BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Monday, November 28, 2016

MENCICIPI KEINDAHAN SUMATERA BARAT BARENG SAHABAT

Yang namanya dadakan persentase mengecewakannya lebih rendah ketimbang yang terencana. Dan benar saja seminggu sebelumnya sudah merencanakan untuk berkunjung ke Bukittinggi namun GATOT!! GAGAL TOTAL!! Semua rencana gagal, mood berantakan, pikiran awut-awutan. Hemmmmm. 

Namun kemudian datanglah hari berkunjung ke Bukittinggi-Padang dan sekitarnya pun terjadi. Setelah benar-benar duduk diatas mobil travel yang melaju dari Pekanbaru ke Bukittinggi menandakan rencana kali ini benar-benar akan terjadi. Ihhiiiiiyyy happy nya. Oiya buat kalian yang akan melakukan perjalanan dari Pekanbaru ke Bukittinggi siap-siap dengan kondisi jalurnya yang berkelok-kelok dengan jarak tempuh sekitar 5 jam an lah. Dari Bukittinggi ke Padang sekitar 2 jam. Jadi yang punya penyakit mabuk darat jangan sampai absen antimonya.

Sate Padang dgn tingkat kenikmatan 99%
Sesampai di Bukittinggi hawa sejuk menyambut. Bukittinggi memang terkenal sebagai sebuah kota dataran tinggi dengan kontur alam yang berbukit-bukit. Terang saja kota ini memiliki hawa dengan udara yang sejuk. Dari Bukittinggi pun kita sudah bisa menikmati tampilan Gunung Singgalang dan Gunung Marapi yang menjulang kokoh dengan jarak pandang yang terlihat cukup dekat. Terlihat dekat tapi sebenarnya jauh sama kayak jauh dihati dekat di hati eh kebalik ya hahaha *eyyaaa gak jauh2 dari baper*

Tadinya sok-sok gak mau makan malam tapi aroma dan tampilan Sate Padang yang sungguh indah tak sanggup menahan nafsu ingin melahapnya. Dan beuuuhhh the best taste of Sate Padang ever belum pernah nemu Sate Padang seenak ini sebelumnya. Kuah kental yang berasa Padang sesungguhnya, dan dagingnya yang empuk ditambah kerupuk kerenyes2 waahh petjah. Kalian harus nyobain *titik*

 

JAM GADANG 

Setelah makan kami (Saya, Ima, Rahman, dan Bg Indra) menyempatkan untuk ke Jam Gadang sebelum balik ke penginapan. Jam Gadang merupakan simbol atau ikon dari Kota Bukittinggi, rasanya tak lengkap jika ke kota ini tapi tidak berkunjung ke Jam Gadang. Ternyata tampilannya memang sefenomenal namanya. Di malam hari tampak lampu warna warni menambahan keindahan objek wisata satu ini. Puas berfoto-foto kamipun kembali ke penginapan, berisitirahat mempersiapkan esok hari untuk trip di beberapa lokasi.
Dalam kondisi lelah sekalipun selalu ada semangat untuk berfoto
Walaupun semalam kami sudah mengunjungi wisata Jam Gadang, namun kami tak melewatkan untuk melihat wisata fenomenal satu ini di siang hari *Yaa mumpung lagi di Bukittinggi*. Mau objek wisata yang sama tetap aja, jeprat-jepret tak terhindarkan *pada banci kamera sih*
Inilah kami para banci kamera
Istana Bung Hatta yang berada tepat didepan Jam Gadang
NGARAI SIANOK 

Dari hasil searching di Google, ada wisata alam milik Bukittinggi yang akan membuat mata membelalak. Ngarai Sianok, melihat wujud indahnya dari mbah Google pikirku wisata alam ini berada berkilo-kilo meter dari Kota Bukittinggi. Siapa sangka jaraknya hanya 10 menit dari Jam Gadang *eng ing eng*. Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak diperbatasan kota Bukittinggi, di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ngarai Sianok yang dalam jurangnya sekitar 100m, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (sumber wikipedia).
View Ngarai Sianok
Dan benar saja, pemandangan yang tampak didepan mata saat itu beneran bikin gak bisa mingkem. Indaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh. Bisa menikmati keindahan seperti ini tanpa harus treking berkeringat itu woooow. 1 2 3 cegrak 4 5 6 cegrek *terus aja itung ampe 100 :)))))*. Pemandangan ini memang benar-benar hasil pahatan Tuhan yang tak tertandingi indahnya. Dari atas terlihat lekukan-lekukan hasil patahan yang membentuk dinding bukit yang seolah-seolah sedang berbaris. Dibawah terlihat sungai yang berkelok-kelok diantara dinding bukit yang curam menambah hiasan indah objek wisata alam yang satu ini. Manusia mana yang bisa menyamai keindahan seperti ini.

LOBANG JEPANG (GOA JEPANG)

Masih di area Ngarai Sianok. Tak jauh dari itu ada wisata lain yang bisa menambah list trip saya untuk weekend kali ini yaitu Lobang Jepang. Beralih dari wisata alam ke wisata sejarah. Seperti kata Presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno, “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah
Tepat didepan saya sudah ada lubang berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi sekitar 2 meter yang diatasnya bertuliskan “Lobang Jepang”. “Lobang ini adalah pintu masuk Lobang atau Goa Jepang yang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara Jepang sekitar tahun 1942” jelas Uda Nanda yang merupakan tour guide kami sewaktu mulai menuruni anak tangga dari pintu masuk Goa Jepang. Uda Nanda kembali menjelaskan dengan aksen minangnya, “diperkirakan puluhan bahkan ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha  dikerahkan untuk menggali terowongan ini yang berasal dari pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Tak ada 1 tenaga kerja pun yang berasal dari Bukittinggi, hal ini dilakukan koloniel Jepang di masa itu untuk menjaga kerahasiaan proyek tersebut. Orang-orang asli Bukittinggi malah dikirim ke wilayah lain seperti Bandung”. Sebagai informasi guide di Goa Jepang sebenarnya free tapi tidak ada salahnya kita memberikan tip seikhlasnya kepada mereka, itung-itung sebagai penghargaan kepada mereka yang telah membantu dalam melestarikan bukti sejarah yang masih ada sampai sekarang.
Pintu masuk Lobang (Goa) Jepang
Uniknya, pintu masuk Goa memang berbentuk setengah lingkaran namun saat berada didalam dapat dilihat bentuk Goa berbentuk kotak. Kalau dari penjelasan si Uda, model seperti ini sengaja dirancang agar Goa ini terlihat kecil dari luar namun ternyata memiliki space yang lebar didalamnya.

Kondisi didalam Goa
Didalam Goa terdapat banyak ruangan-ruangan, ruang amunisi, barak militer, ruang rapat, ruang makan, dapur, pintu penyergapan, dan penjara. Pada saat Goa Jepang pertama kali ditemukan banyak ditemukan bambu yang merupakan tempat tidur para tentara Jepang. Namun karena kondisi bambu yang sudah lapuk sehingga warga sekitar membuang bambu tersebut. Sembari menceritakan sejarah Goa Jepang, saya, Ima, dan Rahman sibuk mengambil gambar sambil beraharap dalam hati tidak ada gambar-gambar aneh yang terekam dikamera masing-masing *khan ngeri bo’*

Keunikan lain yang saya temui didalam Goa ini, ada sebuah lorong yang kata Uda Nanda merupakan lorong yang digunakan tentara Jepang untuk mengumpulkan tentara lainnya jika ingin mengadakan rapat. Pimpinan mereka cukup berteriak di lorong tersebut dan akan terdengar ke segala penjuru Goa. Lorong tersebut sengaja dibuat sedemikian rupa agar suara bisa bergema *Lorong Toa nama lorong versi Egha hihi*

Uda Nanda kembali menjelaskan bahwa posisi kita saat ini berada di bawah Kota Bukittinggi, jadi diatas kita sedang berlangsung aktifitas harian warga kota Bukittinggi dan jika kita terus berjalan menyusuri lorong-lorong Goa maka kita bisa saja sampai ke Istana Bung Hatta yang berada didepan Jam Gadang. Tapi jalan menuju kesana sudah ditutup oleh Pemda setempat karena tidak dimungkinankan untuk pengunjung berjalan sejauh itu.

Sampailah disebuah lorong sebelah kiri, saya melihat sebuah ruangan yang gelap dan kondisinya lebih mistis dari ruangan-ruangan lain. Ruangan tersebut ditutup dengan pagar besi dan diatasnya ada tulisan PENJARA *pantesan aja tampilannya horor*.Konon ceritanya para tahanan didalam penjara tidak kadang tidak diberi makan dalam waktu yang lama dan jika ada yang meninggal mayatnya tidak dibuang melainkan hanya dibiarkan didalam penjara. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi nenek moyang kita terdahulu. Dan disebelah kanan penjara ada sebuah ruangan yang bertuliskan DAPUR dan didalamnya ada lagi sebuah ruangan yang bertuliskan PINTU PENGANTAIAN. Pikir saya dalam hati kenapa ada dapur didekat Penjara. Apa mungkin ini tempat menaruh makanan untuk para tahanan. Tak butuh waktu lama, Uda Nanda langsung menceritakan bahwa Dapur ini sebenarnya digunakan oleh tentara Jepang untuk menyiksa para tahanan. Dapur hanya sebagai kamuflase untuk melakukan pembantaian. Dinding dapur sudah ditutupi semen oleh Pemda karena aslinya di dinding dapur masih menempel bekas-bekas darah hasil penyiksaan dan pembantain. Walaupun bukti sejarah tapi rasanya tak pantas jika bekas-bekas darah tersebut menjadi bahan tontonan bagi pengunjung.

Ini yang namanya Uda Nanda
Sambil meninggalkan Dapur saya menanyakan pertanyaan yang sama skali tak ada hubungannya dengan sejarah “Uda, selama jadi guide pernah gak sih ngerasain atau sampai ngeliat hal-hal aneh?”. “Ohh sering, bukannya mau nakut-nakutin tapi pas kita turun dari pintu masuk itu sudah ada yang berdiri di tangga. Dengar suara penyiksaan juga sering. Saya kan INDIGO”. Ampun deh salah nanya kan. Seketika Ima melipir mendekati saya dan kami pun berjalan sambil rangkul-rangkulan. Untung saja didepan kami sudah ada pintu yang merupakan pintu keluar yang merupakan tanda bahwa perjalanan kami sudah akan berakhir. Dan sebelum keluar, Uda menutup ceritanya dengan menjelaskan bahwa sekarang pun ada yang sedang berjalan dibelakang kami. Mereka ingin keluar dari Goa tapi tidak bisa karena sudah beda alam *mereka dalam tanda kutip*. Ibaratnya saat kita masuk ke dalam Goa kita memasuki dunia yang berbeda. Oleh karena itu, untuk kalian yang ingin mengunjungi wisata ini jagalah omongan, jangan berbuat seenaknya, apalagi membuat keributan.
Didalam Goa saya juga sempat mendapati banyak coretan dari para pengunjung alay tak bertanggung jawab *gak digunung gak di Goa tetep aja ada coretan haddeeeeh*. Tapi untungnya didalam Goa sudah dipasangi CCTV sehingga dapat dipantau segala aktifitas pengunjung di dalam Goa. Bukan hanya pengunjung tapi aktifitas guide pun dipantau. Jadi jangan sampai melewatkan wisata sejarah satu ini jika mengunjungi Bukittinggi.

NGARAI SIANOK (LAGI)

Didepan pintu keluar Bg Indra sudah menunggu kami. Masih dalam kawasan Ngarai Sianok, kami pun segera meluncur ke spot selanjutnya. Kalau tadi kami menyaksikan keindahan Ngarai Sianok dari atas sekarang kita akan kebawah, melihat keindahan lain dari Ngarai Sianok dari sisi yang berbeda.

Jalan menurun yang sedikit curam, dalam hati ini naiknya pasti PR *yelah egha kyk gak pernah naik gunung aja, tiba2 jadi manja gitu*. Lagi lagi Ngarai Sianok tidak mengecewakan kami karena dari bawah sini kami disuguhkan dengan keindahan yang tidak setiap hari bisa kami lihat di Jakarta. Siap-siap saya akan racuni kalian dengan foto.
Jangan diganggu plis, lagi anteng
Puas berfoto-foto, kami kembali ke mobil untuk menuju tujuan selanjutnya. Dan benerkan butuh treking cantik pulangnya.

PUNCAK LAWANG, DANAU MANINJAU

Welcome to Puncak Lawang
Matahari belum berada tepat diatas kepala, menandakan belum tengah hari tapi kami sudah mendatangi beberapa spot karena lokasi tempat wisatanya yang memang saling berbedakatan.

Tujuan selanjutnya adalah PUNCAK LAWANG. Lagi-lagi saya menjudge, yaa namanya puncak pasti tak jauh-jauhlah dari tempat seperti puncak bogor atau lembang di Bandung. Dan untuk kesekian kalinya perkiraan saya terpatahkan. Benar-benar keindahannya diluar perkiraan.
View Danau Maninjau dari Puncak Lawang
Dari atas puncak, kami bisa dengan leluasa menikmati keindahan Danau Maninjau. Saat itu cuaca lagi cerah-cerahnya, rasanya Tuhan sedang mengijinkan kami untuk menikmati hasil lukisanNya yang tak tertandingi ini. Di air danau yang biru kita dapat melihat pantulan awan bak permen gulali, hamparan sawah berbentuk kotak-kota dengan berbagai warna, serta angin sepoi basah dengan suhu sekitar 18-20 derajat celcius.

Puncak Lawang pun dijadikan lokasi olahraga Prahlayang. Kebayangkan main parahlayang dengan view Danau Maninjau. Tapi sayang bertepatan dengan adanya event Porprov (Pekan Olah Raga Provinsi) dan pilot-pilotnya sedang mengikuti event tersebut. Yasudahlah belom rejeki main Parahlayang. Diberi tampilan seperti ini pun rasanya sudah lebih dari cukup. Berasa sedang melihat walpaper di laptop atau gambar-gambar di kalender. Kalau kata Ima ini viewnya terlalu photogenic, mau foto sambil tengkurep pun hasilnya bakal tetep kece hihi.
Sebelum meninggalkan lokasi ini kami pun menunaikan kewajiban sebagai umat muslim. Rasanya tak adil jika Tuhan memberi ijin untuk menikmati semua keindahan ini tapi kita sebagai manusia tidak meluangkan waktu untuk menyembah, bersyukur, dan menjalankan perintahnya.

Trip di Bukittinggi memang sudah berakhir tapi tidak untuk trip hari itu. Karena setelah ini kami akan mengunjungi Pantai Air Manis yang lokasinya ada di Padang. Oiya sebelumnya, bicara Danau Maninjau, pasti kita juga akan berbicara mengenai kelok 44. Kelok 44 ini adalah akses yang kita lewati dari Puncak Lawang – Danau Maninjau menuju Padang via Pariaman. Disebut kelok 44 karena jumlahnya ada 44 kelokan. Kok bisa tau jumlahnya ada 44? Karena disetiap kelokan akan dipasangi papan untuk menandakan kita sudah berada dikelokan keberapa. Jadi gak usah iseng buat ngitung jumlah keloknya. Kecuali emang penasaran benar-benar mau mastiin, bebas. Kelok 44 dimulai dari atas bukit dan mulailah jalan yang berkelok-kelok menuruni bukit hingga kelok 1 yang menandakan kita telah berada dipenghujung cinta eh kelok maksudnya. Jalur yang rawan kecelakan, jadi dibutuhkan driver yang handal dan mengerti dengan aturan yang berlaku yaitu toleransi memberi jalan bagi kendaraan yang datang dari arah yang berlawanan, terutama pada bagian kelok jalan.

PANTAI AIR MANIS

Dari Bukittinggi ke Padang membutuhkan waktu sekitar 2 jam, dan dari Padang ke Pantai Air Egha eh Manis dink :D membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Pantai Air Manis juga dikenal dengan Pantai Malin Kundang. Berbicara tentang Malin Kundang pastinya kita langsung tau mengenai cerita anak durhaka yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Mengunjungi Sumatera Barat memang tak lengkap jika tidak berkunjung ke Pantai Air Manis karena di pantai ini kita akan menemukan sebuah batu yang tampak seperti seorang laki-laki yang sedang bersujud. Disekitarnya terdapat bebatuan-bebatuan besar yang tersebar diperkirakan adalah kapal milik Malin Kundang yang juga menjadi batu. Rasanya belum habis rasa kagum dari objek wisata sebelumnya sekarang ditambah dengan objek wisata Pantai Air Manis ini. Oiya lagi lagi sebagai pengunjung kita harus tetap menjaga attitude dan sopan santun. Ceritanya ada pengunjung yang pernah kesurupan karena berdiri diatas batu Malin Kundang dan mnginjak bagian kepalanya.
Batu Malin Kundang
Kami memang tak menghabiskan waktu lama di Pantai Air Manis, setelah mengabadikan momen dengan berfoto-foto kami bergegas menuju kota Padang. Cuaca saat itu memang kurang bersahabat, mendung dan rintik-rintik gerimis manja.

Dengan kembalinya matahari ke peraduannya, menandakan berakhir pula One Day Trip kami di Sumatera Barat. Memang masih banyak tempat wisata yang dimiliki Sumatera Barat namun tempat-tempat wisata yang sudah kami datang sudah mewakili kebahagiaan kami di hari itu. Wisata bukit, wisata sejarah, wisata pantai menjadi paket komplit di trip kami. Warga Sumatera Barat patut berbangga dengan semua kekayaan yang mereka miliki. Tak perlu polesan banyak di setiap tempat wisatanya. Cukup dengan selalu menjaga kebersihan dan tidak menghilangkan/mengubah keindahan tempat wisata yang sudah ada jauh sebelum menjadi tempat wisata maka akan semakin akan menarik peminat para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Untuk kalian yang doyan travelling, Sumatera Barat sangat pas untuk dijadikan sebagai destinasi trip. Namun sebelumnya kalian perlu membuat list lokasi mana yang kalian akan kunjungi dengan memperhitungkan lokasi tempat wisata. Buatlah kumpulan tempat wisata yang saling berbedakatan. Hal ini untuk mengefisiensikan waktu kalian. Case ini untuk kalian yang akan travelling tanpa didampingi penduduk sekitar yang paham dengan lokasi-lokasi tempat wisata.

Sekali lagi mengingatkan jadilah pengunjung yang ber-atitude, pengunjung yang memiliki rasa tanggung jawab, dan smart traveler. Jangan mengotori apalagi merusak segala sesuatu yang ada di tempat-tempat wisata. Karena dimanapun kita berada, berbeda daerah, Indonesia tetap milih kita bersama. 

More Information:
Travel PKU – BUKITTINGGI: Rp. 110.000 (class ekonomi-CP: 085375378080)
Hotel di Bukittinggi: Rp. 350.000/malam (Kharisma Hotel)
Tiket Taman Panorama (Ngarai Sianok & Goa Jepang): Rp. 15.000/orang
Tip Guide Goa Jepang: Seikhlasnya
Tiket Puncak Lawang: Rp. 5.000/orang + Rp. 5.000 (parkir mobil)
Tiket Pantai Air Manis: Rp. 5.000/orang
Hotel di Padang: Rp. 520.000/malam (Ibis Hotel)
Travel PDG-PKU: Rp. 170.000 (class executive-CP: 085375378080)


3 comments:

  1. ampuuunnn ghaaa, postingannya bikin mupengg. lama banget pengen ke bukittinggi belum kesampean, semoga tahun ini bisaa :)))

    ReplyDelete
  2. hahahahaa.. semoga postinganku semakin jadi racun biar ke bukittinggi hehe
    tapi aseli kece abissss,, gue jatuh cinta sama bukittinggi

    ReplyDelete
  3. pengen banget kesana. kapan ya hahaha. ini postingan yang belum kudatangi sejak challenge terakhir. dan abis itu nggak ada challenge2 lagi. keknya pada sibuk sendiri2 nih hmm...
    btw, jangan lupa segera diposting yang Semeru. keburu kamu naik gunung lagi :p

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts