BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Wednesday, August 17, 2016

PAPANDAYAN LAGI MALES MAIN



Papandayan, gunung dengan track paling hore dengan view yang bikin greget. Untuk pendakian kali ini kalimat itu hanya sebatas dimulut saja. Pendakian papandayan kali ini diluar harapan. Angin kencang, gerimis yang awetnya tak seawet hubungan kita (plis Gha masih awal jangan baper dulu), dan kabut tebal membuat jarak pandang hanya 2-3 meter membuat kami tidak bisa menikmati keindahan Papandayan yang eksotis.

Sesampai di terminal Guntur hujan rintik-rintik sudah menyambut kedatangan kami. Pukul 04.30 “Guntur.. Guntur.. Terminal.. Terminal” teriak kernek bus. Setengah tersadar sambil kucek-kucek mata saya dan ke-5 teman lainnya mulai bersiap untuk turun. Perjalanan sekitar 4-5 jam dari Jakarta ke Garut dengan kondisi bus yang mengharuskan saya untuk menekuk lutut selama perjalanan, membuat saya butuh waktu beberapa detik untuk bisa berdiri normal.

Tas dan keril kami sudah diturunkan dari bus. Kamipun melipir berteduh di warung yang ada dekat terminal. Seperti biasa ketika saya melihat warung makanan, perut langsung otomatis mendeteksi bau makanan. Dan teman saya yang namanya Hafizh menghampiri sembari berkata “Gha itu ayam gorengnya kayaknya enak deh” ckck duo jumbo ini memang pro banget kalau masalah makanan.

Untuk bisa sampai ke Camp David, spot awal sebelum para pendaki memulai pendakian, perlu menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dengan dua kali mengganti kendaraan. Dari terminal Guntur seperti yang sudah-sudah saya menyewa angkutan warna putih biru (mau dibilang angkot bukan, mau dibilang elf bukan, mau dibilang mini bus juga bukan. Pokoknya muat 15 orang dalam mobil) jurusan Garut-Cikajang dengan tarif 20.000 per orang, itupun hasil tawar menawar. Padahal dulu harganya cuma 10.000, mungkin ini dampak karena Gunung Papandayan sudah dikelola oleh Perusahaan Swasta. Saya juga tidak tau nama perusahaannya, informasi dari warga disana pengelolanya sama dengan pengelola Tangkuban Parahu. Bukan hanya sewa mobil yang mahal, tiket masuk Papandayan pun ikut-ikutan mahal. Yang dulunya hanya 15.000-20.000 sekarang menjadi 65.000 (30.000 untuk tiket masuk, 35.000 untuk biaya camping).

Oke lanjut, ada sedikit drama selama perjalanan Garut-Cikajang. Mulai dari keril saya yang jatuh dari mobil, mobil yang bensinnya habis, sampai supir yang ngangguk-ngangguk sambil nyetir alias mengantuk. Sesampai di Cikajang, kami memutuskan untuk mencari warung makan yang skalian bisa kami tempati untuk melaksanakan sholat subuh. Ingat ya guys, mau lagi ngetrip kemanapun jangan sampai lupa untuk beribadah. Karena keselamatan, kesehatan, dan kekuatan hanya milik Allah SWT. Perjalanan dilanjutkan dengan menyewa mobil pick up menuju Camp David dengan tarif 150.000 untuk 6 orang
Background kabut tebal dengan jarak pandang hanya beberapa meter saja
Kami ketemu dedek kecil yang mau nanjak ke Papandayan juga

Kami juga ketemu oma2 umur 64 tahun. Salut dengan semangat oma ini *fighting*
Sekitar pukul 09.30 kami memutuskan untuk memulai pendakian. Angin, gerimis, dan kabut masih setia menemani perjalanan kami, alhasil view menawan Papandayan tak bisa kami nikmati. Kami selalu berharap kondisi cuaca seperti ini segera berakhir digantikan dengan matahari yang bersinar terang *gpp deh item kena matahari yang penting dapat view kece* tapi kali ini Papandayan menyembunyikan pesonanya. Tak apalah keceriaan dan kegembiraan masih bisa kita ciptakan bersama. Kalimat Bukan Kemananya Tapi Sama Siapanya” pun saya jadikan pedoman hahaha.
Masih dengan background kabut tebal
Sesekali hujan, sesekali berenti, sesekali cegrak cegrek ambil foto, sesekali mampir warung makan gorengan *ketahuilah gorengan disini asli uwenaaak bener*. Oiya, di Papandayan sudah banyak warung yang menyediakan makanan dengan harga yang bersahabat. Ada gorengan, nasi goreng, mie rebus, mie goreng, cilok, nasi putih dan makanan lainnya. Bahkan sudah ada toilet umumnya. Jadi buat kalian yang mau ke Papandayan gak usah susah-susah bawa logistik yang banyak apalagi membawa kenangan masa lalu beserta antek-anteknya HAHAHA. Cukup bawa tenda, perlengkapan pribadi sama persediaan uang. Sekitar pukul 13.00 kami tiba di Pondok Saladah , tanpa membuang waktu banyak 2 teman saya Hafizh dan Fuad mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Tenda sudah jadi, barang sudah dipacking, trus ngapain kita? Masak.
Masakan mevvah digunung versi EghaLestari :D
Hasil pertolongan pertama saya dengan skill pas-pasan
Langit mulai gelap, namun tak ada tanda-tanda kabut dan gerimis akan hilang. Malam itu ada sedikit tragedi. Sepulang dari toilet *gak usah heran, di Papandayan sudah ada toilet umumnya* Saya, Hafiz, Quro, dan Nofa berjalan menuju tenda. Dan tiba-tiba gedebak gedebuk gubrak !!!! “eh liat berdarah gak?” terdengar suara Hafizh yang masih dalam posisi duduk depan tenda. Posisi saya saat itu sekitar 1 meter dibelakang Hafizh. Didalam tenda Om Anca dan Fuad sudah siap dengan kotak obat yang saya bawa. Saya masuk dengan penasaran campur deg-degan. Terlihat luka sobek dengan darah disekitar luka dibagian dagu bawah sebelah kiri. Saya yang sejujurnya takut melihat luka tapi ketika dihadapkan dengan situasi semacam ini entah keberanian itu datang dari mana. Dengan skill pas-pasan tanpa background dokter saya mencoba memberikan pertolongan pertama. Dari situ saya berpikir pentingnya untuk mempelajari cara-cara memberikan pertolongan pertama untuk kecelakan atau kejadian yang mungkin terjadi saat digunung beserta perintilan-perintilannya, bukan cuma mempersiapkan fisik diri sendiri saja.
Kabut, gerimis, dan tentunya dingiiiiiin menemani malam di Papandayan. Pukul 04.30 pagi “Gha kenapa? Dingin?” Suara Hafizh samar-samar terdengar ditelinga saya. Mungkin karena mendengar saya yang sesekali menarik nafas berat karena dinginnya. “Iya Fiz” kata saya dengan masih sembunyi dibawah sleeping bag. “Keluar yuk, nyari yang anget-anget sambil nunggu subuhan” mengajak saya keluar tenda. Buset saya yang udah kedinginan begini masih diajak keluar. Tapi mungkin ada benarnya juga, diluar sana pasti ada yang menyalakan api unggun di warung. Dengan perasaan yang malas luar biasa, sedikit demi sedikit membuka tenda dan brrrrrr semburan hawa dingin masuk sampai ketulang-tulang *rasanya pengen teriak, mamaaaaaa pengen pulang*.

Segera kami mencari warung yang ada api unggunnya dan memesan minuman untuk menghangatkan badan. Di warung akang-akang di Papandayan seperti biasa pasti bertemu dengan pendaki lain yang juga sedang menghangatkan badan dan tentunya akan saling menanyakan pertanyaan pembuka “Darimana kang?” tanya Hafizh. Salah satu pendaki menjawab “Dari Padang”. Emm,,, jauh-jauh ke Papandayan eh malah Padang xixixixi. “Dari Padang banget apa orang Padang yang tinggal di Jakarta” lanjut saya bertanya saking keponya hahaa. “Gak tinggal di Jakarta tapi dari Padang” jawab si abang itu datar. Kesimpulan dari hasil obrolan kami adalah si abang itu dari Padang sendiri ke Jakarta dalam waktu seminggu udah ndaki 4 GUNUNG (Cikuray, Ciremai, Salak, dan Papandayan). Dan emejingnya lagi sebelum ke Jakarta si abang itu udah mendaki Kerinci lanjut Dempo. Hal emejing yang lain si abang itu kemana-mana tidak menggunakan pesawat macam pendaki-pendaki elit. Tapi nyetop truk atau mobil yang bisa ditumpangi. Gilaaa low cost banget, asli bacpakeran. Dalam hati “ini orang apa dewa sih, dalam waktu sebulan bisa daki beberapa gunung dengan track yang tentunya bikin meringis. “Ilmu Rahman kalah telak nih, lagi ngejar setoran apa yak” Lanjut saya dalam hati. Saya saja yang baru pulang dari Merbabu trus 2 minggu kemudian naik Papandayan aja pulang-pulang meler, mampet. Lah si abang ini apa kabar yang mendaki 4 gunung dalam seminggu. Mungkin kalau abang itu baca tulisan ini, entah dia akan merasa bangga atau kesal karena sudah menjadi salah satu topik di blog saya. Maapin Egha ya Abang Uda. Udah ngobrol banyak dan ternyata saya lupa nanya namanya makanya saya sebut saja dia Abang Uda (lah abang ama uda sama aja Egha -_-)

Pagi menyambut tapi matahari masih tak menampakkan dirinya karena tertutup kabut yang masih menebal. Sepertinya kali ini kami tidak diijinkan untuk menikmati keindahan si cantik Edelweis di Tegal Alun. Bahkan ke Hutan Mati pun tidak kami lakukan. Untuk saya yang sudah pernah kesini mungkin tidak terlalu menggebu-gebu tapi teman-teman yang baru pertama kali pasti ada rasa kecewa.Tapi apa daya kami memilih aman dan selamat daripada memaksakan diri ke Tegal Alun atau Hutan Mati hanya untuk sebuah foto. Anggap saja ini pertanda bahwa kami harus kesini lagi disaat cuaca sedang cerah.

Bongkar tenda, packing, berdoa, dan perjalanan turunpun masih ditemani dengan angin, gerimis, dan kabut. Inilah resiko bermain di alam bebas. Alam bebas dengan kondisi yang unpredictable dan penuh dengan kejutan, kita manusia layaknya tamu harus selalu siap menerima apapun yang alam bebas suguhkan.
Tetep ya sebelum bongkar tenda eksis dulu mereka
Ini bukan jemuran apalagi jualan keril
Disetiap pendakian, di tempat yang sama, dengan orang yang berbeda tentunya dengan cerita berbeda. Untuk perjalanan kali ini mungkin bukan view atau spot-spot yang eksotis yang saya dapatkan tapi banyak pelajaran lain yang saya dapatkan, salah satunya saya perlu belajar bagaimana cara memberikan pertolongan pertama terhadap luka *bukan luka hati loh ya* atau mungkin saya perlu belajar bagaimana menghadapi pasien hipotermia dan untuk saya pribadi ada “hal lain” yang saya dapatkan yang hanya saya dan Tuhan yang tahu.
Tak ada Hutan Mati, hutan sekitar Pondok Saladah pun jadi *dimirip-miripkeun*
Papandayan tunggu kami dipendakian selanjutnya. Besar harapan kami untuk bisa menikmati kembali pesona keindahanmu yang eksotis nan menawan.
View Papandayan yang saat itu sempat cerah
 

Egha Lestari
Selasa, 16 Agustus 2016 (my birthday)


-More Information-
Bus Jakarta-Garut via Kp. Rambutan : Rp. 52.000 per org
Angkot putih biru Garut-Cikajang : Rp. 20.000 per org
Mobil Pick Up Cikajang-Camp David : Rp. 25.000 per org
Simaksi : Rp. 65.000 per org (30.000 biaya masuk, 35.000 biaya camping)
Avanza Camp David-Terminal : Rp. 25.000 per org
Bus Garut-Jakarta turun Cililitan : Rp. 52.000

3 comments:

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts