BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Saturday, November 11, 2017

SURABAYA, KOTA DENGAN SEJUTA JEJAK SEJARAH KEPAHLAWANAN

Dari sederet jejak sejarah yang tersimpan, sah-sah saja jika kota Surabaya dijuluki dengan sebutan Kota Pahlawan. Jejak sejarah yang dimiliki kota dengan lambang ikan sura/suro (ikan hiu) dan baya/boyo (buaya) membuat kota ini menjadi list wajib explore. Nama Surabaya dikenal masyarakat melalui cerita mitosnya, dimana terjadi pertempuran antara ikan hiu dan buaya dan sekaligus menjadi ikon kota Surabaya. Untuk bisa menjajaki semua cerita sejarah di kota ini memang dibutuhkan beberapa hari, tak cukup jika weekend saja. Belum lagi banyak makanan enak dan murah akan menjadi pelengkap liburan. Tapi apa boleh dikata saya hanya punya waktu 1 hari untuk bisa berkeliling di kota ini, ditemani dengan guide yang beberapa kali membuat mobil jadi berjalan mundur.

Mobil jalan mundur? Kok iso? Yuk baca lagi yuk.

#Hari Pertama
Sebenarnya saya ke Surabaya kemudian lanjut ke Malang karena ingin menghadiri acara pernikahan temen seperjalanan saat ke Semeru dan Merbabu. Bayangin saya kenal mereka belum lama, kenalnya juga karena naik gunung bareng tapi kok sudah terasa begitu akrab. Sampai dibela-belakan datang dari Jakarta untuk hadir di pernikahan mereka. Nah itulah indahnya perjalanan dalam sebuah pendakian. Orang asing bisa jadi teman, teman bisa jadi sahabat, sahabat bisa jadi saudara.

Selain menghadiri acara pernikahan, tujuan lainnya tak lain adalah untuk saling bersilaturahim bahasa lainnya sih temu kangen. Paling ke tempat makan, ngobrol ngalor ngidul, ke tempat nikahan, wefie sama penganten, mampir ke tempat ole-ole hits artis, mampir ITS buat sholat isya, ke Tunjungan Plaza buat nonton Negeri Dongeng dan tidur.

Keesokan harinya pun belum ada rencana jelas mau kemana. Tapi sayang rasanya di Surabaya, jadwal penerbangan juga malam hari, masak iyya sih seharian cuman betelor di hotel doank gak kemana-mana.

#Hari Kedua
Diawali dengan kegiatan pengisian kampung tengah menu Bebek Sinjay. Ntaaap Soul *yak mari bersama-sama membaca doa makan*. Perut kenyang, hati senang, lanjut jalan. “jadi kita kemana Fiz?”. “kemana ya Gha, kamu mau kemana?” *lah ni anak malah nanya gue*. Oiya ini dia guide yang jadi penyebab mobil jadi jalan mundur di cerita  selanjutnya. Harusnya jalan-jalannya bertiga, Saya-Rahman-Hafiz. Tapi karena Rahman ada kepentingan yang mengharuskan untuk pulang lebih awal jadinya kami keliling Surabaya tanpa Rahman, tanpa juru kuncinya Surabaya, yang udah hafal Surabaya dari A sampai Z. *udah bisa ketebak kan kenapa mobilnya bisa jalan mudur*

Tanpa tujuan yang jelas, berbekal list segambreng tempat wisata yang jadi referensi dari Google akhirnya mobil berhenti di Monkasel (Monumen Kapal Selam)

1.  MONKASEL (MONUMEN KAPAL SELAM)
Melihat kapal selam di darat saya tiba-tiba teringat PLTDA Apung yang ada di Aceh. Tapi monument kapal selam ini berada di tengah kota bukan karena sebuah bencana seperti kejadian di Aceh tapi karena memang unsur kesengajaan. Monumen ini menjadi destinasi maritime yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Surabaya. Berlokasi di Jalan Pemuda, tepat di sisi Sungai Kalimas, menjadikan monumen ini sangat mudah dijangkau untuk para wisatawan. Biaya masuk juga tidak terlalu mahal, sangat cocok jika ingin mengajak putra putri untuk berwisata sekalian mengajarkan mereka mengenai sejarah.
Monumen Kapal Selam
Capt by Me
Saat memasuki area didalam kapal selam, anda akan disambut oleh pemandu yang menggunakan seragam pelayar putih biru dongker. Setelah baca-baca dan searching di Google, Kapal selam ini merupakan kapal selam asli milik TNI Angkatan Laut tipe Whiskey Class buatan Uni Soviet tahun 1952. Memiliki nama KRI Pasoepati dengan nomor lambung 410, panjang 76,6 meter, dan lebar 6,30 meter kapal selam ini resmi dimiliki Indonesia pada 29 Januari 1962. Menjadi bagian dalam pembebasan irian Barat menjadikan kapal selam ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. (Sumber info dari sini)
Capt by Me
Didalam kapal selam terdiri dari beberapa ruangan dengan kondisi ruangan yang cukup sempit dan sesak. Saya ama hafiz aja udah cukup buat menuhin tuh kapal selam *nggak nggak ini becanda* *kita gak segede itu kok*. Ruangan pertama saat memasuki kapal selam, wisatawan akan langsung bertemu dengan torpedo yang panjang dan gedenya naudzubillah. Dan diruangan-ruangan selanjutnya akan ditemui Ruang Kerja, Ruang Batere, Ruang Komandan, Ruang Mesin Listrik, Mesin Diesel, tempat tidur kru, Ruang Makan, panel-panel dan tuas sebagai peralatan dan perlengkapan kapal selam, serta periskop yang digunakan untuk mengintai kondisi diluar kapal selam.
Terpedo Segede Gaban
Capt by Me
Ruang Terpedo Haluan
Capt by Me
Capt by Me
Capt by Ahmad Taufiqul Hafizh
Selama menyusuri ruangan-ruangan didalam kapal selam, sesekali harus mnundukkan badan. Bahkan saat ingin berpindah dari ruangan satu ke ruangan yang lain, pengunjung harus melewati lubang kecil dan sepit yang hanya muat untuk satu orang, jadi tolong ya gak usah bergandengan saat melewati lubang ini *kok nyolot sih Gha*

Ruangan terakhir yaitu buritan. Ruangan yang terdapat peralatan dan perlengkapan peluncur rudal/torpedo yang bentuk dan panjangnya sama besarnya dengan ruangan di awal.
Denah Monkasel
Capt by Me

2.  HOUSE OF SAMPOERNA
Berpindah ke museum bersejarah lainnya, yakni Museum Sampoerna atau yang lebih dikenal dengan House Of Sampoerna. Terletak di kawasan Surabaya Lama, dekat dari Jembatan Merah salah satu tempat yang penuh dengan kisah heroik arek-arek Suroboyo ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia, harusnya tidak sulit untuk lokasi musem ini. Namun apa daya takdir berkata lain.

Setelah melihat google map dan memastikan arah jalan “oke Gha deket kok ini, tinggal lurus nanti kita belok kanan trus udah gak jauh dari” *ya kurang lebih seperti itu bunyi kalimatnya*. Ngeng ngeng mobil jalan terus dan berhenti, "kenapa berhenti fiz" liat peta lagi “wah kayaknya belok kanannya kelewat, tapi muter baliknya jauh yaudah kita MUNDUR AJA” NGAHAHAHAHAHAHA.

Gedung megah bergaya kolonial Belanda, dengan 4 pilar didepan yang bentuknya seperti batang rokok merupakan tempat produksi rokok pertama Sampoerna. Saat memasuki museum akan tercium bau cengkeh dan tembakau yang memenuhi ruangan. Di lantai pertama digunakan untuk memamerkan berbagai macam peralatan yang digunakan dalam pembuatan rokok, alat pemantik rokok, alat dan bahan meracik rokok, produk-produk rokok produksi Sampoerna, baik yang dipasarkan di Indonesia maupun di luar negeri.
House Of Sampoerna
Capt by Me
Pintu Masuk House Of Sampoerna
Capt by Me
Barang-barang milik pendiri PT Sampoerna yaitu Liem Seeng Tee dan istrinya, Siem Tjieng Nio, juga ikut dipamerkan bahkan ada replika warung yang bernuansa ndeso lengkap dengan toples makanan, dan buah-buahannya yang juga merupakan milik pendiri PT Sampoerna.
Replika Warung Milik Pendiri PT Sampoerna
Capt by Me
Capt by Me
Kemudian di depan replika warung, ada tembakau dari berbagai daerah dengan aroma yang berbeda-beda pula. Tembakau-tembakau ini adalah tembakau pilihan yang diolah jadi rokok keluaran Sampoerna. Di dinding ruangan depan terpajang foto-foto keluarga serta direksi PT HM Sampoerna dari masa ke masa.
Foto Para Direksi PT Sampoerna
Capt by Me
Si Mbaknya Lagi Foto Session
Capt by Me
Di ruangan kedua setelah ruang pertama pengunjung kembali menemukan replika warung bergaya tahun 90-an sampai awal 2000-an. Ayo yang lahir tahun 90an pasti tau model warungnya.
Bahan dan Peralatan Dalam Memproduksi Rokok
Capt by Me
Mesin Cetak Yang Sebenarnya Masih Bisa Difungsikan
Capt by Me

Produk-Produk Sampoerna
Capt by Me
Beranjak ke lantai dua. Dinding-dinding menuju lantai dua dipenuhi dengan foto-foto para pekerja parik yang rata-rata adalah kaum perempuan. Selain tempat penjualan souvenir dari lantai dua terlihat juga ruangan yang cukup besar yang dulunya digunakan untuk kegiatan pelinting rokok. Ruang terbsebut masih lengkap dengan peralatan dan dan kursi-kursinya (kurang pekerjanya aja sih). Mungkin dulu saat masih ada kegiatan pelinting rokok, pengunjung masih bisa melihat kegiatan tersebut. Di lantai dua ada peringatan untuk pengujung untuk tidak mengambil foto. Jadi tidak ada gambar yang bisa saya tampilkan. Mianhaeeeee oppaaa unniiii..
House Of Sampoerna Map
Capt by Ahmad Taufiqul Hafizh
Spot di Sebelah Museum Yang Sungguh Instagramable
Capt by Me

3.  MASJID MUHAMMAD CHENG HO
Waktu menunjukkan telah masuk waktu sholat ashar. Teringet salah satu tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah di kota ini, Masjid Muhammad Cheng Ho. Oke kita kesana.

Masjid yang terletak di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya, tidak jauh dari Gedung Balaikota Surabaya terkenal dengan masjid bernuansa Muslim Tionghoa (kali kedua, terjadi atraksi mobil mundur karena belokannya lagi-lagi kelewatan)
*Rahman we really need you T_T*

Model dan bentuk masjid ini berbeda dengan masjid pada umumnya. Walaupun bangunan yang tidak terlalu besar, namun arsitektur bangunan yang bergaya etnik China menjadikan masjid ini sangat menarik.
Masjid Cheng Ho
Capt by Me
 Nama masjid ini adalah bentuk penghormatan pada Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam. Beliau ke Indonesia bukan hanya untuk berdagang dan menjalin persahabatan, juga untuk menyebarkan agama Islam. Di sisi kanan masjid juga terdapat relief perjalanan Laksamana Cheng Ho bersama armada kapalnya yang digunakan untuk mengarungi Samudera Hindia.
Kalian juga bisa baca mengenai sejarah masjid ini di sini
Relief Perjalanan Laksamana Cheng Ho
Capt by Me
Capt by Me

Capt by Me

Capt by Me

Selepas sholat ashar, sejenak saya memandangi keseluruhan masjid. Memandangi ornamen-ornamen masjid. Tiba-tiba terlintas 1 kata di hati saya “PERDAMAIAN”.

Mengunjungi 3 tempat bersejarah, cukup membuat perut kembali lapar. Masih ada waktu sebelum jadwal penerbangan. Sisa waktu tersebut saya gunakan untuk berkuliner. Yuk lanjut..

4.  ES KRIM ZANGRANDI
Masih seputar tempat yang memiliki nilai sejarah. Kali ini kita mengunjungi tempat nongkrong yang tak lepas dari jejak sejarah. YA AMPUN… SEPERTINYA SAYA MULAI JATUH CINTA DENGAN KOTA INI. JATUH CINTA DENGAN NILAI SEJARAHNYA.

Sesuai informasi dari teman saya, Hafiz, Zangrandi ini menjadi salah satu tempat yang sering ramai pengunjung. Konsep yang diusung dari kedai es krim ini terlihat ala tempo doeloe. Bukan karena sengaja tapi karena kedai es krim ini memang sudah ada dari jaman Belanda. Terlihat dari motif lantai, model kursi, bahkan pilar-pilar ruangan yang masih menampilkan suasana kedai jadul khas Eropa.
Nutty Monkey & Bali Dream *enaknya sampai sendokan terakhir*
Capt by Me
 Selain es krim ada juga menu lain seperti pizza, pastel (kalau di Makassar namanya Jalangkote), kroket dan risoles. Tapi karena next nya kami masih mau kuliner lagi jadi kami hanya memesan ice cream.

5.  TAHU TELOR PAK JAYEN
Sebenarnya perut sudah kenyang tapi masih muat kok sebagai penutup jalan-jalan di Surabaya, Tahu Telor Pak Jayen. Ini karena saya yang sangat ingin makan petis di Surabaya. Yang awalnya saya menyangka bahwa petis itu adalah bumbu pecel, ternyata salah.
Juwaraaaaaaaaaaak !!
Capt by Me
 Cuman mau share 1 kata, eh 2 kata ding à ENAK BANGET 

Sebenarnya masih banyaaaaaaaak tempat-tempat yang bernilai sejarah yang bisa dikunjungi di Surabaya. Rasanya hampir semua tempat di kota ini bermakna sejarah. Ada Tugu Pahlawan, Monumen 10 November, Jembatan Merah, Hotel Yamato tempat terjadinya insiden perobekan bendera, dan banyak tempat bersejarah lainnya.

Penting untuk kita para muda mudi kembali belajar mengenai sejarah. Bukan dengan harus masuk kelas terus buka buku terus dengar guru berceloteh. Tapi bisa dengan membaca melalui internet atau kalau tidak terlalu minat bisa dengan mendatangi tempat-tempat bersejarah sembari berwisata. Kadang setelah mengunjungi tempat sejarah, ada niat untuk mencari tau lebih dalam mengenai tempat tersebut.

Dengan mempelajari sejarah, bukan hanya menghargai perjuangan para pahlawan terdahulu tapi menjadi peringatan ke diri sendiri untuk bisa lanjutkan perjuangan para beliau yang telah wafat. Caranya bisa apa saja, berkarya untuk negeri, berkarya untuk bangsa, lebih cinta terhadap produk local, pokoknya apapun itu.

Dan tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang perjuangan para pahwalan yang telah mati-matian sampai titik dara penghabisan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.


SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER
MERDEKA!!
Read More

Wednesday, November 8, 2017

RAGUNAN, OLAHRAGA NYAMBI BERWISATA

Berawal dari ajakan salah satu teman kosan dan sekaligus teman kantor juga Ahmad Arifin “mbak, besok jogging gak?”. “Yukkk pin, udah lama gue gak jogging nih”. Dan keesokan harinya, start jam 6 dari kosan menuju tempat jogging, GOR Ragunan. Jalan kaki dari kosan, paling sekitar 15 menit. Sesampai di lokasi sudah ramai dengan orang-orang dengan kostum sport siap berolahraga, baik tua maupun muda bahkan anak bocah krucil-krucil juga ada.
Masyarakat Yang Masih Sadar Akan Pentingnya Olahraga
Yang awalnya niat cuman jogging malah berlanjut berwisata ke Kebun Binatang Ragunan. Mumpung lokasinya memang dekat dari tempat jogging. Dan jujur, saya memang belum pernah ke Kebun Binatang Ragunan *egha katrok deh* *jadi malu sendiri*.

Untuk akses masuk ke kebun binatang menggunakan kartu JakCard. Di kartunya sih gak ada tulisan masa berlakunya, artinya berlaku seumur hidup. JakCard juga bisa digunakan untuk akses busway dan kereta api. Jadi multifungis gitu deh. Tidak ada jumlah minimum untuk registrasi/pembelian pertama kartu. Kalau saldonya habis, bisa di top up.
Kartu Jakcard Buat Akses Masuk Kebun Binatang
Karena luas area di Ragunan memang lumayan luas jadi saya sarankan meminjam sepeda. Telah disediakan beberapa tempat untuk peminjaman sepeda dengan biaya Rp 10.000 untuk sepeda  single dan Rp 15.000 untuk sepeda tandem. Selain membayar biaya peminjaman, kalian juga harus menyerahkan KTP sebagai jaminan pinjaman. Tapi karena saat itu kami tidak membawa KTP karena niatnya cuman jogging jadi tanpa alasan apapun kami tidak bisa menyewa sepeda. Oke fine.

Gak pakai sepeda, jalan kaki pun jadi. Tapi hasilnya gempor hahaha. Sebenarnya memang lebih enak bersepeda, selain energi yang tidak terlalu terkuras, jadi bisa lebih puas mengelilingi semua spot di Ragunan. Abis jogging, jalan kaki keliling Ragunan, alhasil banyak spot yang terlewatkan.


Oiya di Ragunan bisa buat jogging juga loh. Pas saya kesana beberapa ada yang jogging, bahkan saat itu ada event lari juga. Eh iya, ada kantor yang lagi gathering juga malah.

Kalau yang beranggapan ke Ragunan itu membosankan karena cuman liat binatang aja, sepertinya mindset nya harus dibenerin deh. Tempat ini multifungsi banget, sebenarnya banyak hal positif yang bisa kita lakukan disini. Liburan bersama keluarga sambal mengenalkan anak-anak dengan binatang bisa disini. Sekedar menggelar tikar dan duduk bersantai juga bisa, apalagi udara didalam sangat bersahabat dan jauuuuh dari polusi. Belum lagi tempatnya yang sangat bersih. Mau menjadikan tempat untuk berolahraga juga bisa.



Siapa bilang liburan itu harus keluar kota, harus keluar Jakarta. Waktu terbatas, budget terbatas trus gak bisa liburan? SALAH BESAR. Liburan itukan berasal dari kata “libur” dan berakhiran -an. Yang menurut pengertian saya, liburan berarti berhenti dari segala macam kegiatan yang menguras otak, yang lebih mengarah ke pekerjaan. Istirahat dari memandang laptop, istirahat dari memandang gadget.

Sebenarnya bukan cuman di Ragunan, tapi masih banyak tempat-tempat lain di Jakarta yang bisa dijadikan sebagai referensi liburan. Mungkin karena kita terlalu terpengaruh oleh foto-foto di Instagram yang menampilkan alam Indonesia di berbagai pelosok jadi merasa kalau liburan itu kalau ke pantai atau gunung. Kembali lagi ke pribadi masing-masing memaknai kata “Liburan”.
Ada Tempat Bermain Anak Juga
Sejarah Singkat Taman Margawatwa Ragunan
Kalo Masih Ada Yang Buang Sampah Sembarangan. KETERLALUAN!!
Waktu sudah menjelang siang. Jogging + jalan keliling Ragunan cukup bikin kaki cenat-cenut. “Pin balik yuk, gue udah laper nih”. “Yuk mbak, baliknya kita naik ojek aja. Kayaknya jalan kaki ke kosan sudah tak sanggup”. Hahahaha setuju pake bangeeet.
Read More

Sunday, October 29, 2017

CHASING CORAL, FIRST SCREENING IN JAKARTA

Sepekan lalu tepatnya tanggal 22 Oktober 2017, Seasoldier mengadakan sebuah event yang bertemakan tentang Chasing Coral yang menghadirkan tiga tamu sebagai pembicara yakni Ramon Y. Tungka (Traveler & Public Figure), Retno Tan (Fashion Art Performance), dan Adhitya Lanae (Climate Institute) serta Dinni Septianingrum sebagai moderator (Seasoldier 002). Ohya mungkin beberapa masih ada yang bertanya apa sih Seasoldier itu, suatu perkumpulan kah atau suatu komunitas kah, atau malah tentara laut hehe. Jadi Seasoldier ini adalah gerakan atau aksi yang dilakukan untuk melakukan aksi ramah lingkungan baik di darat maupun di laut. Seasoldier digagas oleh Nadine Chandrawinata, seorang aktris cantik dan Puteri Indonesia tahun 2005 yang sangat peduli terhadap lingkungan. Mungkin nanti saya akan buat tulisan sendiri khusus membahas mengenai Seasoldier.
Chasing Coral by Netflix, First Screening in Jakarta October 22nd 2017
Diawali dengan pemutaran film yang berdurasi sekitar 90 menit memberikan saya begituuuuu banyak informasi mengenai terumbu karang. Betapa menyedihkannya kondisi alam kita saat ini. Betapa besar kerusakan yang disebabkan manusia saat ini. Mungkin banyak yang belum tahu fungsi terumbu karang, antara lain sumber makanan ikan-ikan, burung laut, habitat asli biota laut, sumber obat-obatan, bahan baku, penghalang ombak besar, serta penyeimbang dan tolak ukur kesehatan laut. Banyak orang yang memandang luar angkasa, berlomba-lomba menginjakkan kaki diluar angkasa sana namun lupa bahwa ada dunia bawah laut yang begitu indah di palnet sendiri. Dunia yang merupakan sumber pendapatan dan sumber makanan makhluk hidup lain. Dunia yang jikalau rusak maka rusaklah alam semesta ini.

Kerusakan yang bermula di tahun 1980an, dimana banyak terumbu karang yang mulai memutih (bleaching). Tahun 2010 terjadi fenomena pemutihan terumbu karang yang kedua, dalam kurun waktu 5 tahun kemudian (2015) terjadi pemutihan secara global. Sungguh sangat disayangkan melihat dari waktu yang lebih singkat dari sebelumnya kita kehilangan 29%-50% terumbu karang. Semua kerusakan ini terjadi bukan karena penyakit, bukan pula karena kelebihan cahaya tapi pemutihan tersebut terjadi karena pemanasan yang tidak wajar yang tak lain disebabkan oleh pemanasan global.
Tampilan Perasaan Penonton Yang Campur Aduk Melihat Kondisi Coral Saat Ini
Terumbu karang yang memutih sebenarnya tetap hidup namun tak ada makhluk hidup yang dapat tumbuh diatasnya, tak ada proses reproduksi yang pada akhirnya terumbu karang tersebut akan mati. Terumbu karang mati, mungkin tidak menjadi perhatian besar buat kita. Tapi bayangkan jika terumbu karang itu adalah lingkungan sekitar kita tempat kita berpijak saat ini. Bayangkan jika lingkungan tempat kita hidup mulai rusak. Apakah kita bisa hidup nyaman? pertanyaan lainnya apakah kita bisa tetap hidup? Jelas Tidak!!

Dari semua kerusakan yang terjadi, seberapa banyak dari kita yang menyadarinya? Adakah diatas 50%? Saya rasa tidak. Bagaimana bisa terjadi pemutihan terumbu karang besar-besaran jika memang kita sudah menyadari dampak kerusakannya dari awal. Jujur, bahkan saya sendiri baru tersadar mengenai hal ini. Kalau sebagian orang berpikir bahwa kerusakan yang terjadi dilaut tidak ada hubungannya dengan daratan itu salah besar. Karena pemanasan global oleh ulah manusia di darat lah sehingga berdampak ke seluruh aspek kehidupan darat dan laut.

Namun semua itu belum terlambat. Kita belum terlambat untuk mengenal lebih jauh mengenai ekosistem terumbu karang. Jika memang kita masih belum bisa menjalankan sebuah proyek besar untuk mencegah kerusakan ini, minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan salah satu aksi kecil untuk dampak besar bagi lingkungan. Memulai untuk peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Setelah pemutaran film, berlanjut dengan talkshow dan sesi tanya jawab bersama tamu pembicara. Performance dari Pelangi Samudera, serta doorprize hadiah menarik dari Seasoldier. Jadi yang gak dateng acara ini rugiiiii bangetttt!!
Talkshow Setelah Pemutaran Film Chasing Coral
Di sesi talkshow, para pembicara membagi ilmu dan pengalaman mereka. Bg Ramon Y Tungka yang membagi cerita saat travelling. Travelling bukan cuman sekedar jalan-jalannya doank tapi lebih mengenai attitude. Kemudian pembicara kedua Mba Ratna Tan dari Pelangi Samudera, cintanya terhadap terumbu karang dituangkan dalam sebuah karya dibidang fashion dan seni teri yang semuanya bertema terumbu karang. Dan terakhir Mas Adhitya Lanae dari Climate Institute yang ngasih tau kalau perubahan iklim dapat mempengaruhi suhu air laut menjadi meningkat.
Jejeran Orang2 Hebat Di Acara Ini
Tapi buat yang belum sempat hadir, saya yakin Seasoldier akan kembali mengadakan event-event lain yang gak kalah penting dan gak kalah serunya. Kalian bisa pantengin Instagram seasoldier @Seasoldier_ untuk tau info mengenai seasoldier dan event-event mendatang yang bakal diadakan.
Dan buat yang mau nonton filmnya, bisa free streaming di Netflix tapi harus punya akunnya dulu.

Ayolah para muda mudi, jangan hanya berpangku tangan menyaksikan kerusakan yang terjadi di alam semesta. Atau parahnya malah berperan sebagai pelaku kerusakan. Menjadikan travelling sebagai lifestyle memang gak ada salahnya tapi ingat untuk tidak membuang sampah di tempat yang kita tuju. Ngerasa keren karena punya kamera mahal, punya hasil foto yang instagramable, like di Instagram ratusan gak ada salahnya, tapi jika dibelakang semua itu malah mengorbankan lingkungan sekitar itu namanya gak punya otak. Gak ada sisi kerennya sama sekali.
Foto Bersama Seluruh Peserta dan Pengisi Acara
Dalam suasana Sumpah Pemuda 28 Oktober, semoga tulisan singkat saya yang jauh dari sempurna ini bisa memberikan informasi penting. Bisa menjadi ajang untuk menggerakkan yang lain agar sama-sama menjaga alam semesta.

INI AKSIKU MANA AKSIMU??
Read More

Wednesday, September 13, 2017

PELARUGA - GREEN CANYON VERSI SUMATERA UTARA

Wisata alam Medan memang tak melulu hanya Danau Toba. Masih banyak wisata alam lain yang dapat memberikan sensasi menyenangkan selain Danau Toba. Salah satunya adalah wisata alam Pelaruga. Terletak di Desa Galuh Kecamatan Sungai Bingai, Langkat, Sumatera Utara, wisata alam ini bisa jadi alternatif mengisi weekend kalian. Cukup dengan menempuh perjalanan dengan jarak 60 km atau sekitar 1,5 jam dari kota Medan, kalian sudah bisa sampai ke wisata Pelaruga.

Pelaruga adalah singkatan dari Pemandu Alam Rumah Galuh. Ada banyak objek wisata yang ditawarkan di kawasan ini, diantaranya berenang di Kolam Abadi, Body Rafting di Sungai Bertu, Air Terjun Teroh-Teroh, Air Terjun Tongkat, minum Air Nira langsung di Kebun Aren, bermain flying fox membelah hutan, dan mengunjungi bunga bangkai.

Wisata alam ini memang belum terlalu terkenal, terlihat dari jumlah pengunjung yang belum menjamur, akses menuju objek wisata juga masih sangat alami, dan belum ada pedagang yang menjual souvenir yang bisa dijadikan ole-ole disekitar tempat wisata. Namun melihat perkembangan jaman, yang dimana traveliing sudah dijadikan sebagai gaya hidup terlebih bagi lakangan muda-mudi maka cepat atau lambat tempat wisata Pelaruga akan masuk dalam jajaran tempat wisata hits “wajib kunjung” di Medan. Cek juga tempat wisata lain selain Danau Toba di Medan (part 1 & part 2)

Memasuki kawasan sekitar Pelaruga, maka kalian akan melihat beberapa rumah warga dengan spanduk yang menawarkan jasa pemandu. Tak ada tips khusus dalam memilih jasa pemandu karena jasa dan harga yang ditawarkan relative sama. Oiya ada informasi penting untuk kalian yang mau berwisata ke Pelaruga. Saat memasuki kawasan ini, jika ada beberapa orang yang menawarkan untuk mengantarkan kalian ke “jasa pemandu”sebaiknya kalian tolak. Karena orang2 seperti itu akan meminta bayaran dari warga yang merupakan “pemandu” yang dimana akan dibebankan kepada pengunjung. Jadi semacam uang preman gitu. Jadi kalau mau aman, langsung datangi rumah warga yang ada spanduknya. Udah “titik”
Ini jasa guide yang kami pilih saat di Pelaruga. Namanya PJ (Paradise Of Jungle)
Air terjun tongkat, kolam abadi, body rafting, dan air terjun teroh-teroh merupakan objek wisata yang jadi jadi pilihan di trip kali ini. Setelah berganti pakaian siap basah, berfoto, mengenakan life vest, dan berdoa kami memulai langkah menuju destinasi pertama yakni Air Terjun Tongkat. Lima belas menit pertama masih tralala trilili, 5 menit berlalu masih bisa nyanyi-nyanyi, 10 menit kemudian nafas udah tak beraturan. Tiga puluh menit sampai 1jam kemudian, off off break break.
15 menit pertama masih nemu trek bonus
5 menit kemudian, trek yang sudah mulai menanjak
Gak tau lah ini udh menit ke berapa. Pokoknya tanjakan turun tanjakan turun
Sepanjang perjalanan banyak pohon karet
Udah Lelah pun, kami belum nyampe di Air Terjun Tongkat
Ternyata trek menuju Air Terjun Tongkat memang tidaklah mudah. Trek yang naik turun, naik lagi turun lagi, sampai akhirnya kami menemukan tangga dengan kemiringan 90 derajat. Ya 90 derajat. Bukan hanya kemiringannya yang membuat kami jiper. Tapi kondisi tangga yang sudah tua, terlihat dari bambu yang tampak sudah lapuk, anak tangga satu dengan yang lain hanya direkatkan menggunakan kawat tipis, belum lagi beberapa anak tangga yang sudah miring bahkan ada yang sudah copot, serta tinggi tebing yang harus kami turuni sekitar 10 meter *gemeter gemeter dah*
Sampe akhirnya nemu trek merangsang adrenalin
Di setiap perjalanan adaaa aja yang memacu adrenalin. Kalau di gunung sering kita temui tanjakan yang diberi nama “Tanjakan Setan”nah tangga ini sepertinya cocok menyandang nama “Tangga Setan”. Kretek kretek, suara kayu dan bambu yang saling beradu saat harus menyangga beban kami. Sedikit berani dan nekat sih aksi kami.
Jalur yang masih berfungsi yang kiri. Yang kanan kayunya udah pada lapuk
Setelah tangga tadi masih ada jalur sedikit ekstrim sebelum sampe ke Air Terjun Tongkat
Setelah melewati “Tangga Setan”suara air sudah bisa terdengar. Itu artinya tujuan kami sudah semakin dekat. Dan benar saja, setelah menuruni undakan batu yang lumayan terjal sudah terlihat air terjun dengan batang kayu seolah menjadi penyanggahnya layaknya tongkat yang menahan air terjun. Inilah kenapa air terjun ini disebut Air Terjun Tongkat. Dari cerita si abang guide, kayu tersebut berasal dari atas yang jatuh akibat derasnya aliran air terjun *gak mungkin kan kayunya itu sengaja ditempatin disitu biar bisa dikasi nama Air Terjun Tongkat*
Air Terjun Tongkat
Siapa yang gak pengen nyemplung kalo liat yang beginian
Serunya ya rame-rame
Untungnya lagi sepi jadi bebassss nyemplung. Brasa private trip
Mengingat bahwa kami masih ada destinasi lain selain air terjun tongkat, maka kami menyudahi maen-maen air yang sebenarnya masih belum puas. Untuk ke destinasi selanjutnya tentunya harus kembali melewati “tangga setan” *PR bet dah*. Kembali nanjak, turun, nanjak lagi, turun lagi. Dan akhirnya sampailah kita di jembatan yang tadinya sudah kita lewati. Disinilah body rafting dimulai.

Namun dijalan kembali menuju kolam abadi, kami menyempatkan untuk meminum aren yang langsung diambil dari pohonnya. Aren ini jika dimasak pada waktu dan suhu tertentu akan menjadi gula merah atau gula aren. 
Gambar atas: wadah untuk memasak aren. Gambar bawah: cetakan untuk membentuk gula aren
Warnanya emng sedikit mirip mmmm.. tp rasanya manis alami, seger bo’
Kedalaman air di kolam abadi ini memang terbilang dangkal, arusnya pun masih termasuk kategori aman untuk para pemula. Ditambah adanya ranger yang akan mengawasi selama berkegiatan body rafting, jadi cukup safety tapi tentunya tetap harus berhati-hati dan menjaga keselamatan diri masing-masing ya guys. Saran saya saat body rafting gunakanlah sandal yang bisa dikaitkan ke kaki jadi tidak akan terlepas saat body rafting, jangan sandal jepit, apalagi sandal hotel. Karena pada saat body rafting ada beberapa aliran air yang arusnya cukup deras dan bisa menyebabkan alas kaki terlepas. Belum lagi kedalaman kolam yang dangkal dan dasar kolam yang banyak batu-batu yang cukup tajam jadi jangan sampai tidak menggunakan alas kaki.

Saran lainnya. Gunakan baju dan celana lengan panjang. Lagi-lagi karena kedalaman kolam yang dangkal makanya bersentuhan dengan batu-batu selagi ngambang di kolam abadi jelas tak dapat terhindarkan. Jadi kalau gak mau pulang liburannya pulang membawa luka mending dihindari dengan menggunakan baju dan celana panjang. Seriusan deh, jangan bandel dan jangan sok2an.
Kolam Abadi
Saking jernihnya, dasar kolam jadi jelas terlihat
Selagi menikmati sensasi ngambang di kolam abadi, kalian juga bisa mengasah adrenalin dengan lompat dari batu dengan ketinggian 6 meter. Mungkin bagi para adrenalin junky lompat diketinggian segitu cuman berasa geli-geli lucu tapi bagi para newbie lumayan bikin nahan nafas. Tapi kalau kesini kalian harus nyobain lompat bebas dari batu ini, dibawah air jernih nan segar sudah menunggu untuk suegeeeer tenan. Biasanya para ranger akan memberi tau spot lompatnya kok.
Ini nih spot loncatnya. Cetek sih keliatannya, tapi cobain sendiri deh
Di akhir body rafting sekalian destinasi terakhir kita, Air Terjun Teroh-Teroh.  Air terjun ini merupakan air terjun dari aliran sungai yang ada di kolam abadi. Mungkin karena kami memang sudah kelamaan di air sekujur tubuh sudah kedinginan, jadi kami tidak berlama-lama di air terjun ini. Main-main air bentar, berfoto ala my trip my adventure *gue jg sebenarnya gak tau foto ala mtma tuh kek gmn* dan berakhir pula seluruh destinasi trip kami kali ini.
Air Terjun Teroh-Teroh
We Are Having Fun

Benar-benar gak rugi menghabiskan weekend di tempat ini. Destinasi tempat wisata nambah, pengalaman nambah, dan yang pasti foto-foto instagramble nambah 😊


::Additional Information::
1. Rental Mobil Medan-Binjai Rp. 300.000 (Bensin+Driver)
2. Jasa Guide Rp. 55.000 per orang (guide+life vest+body rafting) CP:085207884777
   Note: 1 guide biasanya maksimal utk 10 orang
3. Tip Guide seikhlasnya
Read More
Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts