BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Saturday, August 27, 2016

PANGGUNG SANDIWARA

"Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah”
“Setiap kita dapat satu peranan, yang harus kita mainkan. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara???”

Sepenggal lirik dari lagu almarhuma Nike Ardilla sepertinya mewakili keseharian kita sebagai manusia

Pilih peranmu dan mainkan. Entah itu peran wajar atau hanya pura-pura
Tak hanya peran yang dapat kau pilih tapi teman mainpun dapat kau tentukan
Layaknya pementasan, ada awal ada akhirnya, ada teriakan ada sorakan penonton

Pilihlah Peranmu!! Pilih sandiwara mana yang akan kau mainkan!!
Bisakah kau tebak seberapa banyak orang disekitarmu yang memilih peran wajar? Dan seberapa banyak yang memilih peran berpura-pura?

Tidakkah sering kita dapati hal serupa ini? Dilingkungan kerja? Dilingkungan rumah? Bahkan dilingkungan keluarga sendiri?

Dalam sebuah chat “Kau bisa saja menulis HAHAHA tanpa TERTAWA. Sama halnya kau bisa saja menulis I LOVE YOU tanpa CINTA” Nah itu!!

“Saat seseorang bisa bercerita tentang orang lain kepadamu berarti dia juga bisa bercerita mengenai dirimu kepada orang lain (terlepas itu hal baik atau buruk)” Nah itu!!

“Saat seseorang bisa menjatuhkan orang lain tak menutup kemungkinan bisa menjatuhkanmu juga” Nah itu!!

Menyalahkan orang lain layaknya hobi? ADA

Mencari berita tentang orang lain sudah jadi kebiasaan? ADA

Mengomentari orang sudah jadi makanan tiap hari? ADA BANGET

Meraup keuntungan jadi keharusan? ADA

Kembali lagi Pilih Peranmu!!

Dunia jadi panggungnya, manusia jadi pemainnya, Tuhan penulis skenarionya


Egha Lestari
Jumat, 26 Agustus 2016
Read More

Thursday, August 25, 2016

RINJANI MY FIRST 7SUMMIT Part 2


Lanjut dari cerita sebelumnya Part 1


8 JAM NANJAK TANPA BONUS!! BUKIT PENYESALAN!! Mamposss..

Sebaris kalimat diatas sudah menggambarkan perjalanan hari kedua kami. Tapi mengenai keindahan alamnya bisa dilihat dari gambar-gambar dibawah. Balance lah. Ada rasa sakit ada keindahan *kayak kehidupan ya.... etdaaaaaaahhhh* #tepokjidat
Pemandangannya kayak shooting film apa gitu

Mpik: Gha foto yuk.. etdaaaaaah dia tidur
Bukit Penyesalan tampak dari atas dan dari bawah
Bukit terakir sebelum Pelawangan
PELAWANGAN.. Semacam miniatur surga

Tiba-tiba langkah saya terhenti. Ya Allah ini apa???????? Inikah ciptaanMu?? Inikah keindahanMu?? Inikah hasil karyaMu?? Gak usah dijelasin, pokoknya kalian harus kesiniiiii.

Mungkin ini yang sering dibilang orang-orang Sepotong Surga Yang Jatuh Ke Bumi
Kalo pemandangan dibelakang seperti surga berarti saya bidadarinya donk xixixixi
Dibalik keindahan Rinjani ada sampah yang berserakan
Selepas sholat magrib langit masih sangat terang. Bukan hanya saya namun pendaki lain tak ada yang berdiam didalam tenda, semua sedang menikmati keindahan di Pelawangan. Dari Pelawangan sudah terlihat puncak Rinjani. Puncak yang dini hari nanti akan kami daki. Perlahan matahari meredupkan sinarnya berganti dengan terang bulan. Keindahan hari itu masih belum berakhir. Tengok depan samar-samar awan masih terlihat, tengok atas taburan bintang berkolaborasi dengan terang bulan. Entah saya yang beruntung atau doa lagi manjur, Rinjani lagi indah-indahnya.
Matahari belum pulang tapi bulan udah nongol. Mungkin bulannya lagi kangen sama matahari


Kalau bukan karena perkara mau muncak malamnya mungkin saya akan menghabiskan malam dengan semua keindahan ini. Tak apalah kami memang harus menyiapkan tenaga untuk menyambut keindahan di puncak.

Namun sayang sungguh sayang. Keindahan Rinjani harus dirusak oleh banyaknya sampah yang berserakan. INILAH KELAKUAN PENDAKI GAGAL MOVE ON, GAK BISA NINGGALIN KENANGAN DAN MASA LALU MALAH NINGGALIN SAMPAH. Tiba2 teringat video Riani Jangkaru “Mantan aja dibalikin ke orang tuanya masa sampah masih dibuang sembarangan” #intermezo 

Pukul 01.00 dini hari, dingin merasuk ke tulang, menembus sudut dasar lubuk hati yang paling dalam hahaha. Diluar tenda sudah ramai dengan pendaki lain yang juga bersiap-siap menuju puncak *nanjak maksudnya bukan menuju puncaknya AFI*. Suhu dingin yang nyaris 0 derajat, kencangnya angin, oksigen yang semakin menipis, dan jalan menanjak semua itu harus kami lewati. Jalan 2 langkah merosot 1 langkah, nangis gak tuh.

JALANI, RASAKAN, & NIKMATI.. Trududududuuu

Tapi rasanya pemandangan malam itu tak bisa saya lupakan. Pemandangan yang tidak setiap hari bisa saya nikmati, tampak Danau Segara Anak bersinar akibat pantulan cahaya bulan yang menggantung diatasnya. Entah sudah berapa banyak rasa syukur yang saya ucapkan dalam hati.
Swing swing, sesekali kami harus berlindung di bebatuan karena hembusan angin yang begitu kencang. Tapi perjalanan tetap harus kami lanjutkan hingga puncak. Masih dengan jalan 2 langkah merosot 1 langkah, Hu.. ha.. hu.. ha.. nafas yang sudah tidak beraturan. Pokoknya gitu aja terus sampe puncak.

PUNCAAAAAAAAAAKKKKK....

“Mpiiiikkk kita nyampe puncak” sambil menyalami teman daki saya dilanjut saling bersalaman dengan bg Jo dan saudaranya. Pukul 05.30 segera saya dan fikri melaksanakan sholat subuh. Di setiap sujud, disetiap itu pula air mata saya mengalir. Di ketinggian ini saya berasa dekat denganMu Ya Allah.
Bukan cuma di Jonas atau Papyrus, di puncak Rinjani pun orang antri buat foto

Haiiii...... Saya di puncak Rinajni!!
Tangan berasa kaku saking dinginnya, meler tak henti-hentinya, matahari udah nongol aja masih dingin, sayapun tak langsung mengambil gambar tapi hanya bisa duduk menikmati semua keindahan dan berkah ini sembari menunggu tangan lumayan lemas saking kakunya karena dingin.
Puncak dan baper memang 2 hal yang tak terpisahkan
Gak tau deh kelanjutan yang di tulisan ini gimana, tunggu undangan aja dah
3726mdpl DONE!!
Ini 2 teman papua yang saya temui di Rinjani, bg Jo dan saudaranya
Tersadar bahwa sudah pukul 07.00, kami pun harus bergegas untuk turun. Lagi lagi diperjalanan menuju Plawangan suguhan keindahan yang tak habis-habisnya. Segala rasa sakit dan lelah benar-benar terbayarkan di pendakian ini.
Naiknya PR, turunnya PR
Harusnya ada 1 lokasi lagi yang tak kalah indahnya, yaitu Danau Segara Anak. Tapi karena kondisi saya yang sudah sangat tidak memungkinkan untuk kesana dan untungnya Fikri ngerti dengan kondisi saya maka kami memutuskan untuk tidak kesana dan turun menuju Sembalun. Itulah seni mendaki, saling mengerti, saling peduli satu sama lain.

Betis yang kedat kedut, pegal, keram disana sini menemani proses perjalanan turun saya. Di perjalanan pulang kami memilih untuk kembali menginap di pos 3 karena kondisi saya yang memang sudah kehabisan tenaga *jompo bet lu Gha*
Capek dan lelah tak jadi penghalang untuk tetap berfoto
Bapak porter yang banyak membantu kami selama pendakian di Rinjani
Singkat cerita, basecamp Sembalun. Bayar porter dan mengucapkan salam perpisahan dengan bapak porternya. Muka cemong, baju celana sepatu penuh debu, kami pun melanjutkan perjalanan ke Mataram. 

Karena jadwal pesawat kami keesokan harinya artinya kami masih punya waktu semalam untuk menikmati lombok. Tapi niat untuk jalan-jalan udah abis. Aseli pegel. Surga bet liat kasur.

Tak ada drama ketinggalan pesawat atau bagasi hilang, alhamdulillah kami sampai selamat di Jakarta dengan segudang kebahagiaan, cerita dan tentunya foto-foto kece yang siap diposting di social media *tetep ya buakakakakak*

Hmm... Saya bisa bilang kalo naik gunung itu Nanjaknya Capek Turunnya Sakit Tapi Nagih *hayolooooh*.
RINJANI AKU JATUH CINTA
Tapi saya masih punya utang, yaitu Danau Sagara Anak.
Tak Akan Lari Gunung Dikejar, Di Pendakian Selanjutnya Akan Terbayar. Oke, nextnya saya harus ke Sagara Anak *titik*


Egha Lestari
Rabu, 24 Agustus 2016

-more information-
Pesawat Jakarta-Lombok PP : Rp. 1.500.000 (Lion Air) per org
Transportasi Mataram-Sembalun : Rp. 400.000 (mobil avanza)
Penginapan + mobil pick up menuju pintu masuk Rinjani : Rp. 150.000
Porter : Rp. 200.000 per hari
Penginapan di Mataram : Rp. 100.000 per malam
Read More

RINJANI MY FIRST 7SUMMIT Part 1

Setelah kami berpisah, 3 teman saya yang lain yaitu Melfi, Ade, dan Imada harus menerima kenyataan bahwa besok mereka sudah harus bertemu kembali dengan meja kantor sedangkan saya dan Mpik dengan bangganya bisa teriak LET’S BEGIN RINJANIIIIIII. Liburan belum berakhir liburan belum berakhir liburan belum berakhir.

[cerita ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya, yang penasaran selama 5 hari sebelum ke Rinjani saya udah kemana aja, monggo di klik Part 1 dan Part 2] *gayamu Gha sok ngartis bet*

Yang sebelumnya transportasi, makan, hingga penginapan tinggal terima beres duduk cantik sekarang mesti ngurusin sendiri dan nyari yang paling murah malah *jomplang bet yak*. Hidup memang gak selalu diatas, kadang dibawah kadang dibawah banget hahaha.

Bermodalkan mbah google akhirnya kami menemukan mobil yang bisa kami sewa menuju Basecamp Sembalun. Tarif sewanya 400rb sekali jalan *mehong cyin* tapi karena kami tak ada pilihan lain lagi, dari semua nomor sewa mobil yang kami telpon itulah yang paling murah. Perjalanan yang harus ditempuh menuju Sembalun memang lumayan jauh, sekitar 4 jam dengan track yang berkelok-kelok kiri kanan jurang. Asli tracknya meregang nyawa.

Untuk pendakian Rinjani ini saya menggunakan jasa porter. Memang saya harus merogoh lebih banyak biaya untuk menyewa jasa porter tapi banyak keuntungan yang dirasakan dengan menggunakan jasa porter. Apalagi untuk saya yang memang tidak memiliki stamina macam pendaki lainnya *saya mah apa cuma serpihan astor*. Pokoknya enaknya pake porter, udah ada yang mendirikan tenda, ada yang masakin, ada yang buatin api unggun kalo dingin, logistik+tenda+minum juga ada yang bawain. Kita tinggal terima beres ajalah. Untuk jasa porter di Rinjani 200rb per hari dengan maksimal beban 20-25kg per 1 porter untuk pendaki domestik. Untuk pendaki asing jauh lebih mahal.

Karena saat itu perjalanan menuju desa Sembalun adalah malam hari jadi pemandangan sekitar desa belum terlihat hanya hawa dingin yang sudah mulai terasa menusuk kulit. Malam itu kami menginap di rumah salah satu warga yang memang biasa dijadikan basecamp untuk para pendaki. Pendakian  akan dilakukan esok hari setelah sarapan. Malamnya kami packing kembali barang-barang yang akan dibawa dan beberapa barang yang sekiranya tidak diperlukan di Rinjani kami titipkan dirumah bapak porter. Malam itu saya benar-benar memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Mengingat track pendakian Rinjani akan sangat menguras stamina, tenaga, dan hati pastinya.
Di teras rumah warga yang menjadi basecamp para pendaki
Gunung sekelas Rinjani aja harganya masih segini, Papandayan *ah sudahlah*
Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali *akhirnya saya tau lagu ini penggunaannya dimana*. Berdiri tepat didepan pintu gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Taman Nasional Gunung Rinjani membuat perasaan saya saat itu campur aduk *macam es campur yang ada nangkanya ada jellynya ada sagu mutiaranya ada cincaunya* tapi banyakan senengnya sih.
Baru sadar kalo pas berangkat cerah pulangnya mendung
Awal pendakian bonus dimana-mana alias track landai sangat memanjakan langkah kaki. Savana luas terbentang, perpaduan warna hijau dan kuning pada tumbuhan, ditambah dengan birunya langit. Ini bukan indah tapi INDAAAAAAH BANGEEEEEEEET.
Udah muka saya gak usah dikomen, perhatiin pemandangan yang dibelakang aja
Mpik si bos property lagi nikmatin hidup banget kayaknya :P
Nikmatin pemandangannya dulu bro. jarang2 nemu beginian
pucuk pucuk pucuk... menuju puncak
Tak ada pundak untuk bersandar, maka pohon pun jadi
Track dari pos 1 sampai pos 3 masih kategori tracknya egha lah alias track hore nan landai. Nah track menyiksa dari pos 3 sampai pelawangan (kalau ke puncak gak usah ditanya lagi, bukan nyiksa lagi tapi nyiksa banget). “Hari ini kita ngecamp di pos 3 aja, biar istirahatnya banyak dan besok baru lanjut perjalanan sampai Pelawangan” Pak Porter memberikan masukan kepada kami. Kami yang memang sama skali tidak tahu menahu mengenai track Rinjani ini langsung meng-iya-kan. Lagian spot di pos 3 ini lumayan kece untuk bisa menghasilkan foto-foto kece. Di pos 3 ini saya dan Fikri berkenalan dengan pendaki lain yang berasal dari Papua, kami memanggilnya Bg Jo. Mereka juga berdua dengan sodaranya mendaki Rinjani. Tapi bedanya Bg Jo gak pake porter, gak manja kayak kami hhehhee. Inilah indahnya pendakian, semua yang digunung bisa jadi teman.
Spot yang bisa didapetin di Pos 3 (Mpik-Egha-bg Jo)
Malam bertabur bintang menjadi pelengkap kebahagiaan saya hari itu. Entah kenapa melihat malam bertabur bintang memberikan kebahagiaan dihati. Puas menatap keindahan taburan bintang dan perut sudah pun sudah terisi kami memilih untuk melanjutkan menatap bintang-bintang di alam mimpi alias tidur karena perjalanan besok akan jauh berbeda dengan hari ini. Salonpas tempel sana tempel sini, oles counterpain, jaket, syal, sleeping bag, sarung tangan, dan terlelap.
Ini bukan kameranya yang miring tapi tracknya emang miring *inspirasi rumah miring di dufan tuh dari sini*
 
Lanjut Part 2
Read More

Monday, August 22, 2016

LOMBOK DENGAN PESONANYA Part 2

Lanjut dari cerita sebelumnya "LOMBOK DENGAN PESONANYA Part 1"

Macam lagunya “Raisa-Kedua Kali” lagi lagi dan lagi mata saya terbelalak dengan keindahan Air Terjun depan mata untuk kedua kalinya. Tiu Kelep, air terjun yang tingginya lebih tinggi dari Sendang Gile, sekitar 45 meter dari dasar sungai dan bertingkat-tingkat. Terjunan airnya cukup deras dan besar dengan kolam yang terbentuk dibawahnya. Tak pikir panjang byuuuurrrr... merasakan kesejukan air dari ujung kaki sampai ubun-ubun dengan kejernihan air yang menembus sampai kedasar. Aaakkkk Indonesia indah sekali, tempat ini seperti potongan surga yang jatuh ke bumi. Tapi saran saya jika kalian tidak terlalu pandai berenang jangan main sampai ke tengah cukup di pinggir saja. Karena saya dan 3 orang teman lainnya sempat terseret hampir ke tengah terbawa oleh derasnya air, untung saja ada wisatawan asing yang membantu kami kembali ke pinggir sungai. Asli panik bin deg-degan.

Ini penampakan air terjun Tiu Kelep *lihat air terjunnya bukan 2 teteh dibelakang*
Sebelum meninggalkan desa Senaru kami bersantap dulu di Pondok Senaru (tempat makan yang berada di pintu masuk menuju Air Terjun) sembari menikmati suguhan pemandangan hutan lindung yang lebat, serta tebing-tebing yang mengelillingi lokasi Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep. Selain itu, dari kejauhan juga sudah tampak puncak Rinjani. Itu puncak yang akan saya capai. Puncak yang akan memberikan lelah, menambah cerita, dan melengkapi kebahagiaan saya di Lombok.

P.E.T.J.A.H
  Perjalanan berakhir?? Tentunya TIDAK. Selepas bersantap dan berganti baju kering kami melanjutkan perjalanan menuju Teluk Nara. Tau kami akan kemana??? Yap benar Gili Trawangaaaaaaan, salah satu tempat hitz di Lombok yang sering di share orang-orang di instagram. Ada 2 pilihan kapal untuk penyebrangan ke Gili Trawangan, ada kapal cepat dan lambat. Yang cepat hanya butuh 15 menit menggunakan speedboat, sedangkan yang lambat butuh waktu 45 menit. Harganyapun jauh berbeda *enak aja mau cepet tapi murah, ada harga ada kenyamanan*. Dan kami memilih yang cepat. Indahnya matahari terbenam menemani penyebrangan menuju Gili Trawangan. Terombang ambing diatas laut selama 15 menit menambah rasa bahagia saya untuk segera menikmati malam di Gili.

Welcome to Gili Trawangan
 Kali ini bukan hanya macam Miley Cyrus, Demi Lovato, dan Adam Levine yang saya temui tapi ada yang macam Michael Scofield, Jason Mraz, Zayn Malik dan Norah Jones. Villa Ombak jadi tempat penginapan kami selama berada di Gili Trawangan. Selepas sholat magrib, dan rebahan bentar rasanya tak mau berlama-lama menghabiskan waktu di kamar kami pun bersiap untuk menikmati malam di Gili. Kali ini saya berdoa semoga cerah, berbeda dengan malam-malam minggu kalau lagi gak kemana-mana berdoa semoga hujan buahahahhaaa *kalo yang ini becanda, saya gak sejahat dan semiris itu*. Dekorasi seisi pulau penuh dengan warna Merah Putih menambah rasa bahagia saya, kebetulan saat itu adalah bulan Agustus.
Alunan musik country, suara desir ombak, semilir angin pantai yang hangat, hidangan makanan laut, dan teman-teman yang koplaknya parah benar-benar menjadikan malam di Gili semakin sempurna.  Sempat berjalan-jalan sebentar, cegrak cegrek, tengak tengok bule, dan kami memutuskan untuk kembali ke penginapan karena esok hari kami akan penuh dengan kegiatan menguras energi dengan bermain basah-basahan.
Makan malam bernuansa merah putih
Sunday morning, cuaca lagi bersahabat banget. Air laut layaknya cermin saking jernihnya, terlihat ikan-ikan dan terumbu karang dari atas kapal, bahkan sempat ngeliat orang lagi diving. Udah ah gak tahan saya byurrrrrr iyyaak asin air laut nyungsep ke tenggorokan. Subhanallah indahnya. Pemandangan bawah laut di Gili benar-benar memanjakan mata saya. Saat berkunjung ke Gili Trawangan ada 2 gili lainnya yang wajib dikunjungi yaitu Gili Air dan Gili Meno, rugi kalau gak. Bawah laut juga punya kehidupan sama halnya manusia. mereka hidup dan bernafas, mereka juga makhluk Tuhan yang perlu kita jaga dengan cara tidak menyentuh terumbu karang atau mengusik tempat tinggal ikan2. Apalagi sampai meninggalkan sampah dilaut plisss JANGAAAAN. Kalau kita senang dengan tempat bersih begitupun dengan mereka.

Kecantikan bawah lautnya jangan dibandingkan sama Egha, kalah cantik lah
Nuansa Merah Putih di Gili Trawangan
Karena hari ini temanya memang Basah-Basahan selepas bermain di 3 gili kami kembali ke daratan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan kemudian sorenya bersepeda ria ke Ombak Sunset (salah satu spot hits di Gili Trawangan). Beneran deh di spot di ombak sunset ini tuh hmm.... romantis. Oiya untuk mencapai spot ini kami menyewa sepeda 15 apa 20rban ya, lupa, karena jaraknya memang lumayan jauh dari penginapan kami. Lagi-lagi lombok menyuguhkan pesonanya. Tak perlu photografer handal atau kamera belasan juta untuk bisa menanghasilkan gambar super kece karena spot yang memang sangat menawan.

Sumpah ini bukan foto dari Google, ini asli dari hapenya Mpik
Gimana kece kan spotnya. Boong kalo gak
Perlahan menyaksikan matahari mulai meninggalkan singgasananya kembali ke peraduannya, membuat saya mengucapkan “subhanallah, subhanallah, subhanallah”. Indah sekali ya Allah. Kau mengijinkan saya menyaksikan salah satu hasil karya terbaikMu. Bertambah rasa syukurku padaMu ya Allah. “Kalau bisa next trip saya request yang macam begini ya Allah” doa saya dalam hati (doa yang ngelunjak) hahaha. Pulangnya kami memutuskan untuk bersepeda mengelilingi pulau Gili Trawangan dan alhasil butuh waktu 2 jam untuk bisa sampai ke penginapan. Sepedaan 2 jam, berasa betis kedat kedut *balsem mana balsem*.

Apakah perjalanan sudah berakhir?? Lagi lagi saya harus bilang TIDAAAKKK *senyum sinis*. Kami kembali menyebrangi lautan dengan speedboat dan sampai di Teluk Nara, Pak Alexandro sudah menunggu masih dengan stylenya saat pertama kali bertemu, baju kemeja panjang rapi, sepatu kinclong, dan rambut klimis. Kali ini bukan hanya mengantar kami ke tempat wisata namun beliau juga mengantar kami untuk menyicipi makanan khas lombok namanya Nasi Balap Puyung. Berbeda dengan teman-teman saya yang lain, saya tak sedikit pun menikmatinya pedessss. Tapi bagi kalian yang suka sambel boleh nyoba nih, katanya sih mantap.

Mungkin neneknya terinspirasi dari foto Nyonya Menir
Lombok tak hanya terkenal dengan pesona alamnya namun keindahan budayanya pun masih terjaga. Kami mengunjungi desa Sade Lombok untuk melihat langsung proses menenun dan bahkan bisa langsung mencoba menenun kain. Uniknya didesa ini perempuan yang akan menikah sangat diwajibkan untuk bisa menenun. Makanya keahlian menenun sudah sangat lazim. Kami juga mencoba baju khas dan berfoto. Saya memang selalu tertarik untuk mengenakan pakaian adat yang ada di indonesia. 

Kan udah mau nikah jadi harus bisa menenun *terselip doa dalam candaan*
Kita juga bisa nyobain baju khas desa Sade Lombok beserta kain tenunnya
Rasanya tak habis tempat wisata yang ada di Lombok ini, kembali saya dan 4 teman lainnya menuju wisata alam lainnya yaitu Tanjung Aan. Pindah dari keindahan yang satu ke keindahan yang lainnya. Mungkin itulah kalimat yang mewakili perasaan saya selama 5 hari berada di lombok ditambah besok saya akan ke melanjutkan perjalani Rinjani menikmati keindahan lain yang dimiliki Lombok. Asli ini namanya bahagia gak ada habisnya. Karena itu adalah hari terakhir di Lombok (tidak untuk saya dan mpik) maka sepulang dari Tanjung Aan kami meyempatkan untuk membeli ole2.

Tanjung Aan
Sssssssssstttt jangan berisik lagi semedi
Dan tibalah hari dimana kami harus terpisah menjadi 2 rombongan. Ade, Melfi, dan Imada mengakhiri liburan mereka sedangkan saya dan Mpik yang rasanya seperti terlahir kembali, seolah baru memulai liburan. Salam perpisahan dan beberapa nasehat dari teman-teman saya sebelum berpisah. “Mpik, are you ready??????” kata saya ke Fikri layaknya para pejuang yang akan berjuang ke medan perang *ending yang lebay*
Suasana sekitar Holiday Resort Lombok
Sayonaraaaa~~~~~
To Be Continued "RINJANI MY FIRST 7 SUMMIT"
Read More

LOMBOK DENGAN PESONANYA Part 1

Berawal dari tujuh personil Laboratorium Sistem Komunikasi Serat Optik yang sedang merencanakan untuk liburan bareng, mereka adalah Nata, Ade, Melfi, Fikri, Tami, Ima, dan Saya sendiri. Ide ini muncul saat Tami yang sebentar lagi akan mengakhiri masa lajangnya. “Yuk jalan-jalan yuk sebelum Tami nikah. Kalau udah nikah pasti bakal susah jalannya” cetus salah satu teman di group wa Optik SKSO 2008 *lupa siapa yang ngomong waktu itu. “yuk yuk yuk” satu per satu personil muncul memberikan tanggapan positif *yaiyalah pada setuju, jalan-jalan gitu loh*.

Setelah perundingan panjang diputuskanlah tempat liburannya LOMBOK tanggalnya 21-25 AGUSTUS 2015 dan detail biaya menyusul. “Lombok hmmmm Rinjani hmmm. Bisa nih” saya dan mpik yang ternyata punya pemikiran yang sama *oiya mpik itu adalah fikri, fikri itu adalah mpik*. “Kalau ke Rinjani artinya saya harus nambah cuti 3 hari” pikir saya dalam hati. Wadduh ngajuin cuti seminggu, mau koprol 7 kali keliling kantor juga gak akan di-approve karena kebetulan saat itu memang lagi ada deadline sehingga muncullah ide busuk lain, cuti + ijin sakit hmmm.. sangat menggiurkan *akhirnya pada tau kan kalau saya bukan pegawai teladan* hahahaha. Tapi ide busuk tersebut saya urungkan dan digantikan dengan kongkalikong antara saya dan rekan kerja. Untung saja PM (Project Manager) saya ini ngerti kalau konsultannya yang satu ini emang banci jalan-jalan parah. “Bay, ntar gue mau cuti 3 hari trus 2 hari gue ijin remote, kan konsultan boleh remote. Boleh donk plissss gue udah beli tiket ke Lombok nih” sambil masang muka melas. “Yaudah deh Gha, asal sebelum berangkat kerjaan 80% kelar” meng-iya-kan permintaan saya sambil geleng-geleng kepala *lebih kepasrah sih kayaknya*. HORAAAAAYYYYYY hari itu berasa kesambet dewa fortuna *ntah ini dewa apa asal nyebut aja* permintaan saya di approve.

Tapi drama belum berakhir, semakin mendekati hari keberangkatan ada aja tambahan kerjaan, ada aja error di program, ada aja jadwal meeting. Kembali saya menggunakan taktik yang tingkat keberhasilannya selalu nyaris sempurna “NIPU ALAM BAWAH SADAR”. Setiap hari sebelum tidur saya selalu memikirkan sudah berada di Lombok, di Rinjani bahkan sampai terbawa mimpi. Saya gambarkan semua itu dengan jelas di pikiran saya, suasana di Lombok, hingga pakaian yang saya kenakan. Terdengar useless memang, tapi mungkin sangat sedikit orang yang percaya bahwa alam bawah alam sadar manusia sebenarnya tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan. sehingga dengan menipu alam bawah sadar dengan terus membayangkan sesuatu yang kita pengen maka percaya gak percaya akan terjadi. Pernah ngalamin kan pengen sesuatutrus dipikirin trus menerus sampai suatu ketika kalian akan berkata “astaga gak pernah nyangka bisa ngedapetinnya” yak itulah peranan alam bawah sadar yang berkonspirasai dengan alam semesta. Kalian bisa baca buku “THE SECRET” untuk lebih detailnya. Tapi kembali lagi semua itu atas izin Allah SWT.

Segala drama telah terlewati, barang sudah dipacking untuk trip 10 hari (kebayanglah trip 10 hari tengan tujuan pantai, gunung, air terjun. Ntah ini keril apa kulkas). Ngabarin orang tua udah, ngabarin adik2 udah, ngabarin ibu dan bapak kosan udah, ngabarin kamu belom alias gak punya jadi siapa yang mau dikabarin buakakakaaak. Perjalanan sekitar 2  jam Jakarta – Lombok saya lewati dengan tidoooorrrr ZZzzzzZZ. Karena saat itu perjalanannya di malam hari jadi tak banyak yang bisa saya lihat selain gelapnya malam dan lampu kerlap kerlip *alesan doank sih, siang atau malem tetep aja molor*. Oiya rencana liburan yang tadinya ber-7 tapi kenyataan yang jadi berangkat hanya 5 orang. Tami yang sebulan lagi akan menikah sudah tak mendapat ijin dari orang tua, dan Nata yang tiba-tiba ada training ke luar negeri dari kantornya. Dari dulu masih jaman jadi Asisten Lab kami emang gak pernah utuh kalau ada jalan-jalan.

Foto atas Bandara International Soekarno Hatta. Foto bawah Bandara International Lombok
Di bandara lombok sudah ada bapak guide sebut saja Pak Alexandro (saya lupa nama bapakenya) yang menyambut kami dengan memberikan syal dengan corak khas lombok, mengantarkan kami langsung ke penginapan Holiday Resort Lombok. Penginapan yang kami pesan saat itu berbentuk semacam bungalow, dimana ada 2 kamar tidur, dapur, ruang tengah untuk bersantai, dan teras kecil. Tempatnya sangat saya rekomendasikan untuk keluarga yang mau berlibur. Mungkin next saya kesini lagi bersama suami dan anak-anak *Ya Allah dengarkan doaku ya Allah*

Pemandangan depan kamar sekitar Holday Resort Lombok
  Keesokan harinya setelah sarapan kami bertemu dengan Pak Alexandro yang sudah berdiri didepan mobil dengan pakaian yang rapi, sepatu kinclong, rambut klimis sambil menyapa kami “Selamat pagi, silahkan masuk ke mobil”. “Mas Mba, tujuan kita sekarang adalah Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep yang terletak di desa Senaru. Perjalanannya pun akan memakan waktu sekitar 4 jam. Jadi bisa skalian beristirahat” celetuk Pak Alexandro memecah kecerian wefie kami dibelakang. “Tenang Pak gak disuruh tidur pun mata saya akan automatis menutup sendiri” bisik saya dalam hati. Tapi karena pemandangan sepanjang jalan yang lebih menggoda ketimbang keindahan di alam mimpi membuat saya memilih melek daripada tidur. Hingga akhirnya 1 jam berlalu jalan yang kami tempuh sudah mulai berkelok-kelok, yang udah macam perjalanan hidup, kiri kanan kalau gak hutan ya jurang oke sudah waktunya ambil posisi dan tidur. 
 
Ekspresi bahagianya gak bisa disembunyikan lagi
Sesampai didesa Senaru, sudah ada beberapa mamang-mamang eh bli ding *lupa kalo ini Lombok bukan Bandung* yang dimana mereka adalah guide yang memang biasa mengantar wisatawan lokal dan asing menuju lokasi air terjun. Sebelum melanjutkan perjalanan kami mengisi kampung tengah terlebih dahulu agar supaya kuat selama perjalanan dan gak baper *mashaAllah gak nyambung Eghaaa*. Seperti biasa sebelum berkegiatan outdoor, oles-oles sunblock dulu dan pake kacamata biar kece. Oiya sunblock bukan hanya gaya-gayaan biar gak item tapi sebenarnya untuk kesehatan kulit supaya sinar matahari tidak langsung bersentuhan dengan kulit kita. Lagian yang namanya kegiatan outdoor gak akan terhindari dari kulit yang menghitam mau sampai mandi sunblock sekalipun bakal tetep jadi ambon manise. Jadi gak usah gengsi apalagi buat cowok-cowok, kalian gak akan seketika jadi banci atau homo hanya dengan make sunblock.

Keindahan yang dimiliki Lombok memang berhasil mengundang banyak wisatawan asing. Tak jarang beberapa kali saya bertemu macam Miley Cyrus, Taylor Swift, Adam Levine, Demi Lovato, Shane Fillan, Mark Feehily sepanjang perjalanan. Setelah 15 menit penjelajahan dengan melewati banyak anak tangga (mungkin ada ratusan), jembatan berlubang, dan lembah-lembah sontak membuat mata saya benar-benar dibuat terbelalak dengan keindahan yang ada depan mata. Ini dia Air Terjun Sendang Gile yang menjadi tujuan pertama kami dengan ketinggian 600 meter di atas permukaan laut dan memiliki tinggi kurang lebih 31 meter dari dasar sungai. Air terjun ini masih berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani dan juga merupakan pintu masuk pendakian menuju Gunung Rinjani. Selain itu airnya pun berasal dari mata air di Gunung Rinjani yang sangat sejuk dan alami. Kalian harus kesana, rasakan sendiri sensasi sejuk dan indahnya. 

SKSO Laboratory 08 ONFIREEEE!!!!
  Penjelajahan tak berhenti sampai disini, perjalanan berlanjut ke air terjun Tiu Kelep yang membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapainya. Perjalanan tak jauh beda dengan sebelumnya, kembali kami harus menempuh tangga yang curam dan melewati sungai yang cukup dangkal. Walaupun dangkal harus tetap berhati-hati karena batu-batu untuk berpijak sangat licin. Sangat disarankan untuk menggunakan sepatu sport atau sendal tracking, ingat jangan menggunakan sendal/sepatu teplek, terutama  heels kalau gak mau nyesel *yakali Gha make heels, org juga mikir kali*. Selain itu sarana saya gunakan guide untuk mencapai lokasi air terjun, selain mencegah agar kalian tidak tersesat  dan itung-itung bagi rejeki ke mereka karena guide merupakan salah satu mata pencahariaan warga disini. Kalian juga bisa bertanya mengenai sejarah tempat wisata alam yang ada disana atau menanyakan informasi lainnya *asal jangan nanya, ntr jodoh saya siapa ya. yakin dan percaya abangnya gak bisa jawab* skalian bisa diminta tolong buat fotoin hahaha.

Medan yang kami lewati menuju air terjun
Read More
Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts