project di Jakarta. Trip kali ini bisa dibilang trip dadakan. Awalnya cuma obrolan santai *entah becanda entah serius* dengan 2 teman trip yang sekalian jadi sahabat saya dan berakhir dengan trip yang beneran terealisasi dengan persiapan hanya 2 hari.

"Sabtu ketemu di pelabuhan Muara Angke jam setengah 7 ya Man Gha” kiriman pesan Hafiz di WA. Tenda dan perlengkapan lainnya sudah dihandle oleh teman saya Hafiz. Saya dan Rahman hanya kebagian bawa matras dan perlengkapan pribadi *Alhamdulillah rejeki anak manis*.

PELABUHAN MUARA ANGKE

Didalam gedung, tempat orang-orang biasa mengantri untuk membeli tiket kapal nyebrang, sudah duduk teman saya Hafiz dan para traveller lainnya yang sedang menunggu loket tiket dibuka. Biasanya loket tiket dibuka pada pukul 06.30 dan kapal akan berangkat pada pukul 08.00. Kami menyebrang dengan menggunakan KM.KERAPU. Perbedaan waktu tempuhnya hanya 15 apa 30 menit gitu dengan kapal tradisional tapi karena Rahman memiliki masalah dengan guncangan laut alias mabuk laut makanya kami memilih kapal cepat ketimbang kapal tradisional, tp sebenarnya gpp juga sih biar cepet sampai di pulaunya *maaf ya dijadiin alesan ^_V*
Untuk kapal cepat, 1 kapal cuma muat sekitar 20 orang
 PANTAI PASIR PERAWAN

Masih lumayan sepi, belum ramai dengan para traveller paling hanya warga-warga sekitar. Ini karena kami memang sampai lebih awal. Tak ada laptop, tak ada gedung tinggi, tak ada SAP *ups* hanya ada aroma laut, desir ombak, hangatnya pasir pantai dan ditambah bersama 2 teman trip terbaik. Maha Baik Allah dengan segala pemberian kebahagiaannya.

Menuju lokasi camp dari kejauhan terlihat gapura dengan tulisan SELAMAT DATANG DI PANTAI PASIR PERAWAN PULAU PARI. Dengan biaya hanya Rp 15.000/orang kami sudah bisa masuk dan mendirikan tenda di lokasi ini + ngecas gratis di warung yang ada disekitar lokasi camp. Suasana masih terbilang sepi, masih beberapa tenda yang berdiri kokoh sehingga kami masih bisa dengan bebas memilih tempat camp. Oiya info nih buat yang mau ngecamp tapi males bawa tenda dan males masangnya, bisa nyewa disini biayanya 80rb/malam (CP: Irwan-081584220504).
Tenda udah, gelar matras udah, mau sholat tapi waktu masih menunjukkan pukul 11.00 trus ngapain? Ngopi sambil ngebaper wkwk. Yang udah pernah nyobain ngecamp dipinggir laut pasti tau rasanya. Yang belum KALIAN HARUS NYOBAIN, DIJAMIN GAK MAU PULANG. 
Gak ada trip tanpa kehadiran kopi
Ini cuma sepotong spot indah di Pantai Pasir Perawan
Puas natap laut depan tenda? Hmm.. gak juga sih tapi sayang juga kalau gak eksplore pulau ini. Kami kemudian menyewa sepeda dengan harga Rp. 20.000 untuk seharian bahkan bisa dibalikin besok. Seperti info dari Hafiz katanya disini ada 2 pantai lainnya yaitu Pantai Kresek dan Pantai Bintang. Namun sebelum goes lebih jauh alangkah baiknya jika kita isi perut dulu. Krucuk-krucuknya  sudah sampai level akut.

PANTAI KRESEK

Di pantai ini kita bisa melihat penangkaran penyu dan bintang laut. Sepertinya karena memang belum dikelola sehingga belum banyak hal menarik di pantai ini selain penyu dan bintang lautnya. Waktu masih pukul 15.00, mau berburu sunsite pun masih lama jadilah kami menghabiskan waktu dulu di pantai ini dan tertidur, ini beneran bobo siang. Ada ayunan yang indah banget buat bobo siang kayaknya mubasir kalau gak dimanfaatin hahaa.
emang cuma Rahman yang ekspresinya paling bener
Saya terbangun dengan suara Rahman, “Gha gha bangun yuuk lanjut lagi”. Beneran deh ini bobo siang ternikmat dibulan november ini.

Makan + bobo siang = energy full. Goes lagi goes lagi. Kami memang memutuskan untuk tidak snorkeling karena sesuatu dan lain hal. Tapi informasi untuk teman-teman yang mau snorkling bisa-bisa saja. Biayanya 60rb-70rb per orang untuk berapa orangpun berangkat.

Goes goes ehh nemu yang jualan es krim, mampir. Goes goes ehh nemu yang jualan cilok dan telur gulung, mampir. Entah kenapa jajanan-jajanan itu tampak begitu menggoda. 

PANTAI BINTANG

Berbeda dengan pulau Kresek, di pulau Bintang pengunjungnya lebih ramai. Karena menurut saya beberapa spot bisa untuk menghasilkan foto kece ala instagram. Yang mau main ayunan juga bisa, bahkan ada yang mendirikan tenda juga. Sepertinya kalau kesini lagi bakal ngecamp disini. Seperti biasa kita gak akan meninggalkan suatu lokasi tanpa jegrak jegrek dulu, itung-itung mengabadikan moment. 

LIPI (LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA)

Hari sudah semakin sore, kamipun bergegas menuju spot untuk bisa menikmati sunset. 1 hal yang sangat disayangkan, menuju spot tersebut banyak sampah yang bertebaran. Adduhh lagi lagi dan lagi kondisi yang tidak pernah absen pas ngetrip yaitu sampah yang berserakan.
Menuju spot sunset
Senja,
Tiap hari bertemu, namun tak tiap hari ku nikmati
Senja,
Penampakanmu begitu menghangatkan, perawakanmu begitu menenangkan
Entah 1 minggu 1 bulan 1 tahun atau 10 tahun kedepan, hari ini akan kurindukan

Dikasi tempat macam begini, gak nahan kalau gak puitis :)
Awal2 sunsetnya masih malu2 berlindung dibalik awan
Sebelum langit benar-benar gelap kami memutuskan untuk kembali ke tenda. Memasuki lokasi camping udah terdengar dentuman lagu yang sudah tak asing, lagu dangdut cooooy. Heyyaaaaa ada yang lagi dangdutan. Karena saat itu memang ada beberapa perusahaan yang sedang mengadakan gathering, sehingga malam itu memang sedikit berisik. Padahal pengennya malam yang tenang dengan suara deburan ombak dan musik baper Adele tapi mau gimana lagi, namanya juga tempat umum.

Obrolan ngawur, semi serius, serius beneran, ngemil singkong, ngemil ubi *gak usah heran dengan cemilan kita*, dan maen kartu mengisi malam itu sampai mata terlelap. 1 info penting, kalau ngecamp di pantai gak usah capek2 bawa sleeping bag. Gerah soalnya.

Kalau sore hari kita berburu sunset, paginya tidak akan kami lewatkan untuk berburu sunrise. Saat ingin menuju ke lokasi spot sunrise, sepeda yang kami sewa sudah tidak ada. Sempat mikir ada yang maling sepeda kita. Tapi ternyata usut punya usut, di Pulau Pari sudah sering terjadi hal demikian, jadi tidak usah panik. Kalau sepedanya tidak ada  tinggal comot aja sepeda lain yang masih terparkir. Oke, masalah terpecahkan. 
Ini dia sepeda hasil colongan
Entah apa yang diobrolin 2 pria ini
Masing-masing punya cara untuk menikmati moment
2 hari rasa 2 jam. Cepet bangeeeeet :((((((( ya itulah perasaan yang selalu muncul selepas trip. Apalagi trip kali ini benar-benar trip dengan moment terbaik dan orang-orang baik

Buat kalian yang mau nanya mengenai harga snorkling, sewa penginapan yaa pokoknya tanya detail pulau pari bisa hubungin ke Ibu Muna (081519428827)
SEE YOU NEXT TRIP GUYS :)

_More Information_
Muara Angke - Pulau Pari PP: Rp. 80.000/orang (KM. KERAPU)
Biaya Camping Pantai Pasir Perawan: Rp. 15.000/orang
Biaya Masuk Pantai Keresek: Rp. 2.000/orang
Biaya Masuk Pantai Bintang: Rp. 2.500/orang
Biaya Masuk LIPI: Rp. 2.000/orang
Biaya Perahu Muterin Pantai Pasir Perawan: Rp. 15.000/orang
Toilet: Rp. 2.000/orang tiap masuk toilet
 
Read More

NYANYI LAGU DAERAH, KOK DIBILANG KOLOT SIH

Arti “keren” dan “mahasiswa” sekarang rasa-rasanya hampir identik bahkan sepadan dengan “mendaki gunung”. Sampe-sampe ada yang sempat bilang “katanya belum jadi mahasiswa seutuhnya kalau g’ mendaki gunung”
.
Never mind..... Bagi kami.....
.
Keren itu G’ Cuma bisa “main ke gunung”
.
Keren itu juga karena bisa “main di panggung”

Begitulah bunyi caption dari adik sepupu saya, Nur Indah Hasanah, di IG nya lengkap dengan postingan foto sedang menggunakan baju adat daerah Sulawesi.

Hayooo yang setuju dengan caption diatas ngacung.....
Nah saya adalah orang pertama yang akan mengacungkan tangan.

Sebagai mahasiswa memang masa-masa dimana kita merasa ingin mengeksplore lebih banyak tentang berbagai hal. Kalau sekarang sih lagi hits tuh daki gunung atau nyelam di laut, pokoknya mengexplore Indonesia menjadi sesuatu yang bergengsi dikalangan muda mudi saat ini. Tapi Indonesia tak melulu mengenai alamnya. Ada adat dan budaya yang sangat beragam yang bisa kita eksplore.

Walaupun saya pribadi sangat senang dengan kegiatan outdoor, tapi saya juga sangat senang dengan sesuatu yang berbau seni dan adat. Ada rasa bangga saat mengenakan baju adat sendiri dan bisa tampil diatas panggung. Bahkan sekarang ada rasa kangen untuk kembali mengenakan baju daerah *ntar juga make baju daerah kok, PAS NIKAH :))*

Saya akan sedikit bercerita mengenai pengalaman semasa kuliah beberapa tahun silam *ups kelihatan tuirnya*. Saya adalah lulusan Institut Teknologi Telkom yang sekarang sudah berganti menjadi Universitas Telkom *beda jaman beda nama* *makin kelihatan aja tuanya* haddeeeeh

Sebagai mahasiswa tentunya sudah sangat lekat dengan yang namanya organisasi. Dan organisasi pertama yang saya ikuti adalah UKMS (Unit Kegiatan Mahasiswa Sulawesi) dan sekarang juga sudah berganti menjadi KBMS (Keluarga Besar Mahasiswa Sulawesi) *udah ya gak usah bahas tua lagi*
Setiap tahunnya KBMS mengadakan acara Pagelaran Seni dan Budaya dimana pada acara tersebut menampilkan berbagai kesenian dari daerah Sulawesi, mulai dari tari-tarian, fashion show baju adat, hingga nyanyian lagu daerah khas Sulawesi. Menariknya, pengisi acara adalah kami-kami mahasiswa yang berdarah Sulawesi. Hal ini menjadi sarana untuk kami mahasiswa berdarah Sulawesi untuk bisa mengenal dan memperkenalkan adat dan budaya daerah Sulawesi.

Setiap acara pagelaran sebisa mungkin saya akan ikut berpartisipasi sebagai pengisi acara. Pernah jadi penari, pernah fashion show, pernah MC juga sih hehe dan sekarang  saya mencoba sesuatu yang berbeda yaitu Ansambel Musik, jadi yang megang-megang mic alias karokean *hahaha gak gak becanda* megang mic alias nyanyi, beneran nyanyi loh eike *kapan lagi suara pas-pasan bisa nyanyi di panggung* *biasa juga nyanyi klo gak di tempat karaoke ya di kamar mandi*

Lagu yang dibawakan pun tentunya lagu daerah khas Sulawesi yang di Medley yaitu Anging Mamiri, Alosi Ripolo Dua, dan satu lagi lagu khas Sulawesi Utara (asli beneran lupa saking lamanya). Musik pengiringnya disajikan dengan perpaduan antara alat musik modern dan alat musik khas daerah Sulawesi.  Kalau gak percaya nih tak kasi fotonya.

Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Bisa menyanyikan lagu daerah sendiri di atas panggung di depan orang-orang dengan suku berbeda. Tidak ada terbesit sedikitpun rasa malu atau rasa minder karena menyanyikan lagu daerah. Kebanyakan muda mudi sekarang merasa dirinya kolot jika berhubungan dengan adat daerah. Mungkin sebagian dari mereka akan merasa lebih bergengsi jika bisa menyanyikan lagu bahasa asing. Padahal lagu daerah tak kalah indahnya dan tak kalah syahdunya. Di smule (aplikasi karaoke online) saya juga pernah menyanyikan lagu daerah, biasa aja tuh. Gak merasa kolot tuh. Emang kenapa? Saya kan orang Sulawesi, berdarah Sulawesi. Dikiranya lagu daerah itu cuma selera emmak2 atau selera nenek2 doank. Bahkan emmak2 juga sudah sok2an dengerin lagu korea. Ya gakpapa juga sih dengerin lagu asing tapi jangan sampai jadi kehilanggan kebanggan akan lagu daerah, apalagi lagu daerah sendiri.

Harapan saya semoga pemuda pemudi Indonesia tetap bisa melestarikan lagu khas daerah Indonesia. Minimal menyanyikan dan mengenal lagu daerah sendiri dulu. Beneran deh, lagu daerah tuh nikmat didengerin sambil ngopi ngunyah biskuit ~~ syahduuuuuu
Read More

Monday, October 31, 2016

SUMPAH PEMUDA - SUMPAH GAK AKAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN LAGI

Lagi ikutan #mendadakNgeBlog Challenge , event yang digagas oleh teman saya Hening, salah satu manusia kreatif di muka bumi ini, yang temanya tentang "Sumpah Pemuda". Karena hobi saya emang condong ke outdoor ketimbang indoor ide yang terlintas ya gak jauh2 dari naik gunung atau nyelam di laut. Oiya buat kalian yang penasaran sama #mendadakNgeBlog . Apa sih #mendadakNgeBlog itu? sok cusssss diklik di mari #mendadakNgeBlog

Aktifitas mendaki gunung sudah bukan menjadi hal yang aneh lagi untuk jaman sekarang ini. Banyak yang bilang sih karena film 5cm jadi memacu rasa penasaran anak-anak muda sekarang untuk bisa menikmati keindahan Indonesia dari atas puncak gunung. Membahas tentang keindahan Indonesia memang gak ada habisnya. Mau jelajah Indonesia seumur hidup ampe pelosok-pelosoknya juga kayaknya gak akan kelar.
Untuk dikalangan anak alam *ceileeeh anak alam, gayaaaa* sekali mendengar kata Rinjani pasti langsung kebayang keindahan bak samudra diatas awan. Nih foto penampakannya *jeng jeng jeng* 
Samudra Diatas Awan
[INTERMEZO]
Sebelumnya saya sudah pernah posting tentang Rinjani, ngebahas pendakian Rinjani disertai penampakan foto keindahannya. Kali bisa jadi bahan referensi yang mau kesana, bisa di tengok disini "RINJANI MY FIRST 7SUMMIT Part 1" dan "RINJANI MY FIRST 7SUMMIT Part 2"

Oke itu tadi, promosi berkedok intermezo :D lanjut lagi ya

Tapi tau gak sih dibalik keindahan ini ada keadaan yang begitu memilukan hati. Kondisi yang sudah sering kita temui di banyak gunung-gunung yang ada di Indonesia yaitu SAMPAH yang berserakan. Sudah tak usah ditanya lagi siapa pelakunya, siapa lagi kalau bukan pendaki alay bin cabe terongan. Semakin ramainya para pendaki, akan semakin banyak pula sampah yang semakin berserakan disekitar kawasan gunung. Entah itu plastik indomie lah, kresek lah, botol aqua lah, atau mungkin plastik pembungkus salonpas.
Udah disediakan tempat sampah tapi masih buang sampah sembarangan
Banyak artikel yang sering saya temui di sosial media bahwa para pendaki yang bukan warga Indonesia yang naik gunung tujuannya bukan untuk mendaki atau menikmati keindahan Indonesia tapi malah membersihkan sampah-sampah dan dibawa turun gunung. Sebagai warga Indonesia sendiri gak malu apa???? Kenapa mesti orang luar yang membersihkan alam Indonesia kita.
Mungkin para pendaki macam gini perlu dikasi cap di jidat “JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN” pas registrasi simaksi. Kalo gak dirukiyah dulu kali ya sebelum nanjak. Miriss :(

Belum lama kita memperingati hari Sumpah Pemuda ditanggal 28 Oktober 2016. Sebagai pemuda dan pemudi Indonesia bisa kita jadikan ajang untuk men-challenge diri sendiri dengan ikut serta dalam menjaga keindahan alam Indonesia. Caranya gimana?? Yaaa cukup dengan hal kecil dulu lah, misal sampah bekas makanan bisa kita masukan kedalam saku sampai kita menemukan tempat sampah atau biasakan bawa botol minum sendiri untuk mengurangi pemakaian botol plastik sekali pakai. Tanpa kita sadari, hal kecil yang kita lakukan bisa berdampak besar untuk diri sendiri bahkan lingkungan sekitar kita.
Read More
Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts