BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Saturday, August 13, 2016

MERBABU MERINDU Part 2

Lanjut dari cerita sebelumnya
Singkat cerita, pos 3. Sudah banyak pendaki lain yang mendirikan tenda. Dan langit pun sudah gelap. Tadinya kami berencana untuk istirahat sebentar, makan dan melanjutkan perjalanan ke Sabana 2, tempat camp yang paling dekat puncak. Hanya saja, perjalanan merbabu ini bukan individu tapi team. Perlu memperhitungkan kondisi teman-teman yang lain juga dan jujur saya sendiri juga maunya ngecamp di pos 3 saja. Sesuai dengan hasil rembukan Rahman, Hafizh dan Fuad dan sharing dengan teman2 yang lain kami memutuskan untuk ngecamp di pos 3, jam 1 dini hari kita lanjutkan perjalanan ke puncak tanpa membawa keril (gileee track sebegitu miring bawa keril, bisa keguling kebelakang #rada #lebay).

Malam masih panjang, sebelum tidur saya masih punya waktu untuk menikmati malam indah dibawah taburan bintang Merbabu. Seruput kopi jahe, berdiri menghadap kota dengan pemandangan kerlap-kerlip lampu. Yessss egha baper :(((((((((((( Indah banget Ya Allaaaaaahh. *$#($^@#IDHWIRH*#(@(#@)HE()@(#% ya itulah isi hati saya hahahahaha*
Ini loh bintang-bintang yang buat saya baper gak ketulungan
Karena kami memutuskan untuk menginap di pos 3, kami membagi 2 kelompok. Ada yang mendirikan tenda, ada yang masak. Gak butuh semaleman juga sih tenda dan masakan sudah siap. 4 tenda yang saling berhadapan satu sama lain sudah berdiri kokoh. Tapi sedikit cerita berbeda kami yang didapur. Inilah masakan istimewa hasil karya anak bangsa: telur dadar, ikan sarden, ikan teri, kerupuk kepiting, dan nasi kriuk2. Mungkin kalian tidak akan mau tau siapa yang masak nasi kriuk-kriuknya *siap-siap ditimpuk nesting sama Hafizh*. Namanya lapar hajar aja yang ada didepan mata dan tetep enak kok.

TIDUUURRR TIDUUUR... ntar malem mau nanjak

Rasanya baru tidur sebentar sudah harus melek lagi. Tapi demi puncak yang bahagia, sayapun memaksakan diri keluar dari sleeping bag yang hangat. Brrrrrr.... dingin bo’. Sebelum melakukan perjalanan kami kembali memanjatkan doa semoga kami semua diberi kekuatan, keselamatan, dan kesehatan.

Jalan menanjak, menanjak, dan menanjak. Nyaris saja, gak kebayang kalau semalam kami nekat melanjutkan perjalanan mungkin akan ada yang cedera selama perjalanan. Kami merasa telah mengambil keputusan yang bijak untuk mendirikan tenda di pos 3 (oiya dari rombongan kami ada yang namanya Bijak loh, bukan nama samaran apalagi nama alay) 

Inilah pendakian yang sebenarnya. Sakitnya di kaki, nyeseknya dihati, basahnya di pipi. Eh ini beneran loh apalagi untuk saya yang memang tidak memiliki stamina yang cukup kuat ditambah dengan berat badan, beban hidup *kurang berat apalagi coba*. Oiya untuk kalian yang mau melakukan pendakian sangat penting melakukan latihan fisik, bisa jogging atau berenang atau olahraga apapun itu (asal jangan olahraga catur). 

Penting banget untuk persiapan sebelum pendakian. 1 hal lagi, setiap kali kalian melakukan pendakian, pastikan ada teman yang bisa kalian percaya, apalagi jika kalian memiliki penyakit yang ada kemungkinan kambuh saat di gunung.

Sedikit cerita dengan pengalaman saya. Setiap saya naik gunung pasti ada 1 orang yang bisa saya percaya, yang tau kondisi saya. Gak perlu merasa malu dengan kondisi diri sendiri, apalagi malu jika punya penyakit (dikira bisa langsung manggil ambulanca pas sakit di gunung).

Mungkin karena kurang olahraga, seminggu sebelum ke merbabu hampir lembur tiap hari tidur jam 2, kurang tidur, dan tiba-tiba “aduh kok sakit ya”. Beberapa langkah masih bisa nahan. Tanjakan terakhir sebelum puncak “man.. man sesak man” saya mulai berbisik ke Rahman. “udah Gha istirahat dulu aja, jalannya pelan aja” kata rahman yang tampaknya sudah mulai khawatir. “iya Man, pelan aja ya” kata saya sambil megang dada nahan rasa sakit. Ingus yang udah daritadi ngucur karena kedinginan makin nambah deras bersama dengan keluarnya air mata. Kalau bukan karena niat yang kuat pengen nyampe puncak mungkin saya sudah menyerah. Tapi saya salut dengan Rahman, saya tau dia panik tapi dia masih bisa memberi saya semangat untuk sampai puncak.

Singkat cerita lagi, PUNCAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK

MashaAllah.. bisa sampai juga saya.

Langsung saja saya dan teman-teman yang lain saling bersalaman dan memberi selamat, seakan kami telah mendapat reward tapi ini benar-benar reward hasil dari kerja keras kami melewati penanjakan demi penanjakan. Garis merah tampak indah seolah membelah langit menjadi dua. Awan tipis2 menggantung didepan mata menjadi pemandangan yang tak ingin kami tinggalkan. Samar2 dari kejauhan tampak gunung merapi yang berdiri kokoh.

Salah satu hal yang sangat istimewa dalam hidup saya tiap naik gunung adalah melaksanakan sholat subuh di puncak. Karena disaat itulah saya merasa begitu dekat dengan sang pencipta. Berada diketinggian sekian ribu diatas permukaan laut, bersujud, berbisik kebumi, didengar oleh langit.
Terima kasih Merbabu suguhan keindahanmu tak akan kami lupakan
Karena kami mengejar jadwal kereta, setelah puas berfoto-foto cantik (gak puas juga sih sebenarnya) kami pun memutuskan untuk turun. Selama perjalanan turun tentunya kami kembali disuguhkan dengan keindahan yang lagi lagi dan lagi menimbulkan decak kagum. Hari itu kami benar2 berjodoh dengan merbabu. Tak ada kabut, tak ada hujan, bahkan gerimispun tak ada. Cerah secerah-cerahnya. Tuhan begitu menyuguhkan keindahannya kepada kami.
Ini bukan shooting film Meteor Garden loh ya tapi kami sedang menikmati keindahan track menuju puncak semalam yang tentunya bikin jiperrr
Hingga akhirnya kami sampai kembali ke basecamp dengan selamat dan sehat. Kami pun mulai melakukan bersih-besih diri (maksudnya mandi dan buang air ya), berganti pakaian bersih, dan membawa pulang rasa senang dan rindu.
Inilah kami yang Tuhan telah berikan kesehatan dan kekuatan untuk menikmati keindahan ciptaanNya - Merbabu-
 
Merbabu,
Kau berhasil menanamkan rasa rindu
Merbabu,
Kau tercatat sebagai momen berkesan dalam salah satu perjalananku
Merbabu,
Kau berhasil  menggoreskan momen indah dalam hidupku
Merbabu,
Bukan hanya sekedar perjalanan alam, tapi perjalanan hati lebih tepatnya


Egha Lestari
Jumat, 12 Agustus 2016

More Information:
Kereta Jakarta - Semarang via Ps. Senen : Rp. 120.000 per org
Mobil Elf Semarang - Selo PP : Rp. 1.300.000  untuk 15 org
Simaksi : Rp. 250.000 untuk 15 org
Kereta Jogja - Jakarta : Rp. 230.000 per org

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts