BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Thursday, August 25, 2016

RINJANI MY FIRST 7SUMMIT Part 2


Lanjut dari cerita sebelumnya Part 1


8 JAM NANJAK TANPA BONUS!! BUKIT PENYESALAN!! Mamposss..

Sebaris kalimat diatas sudah menggambarkan perjalanan hari kedua kami. Tapi mengenai keindahan alamnya bisa dilihat dari gambar-gambar dibawah. Balance lah. Ada rasa sakit ada keindahan *kayak kehidupan ya.... etdaaaaaaahhhh* #tepokjidat
Pemandangannya kayak shooting film apa gitu

Mpik: Gha foto yuk.. etdaaaaaah dia tidur
Bukit Penyesalan tampak dari atas dan dari bawah
Bukit terakir sebelum Pelawangan
PELAWANGAN.. Semacam miniatur surga

Tiba-tiba langkah saya terhenti. Ya Allah ini apa???????? Inikah ciptaanMu?? Inikah keindahanMu?? Inikah hasil karyaMu?? Gak usah dijelasin, pokoknya kalian harus kesiniiiii.

Mungkin ini yang sering dibilang orang-orang Sepotong Surga Yang Jatuh Ke Bumi
Kalo pemandangan dibelakang seperti surga berarti saya bidadarinya donk xixixixi
Dibalik keindahan Rinjani ada sampah yang berserakan
Selepas sholat magrib langit masih sangat terang. Bukan hanya saya namun pendaki lain tak ada yang berdiam didalam tenda, semua sedang menikmati keindahan di Pelawangan. Dari Pelawangan sudah terlihat puncak Rinjani. Puncak yang dini hari nanti akan kami daki. Perlahan matahari meredupkan sinarnya berganti dengan terang bulan. Keindahan hari itu masih belum berakhir. Tengok depan samar-samar awan masih terlihat, tengok atas taburan bintang berkolaborasi dengan terang bulan. Entah saya yang beruntung atau doa lagi manjur, Rinjani lagi indah-indahnya.
Matahari belum pulang tapi bulan udah nongol. Mungkin bulannya lagi kangen sama matahari


Kalau bukan karena perkara mau muncak malamnya mungkin saya akan menghabiskan malam dengan semua keindahan ini. Tak apalah kami memang harus menyiapkan tenaga untuk menyambut keindahan di puncak.

Namun sayang sungguh sayang. Keindahan Rinjani harus dirusak oleh banyaknya sampah yang berserakan. INILAH KELAKUAN PENDAKI GAGAL MOVE ON, GAK BISA NINGGALIN KENANGAN DAN MASA LALU MALAH NINGGALIN SAMPAH. Tiba2 teringat video Riani Jangkaru “Mantan aja dibalikin ke orang tuanya masa sampah masih dibuang sembarangan” #intermezo 

Pukul 01.00 dini hari, dingin merasuk ke tulang, menembus sudut dasar lubuk hati yang paling dalam hahaha. Diluar tenda sudah ramai dengan pendaki lain yang juga bersiap-siap menuju puncak *nanjak maksudnya bukan menuju puncaknya AFI*. Suhu dingin yang nyaris 0 derajat, kencangnya angin, oksigen yang semakin menipis, dan jalan menanjak semua itu harus kami lewati. Jalan 2 langkah merosot 1 langkah, nangis gak tuh.

JALANI, RASAKAN, & NIKMATI.. Trududududuuu

Tapi rasanya pemandangan malam itu tak bisa saya lupakan. Pemandangan yang tidak setiap hari bisa saya nikmati, tampak Danau Segara Anak bersinar akibat pantulan cahaya bulan yang menggantung diatasnya. Entah sudah berapa banyak rasa syukur yang saya ucapkan dalam hati.
Swing swing, sesekali kami harus berlindung di bebatuan karena hembusan angin yang begitu kencang. Tapi perjalanan tetap harus kami lanjutkan hingga puncak. Masih dengan jalan 2 langkah merosot 1 langkah, Hu.. ha.. hu.. ha.. nafas yang sudah tidak beraturan. Pokoknya gitu aja terus sampe puncak.

PUNCAAAAAAAAAAKKKKK....

“Mpiiiikkk kita nyampe puncak” sambil menyalami teman daki saya dilanjut saling bersalaman dengan bg Jo dan saudaranya. Pukul 05.30 segera saya dan fikri melaksanakan sholat subuh. Di setiap sujud, disetiap itu pula air mata saya mengalir. Di ketinggian ini saya berasa dekat denganMu Ya Allah.
Bukan cuma di Jonas atau Papyrus, di puncak Rinjani pun orang antri buat foto

Haiiii...... Saya di puncak Rinajni!!
Tangan berasa kaku saking dinginnya, meler tak henti-hentinya, matahari udah nongol aja masih dingin, sayapun tak langsung mengambil gambar tapi hanya bisa duduk menikmati semua keindahan dan berkah ini sembari menunggu tangan lumayan lemas saking kakunya karena dingin.
Puncak dan baper memang 2 hal yang tak terpisahkan
Gak tau deh kelanjutan yang di tulisan ini gimana, tunggu undangan aja dah
3726mdpl DONE!!
Ini 2 teman papua yang saya temui di Rinjani, bg Jo dan saudaranya
Tersadar bahwa sudah pukul 07.00, kami pun harus bergegas untuk turun. Lagi lagi diperjalanan menuju Plawangan suguhan keindahan yang tak habis-habisnya. Segala rasa sakit dan lelah benar-benar terbayarkan di pendakian ini.
Naiknya PR, turunnya PR
Harusnya ada 1 lokasi lagi yang tak kalah indahnya, yaitu Danau Segara Anak. Tapi karena kondisi saya yang sudah sangat tidak memungkinkan untuk kesana dan untungnya Fikri ngerti dengan kondisi saya maka kami memutuskan untuk tidak kesana dan turun menuju Sembalun. Itulah seni mendaki, saling mengerti, saling peduli satu sama lain.

Betis yang kedat kedut, pegal, keram disana sini menemani proses perjalanan turun saya. Di perjalanan pulang kami memilih untuk kembali menginap di pos 3 karena kondisi saya yang memang sudah kehabisan tenaga *jompo bet lu Gha*
Capek dan lelah tak jadi penghalang untuk tetap berfoto
Bapak porter yang banyak membantu kami selama pendakian di Rinjani
Singkat cerita, basecamp Sembalun. Bayar porter dan mengucapkan salam perpisahan dengan bapak porternya. Muka cemong, baju celana sepatu penuh debu, kami pun melanjutkan perjalanan ke Mataram. 

Karena jadwal pesawat kami keesokan harinya artinya kami masih punya waktu semalam untuk menikmati lombok. Tapi niat untuk jalan-jalan udah abis. Aseli pegel. Surga bet liat kasur.

Tak ada drama ketinggalan pesawat atau bagasi hilang, alhamdulillah kami sampai selamat di Jakarta dengan segudang kebahagiaan, cerita dan tentunya foto-foto kece yang siap diposting di social media *tetep ya buakakakakak*

Hmm... Saya bisa bilang kalo naik gunung itu Nanjaknya Capek Turunnya Sakit Tapi Nagih *hayolooooh*.
RINJANI AKU JATUH CINTA
Tapi saya masih punya utang, yaitu Danau Sagara Anak.
Tak Akan Lari Gunung Dikejar, Di Pendakian Selanjutnya Akan Terbayar. Oke, nextnya saya harus ke Sagara Anak *titik*


Egha Lestari
Rabu, 24 Agustus 2016

-more information-
Pesawat Jakarta-Lombok PP : Rp. 1.500.000 (Lion Air) per org
Transportasi Mataram-Sembalun : Rp. 400.000 (mobil avanza)
Penginapan + mobil pick up menuju pintu masuk Rinjani : Rp. 150.000
Porter : Rp. 200.000 per hari
Penginapan di Mataram : Rp. 100.000 per malam

2 comments:

  1. bagus banget tulisannya tentang rinjani :)
    yah saya baru ke merbabu nih, masih cupu banget..nulis juga masih acak-acak kayak gini --> https://athpoenya.wordpress.com/2016/08/05/hai-merbabu-3142-mdpl/
    manteb banget ga tulisan nya, terutama foto-fotonyaa..sumpah bikin IRI !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisanmu gak kalah bagusnya kok fiz. Banyak terinspirasi aku.
      Nulis lagi fiz, yang dieng belum tuh

      Delete

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts