BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Thursday, August 25, 2016

RINJANI MY FIRST 7SUMMIT Part 1

Setelah kami berpisah, 3 teman saya yang lain yaitu Melfi, Ade, dan Imada harus menerima kenyataan bahwa besok mereka sudah harus bertemu kembali dengan meja kantor sedangkan saya dan Mpik dengan bangganya bisa teriak LET’S BEGIN RINJANIIIIIII. Liburan belum berakhir liburan belum berakhir liburan belum berakhir.

[cerita ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya, yang penasaran selama 5 hari sebelum ke Rinjani saya udah kemana aja, monggo di klik Part 1 dan Part 2] *gayamu Gha sok ngartis bet*

Yang sebelumnya transportasi, makan, hingga penginapan tinggal terima beres duduk cantik sekarang mesti ngurusin sendiri dan nyari yang paling murah malah *jomplang bet yak*. Hidup memang gak selalu diatas, kadang dibawah kadang dibawah banget hahaha.

Bermodalkan mbah google akhirnya kami menemukan mobil yang bisa kami sewa menuju Basecamp Sembalun. Tarif sewanya 400rb sekali jalan *mehong cyin* tapi karena kami tak ada pilihan lain lagi, dari semua nomor sewa mobil yang kami telpon itulah yang paling murah. Perjalanan yang harus ditempuh menuju Sembalun memang lumayan jauh, sekitar 4 jam dengan track yang berkelok-kelok kiri kanan jurang. Asli tracknya meregang nyawa.

Untuk pendakian Rinjani ini saya menggunakan jasa porter. Memang saya harus merogoh lebih banyak biaya untuk menyewa jasa porter tapi banyak keuntungan yang dirasakan dengan menggunakan jasa porter. Apalagi untuk saya yang memang tidak memiliki stamina macam pendaki lainnya *saya mah apa cuma serpihan astor*. Pokoknya enaknya pake porter, udah ada yang mendirikan tenda, ada yang masakin, ada yang buatin api unggun kalo dingin, logistik+tenda+minum juga ada yang bawain. Kita tinggal terima beres ajalah. Untuk jasa porter di Rinjani 200rb per hari dengan maksimal beban 20-25kg per 1 porter untuk pendaki domestik. Untuk pendaki asing jauh lebih mahal.

Karena saat itu perjalanan menuju desa Sembalun adalah malam hari jadi pemandangan sekitar desa belum terlihat hanya hawa dingin yang sudah mulai terasa menusuk kulit. Malam itu kami menginap di rumah salah satu warga yang memang biasa dijadikan basecamp untuk para pendaki. Pendakian  akan dilakukan esok hari setelah sarapan. Malamnya kami packing kembali barang-barang yang akan dibawa dan beberapa barang yang sekiranya tidak diperlukan di Rinjani kami titipkan dirumah bapak porter. Malam itu saya benar-benar memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Mengingat track pendakian Rinjani akan sangat menguras stamina, tenaga, dan hati pastinya.
Di teras rumah warga yang menjadi basecamp para pendaki
Gunung sekelas Rinjani aja harganya masih segini, Papandayan *ah sudahlah*
Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali *akhirnya saya tau lagu ini penggunaannya dimana*. Berdiri tepat didepan pintu gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Taman Nasional Gunung Rinjani membuat perasaan saya saat itu campur aduk *macam es campur yang ada nangkanya ada jellynya ada sagu mutiaranya ada cincaunya* tapi banyakan senengnya sih.
Baru sadar kalo pas berangkat cerah pulangnya mendung
Awal pendakian bonus dimana-mana alias track landai sangat memanjakan langkah kaki. Savana luas terbentang, perpaduan warna hijau dan kuning pada tumbuhan, ditambah dengan birunya langit. Ini bukan indah tapi INDAAAAAAH BANGEEEEEEEET.
Udah muka saya gak usah dikomen, perhatiin pemandangan yang dibelakang aja
Mpik si bos property lagi nikmatin hidup banget kayaknya :P
Nikmatin pemandangannya dulu bro. jarang2 nemu beginian
pucuk pucuk pucuk... menuju puncak
Tak ada pundak untuk bersandar, maka pohon pun jadi
Track dari pos 1 sampai pos 3 masih kategori tracknya egha lah alias track hore nan landai. Nah track menyiksa dari pos 3 sampai pelawangan (kalau ke puncak gak usah ditanya lagi, bukan nyiksa lagi tapi nyiksa banget). “Hari ini kita ngecamp di pos 3 aja, biar istirahatnya banyak dan besok baru lanjut perjalanan sampai Pelawangan” Pak Porter memberikan masukan kepada kami. Kami yang memang sama skali tidak tahu menahu mengenai track Rinjani ini langsung meng-iya-kan. Lagian spot di pos 3 ini lumayan kece untuk bisa menghasilkan foto-foto kece. Di pos 3 ini saya dan Fikri berkenalan dengan pendaki lain yang berasal dari Papua, kami memanggilnya Bg Jo. Mereka juga berdua dengan sodaranya mendaki Rinjani. Tapi bedanya Bg Jo gak pake porter, gak manja kayak kami hhehhee. Inilah indahnya pendakian, semua yang digunung bisa jadi teman.
Spot yang bisa didapetin di Pos 3 (Mpik-Egha-bg Jo)
Malam bertabur bintang menjadi pelengkap kebahagiaan saya hari itu. Entah kenapa melihat malam bertabur bintang memberikan kebahagiaan dihati. Puas menatap keindahan taburan bintang dan perut sudah pun sudah terisi kami memilih untuk melanjutkan menatap bintang-bintang di alam mimpi alias tidur karena perjalanan besok akan jauh berbeda dengan hari ini. Salonpas tempel sana tempel sini, oles counterpain, jaket, syal, sleeping bag, sarung tangan, dan terlelap.
Ini bukan kameranya yang miring tapi tracknya emang miring *inspirasi rumah miring di dufan tuh dari sini*
 
Lanjut Part 2

2 comments:

  1. " Tak ada pundak untuk bersandar, maka pohon pun jadi" tetep ya :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. saat itu cuma pohon yang bisa mengerti lelahku buakakakak :D

      Delete

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts