BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Tuesday, February 14, 2017

KERJA RASA LIBURAN

Ngomongin masalah pekerjaan, untuk sebagian  fresh graduated pastinya tidak akan terlalu memilih-milih pekerjaan. Mungkin ada juga yang memilih dengan perfectnya namun ada juga yang akan memilih pekerjaan untuk menjadikannya sebagai batu loncatan, dengan pemikiran “yang penting gak nganggur dulu” *nah itu egha tuh*. Tapi terkait masalah pekerjaan semua orang pasti menginginkan pekerjaan yang dapat menjamin kesejahteraan dan kenyamanan hidup, sejahtera dalam hal finansial serta nyaman dalam hal lingkungan kerja. Itulah kenapa banyak orang yang untuk berpindah dari perusahaan satu ke perusahaan lain dengan alasan belum menemukan kerjaan yang pas atau memang mencari sesuatu yang lebih *coy, rumput tetangga selalu lebih hijau coy*

Pekerjaan saya adalah sebagai Konsultan SAP. Pekerjaan ini sudah saya geluti sejak dari lulus kuliah hingga saat ini. Kalau penasaran dengan SAP itu apa, silahkan tanyakan ke Om G alias Google. Karena saya tidak akan membahas panjang kali lebar kali tinggi kali volume mengenai SAP dalam tulisan ini, OKE DEAL??

Yang namanya konsultan tentunya memiliki pekerjaan yang akan selalu berpindah-pindah, berpindah dari project ke project, perusahaan ke perusahaan, kota ke kota, pulau ke pulau *ini kerjaan apa bangsa eskimo??* Ya konsultan mah dapet makannya dari mana lagi kalau bukan proyek. But so far, saya nyaman dengan kerjaan saya. Bukan berarti tidak ada keluhan ataupun merasa bosan. Rasa seperti itu pasti ada bagi seorang pekerja, dan ketika rasa atau pikiran seperti itu hadir cara menghilangkannya adalah dengan bersyukur. Ingat jaman dimana setelah lulus jadi pengangguran, gak ada penghasilan. Gimana susahnya nyari kerja, bawa cv sana kemari tapi belum juga lolos. Ya tidak ada yang dapat kita lakukan selain menikmati dan bersyukur. Toh pekerjaan yang kita jalani adalah halal, InshaAllah berkah.

PROJECT #1 – PPA (PUTRA PERKASA ABADI)

Project pertama yang diamanahkan kepada saya adalah project di salah perusahaan yang memiliki tambang batu bara di daerah Kalimantan. Jujur sejujur jujurnya di awal-awal saya hanya bisa planga plongo, jadi pendengar setia dikala meeting dan mencatat semua curhatan meeting kedalam sebuah MoM (Minute Of Meeting). Kalau saat itu ditanya isi MoMnya apa, pasti dengan lantang saya akan menjawab GAK TAU PAK :D *semoga tulisan ini gak dibaca senior :))))))*

Setelah jalan beberapa minggu, tibalah saatnya untuk site visit. Ini adalah kebutuhan dimana tim harus mengunjungi lokasi site untuk melihat proses bisnisnya lebih detail. Namun bagi saya ini adalah JALAN-JALAN :D. Terlebih jika sitenya ada di luar pulau. Menjadi suatu kesempatan buat saya mengunjungi daerah baru. Ya tak apalah wong cuma beberapa hari doank *asal jangan sampe berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan*

Letak site yang akan saya dan tim kunjungi adalah di daerah Asam-Asam Banjarmasin,Kalimantan Selatan. Perjalanan menuju lokasi site, dari Bandara Syamsudin Noor menempuh perjalanan darat sekitar 2,5 jam, ini baru sampai di penginapan. Untuk benar-benar sampai ke site butuh waktu sekitar 30-45 menit. Karena dari pintu masuk ke lokasi site memang lumayan jauh. Kendaraan yang digunakan pun bukan mobil biasa tapi mobil yang memang diperuntukan untuk kondisi di daerah tambang.
Sepertinya ini udh hotel yg paling bagus di Asam-Asam (Visit Site Day-1)
Fitting Safety Shoes *terlihat rempong ye*
Waaaahhh ini kita lagi masuk ke dunia Transformer ya. Banyak Bumble Bee yang sedang berlalu lalang mengangkut batubara maupun yang sedang parkir cantik menjadi pemandangan kami saat memasuki kawasan tambang. Belum lagi kawan2 Bumble Bee layaknya monster raksasa, sebut saja Excavator, dari kejauhan terlihat sedang mengeruk tanah untuk mendapatkan batubara. Walaupun pada jarak yang terbilang cukup jauh tapi kendaraan itu masih terlihat besar, bagaimana jika jarak dekat. 
Babe Ilham Sibuk Scooping, Gue Sibuk Motoin *junior jaman sekarang*
Ini Dia Pemeran Utamanya, si Bumble Bee dan Kawanannya
Pertama kali ke Kalimantan, pertama kali masuk daerah tambang, dan pertama kali liat kendaraan yang segede gaban gini. Semua serba pertama kali.
Berasa Lagi Naik Maenan Robot2an
Bukan Pasukan Berani Mati
Setelah Asam-Asam, beberapa bulan setelah project berjalan saya pun mengunjungi site yang satunya lagi yaitu Asta yang terletak di Samarinda, Kalimantan Timur. Karena sudah pernah ke daerah tambang jadi kunjungan kedua ini (walaupun daerah yang berbeda) tidak se excited yang pertama. Namun ada pengalaman menarik dikunjungan ini. Saat itu kondisi di tambang memang sering turun hujan. Alhasil jalanan menuju site pun sedikit bergelombang hahaha. Nah untuk lokasi tambang yang di Asta ini adalah hasil dari gunung yang dibelah dan dibuat jalan *itu dari cerita karyawan disana*, makanya untuk menuju ke sitenya pun jalanan yang ditempuh penuh dengan gelombang dan tanjakan. 

Nah dan kemudian pas kita mau pulang, jalan yang biasanya kita lalui becek dan berlumpur karena air hujan. Bapak2 yang biasa mengantar kami pulang dengan nada santai berkata “mba mau nyobain offroad gak?” saya dan 2 rekan kerja mengiyakan tawaran bapak tersebut. “Mba pegangan ya, nanti kalau mobilnya kebalik santai aja, itu udah biasa” kali ini pernyataan si bapak menggoyahkan iman kami. Tapi karena rasa penasaran yang mendalam kami tetap mengiyakan. 

Dan wuuuuzzzz,,, menggal menggol, serong kiri serong kanan, jeglak jegluk, hantam gelombang, hajar badai. ASLI INI BARU BENERAN OFFROADDDDDD...KEREEEENNNN. Maklum saya belum pernah offroad sebelumnya *katrok ya* dan pertama kalinya malah real offroad.
 
Selain pengalaman ketemu transformer dan kawanannya, excavator yang se-gede gaban, ngeliat kehidupan para karyawan di tambang, sampe real offroad bareng user2 pengalaman lainnya adalah belanja pernak-pernik permata dan manik2 di Martapura. Oiya buat kalian yang berkunjung ke Banjarmasin, pastikan untuk belanja cendera mata di Martapura surganya pernak-pernik. Apalagi yang suka sama batu2an. Dari harga ratusan ribu sampai jutaan rupiah.
Dari Keseluruhan Cerita, Ini Yang Paling Nendang. Kepiting Dandito, Endesssss
PROJECT #2 – PT. ICA (INDONESIA CHEMICAL ALUMINA)

Dari tambang beralih ke pabrik bauksit, dengan site yang masih didaerah kalimantan. Namun kali ini berkunjung ke sitenya bukan karena visit site tapi untuk training dan support yang lamanya 2 bulan. 2 bulan di site itu rasa-rasa pengen pulangnya sudah tak terbendung. Tapi ya dijalanin juga.

Walau masih di Kalimantan tapi kali ini di Kalimantan Barat, Pontianak. Sebenarnya judulnya doank Pontianak karena letak site yg sebenarnya adalah di Tayan. Dari Bandar Udara Supadio perlu menempuh perjalanan sekitar 2-2,5 jam kemudian lanjut menyebrangi sungai kapuas, nyebrangnya pake perahu klotok2 pula. KEBAYANGKAN GIMANA RASANYA JADI EGHA YANG 2 BULAN DISANA, JAUH DARI PERADABAN, MAU KE PASARPUN MESTI NYEBRANG SUNGAI *udah sih Gha gak usah dramatis gitu*
Inilah Teman Seperjuangan Selama Di Tayan, namanya Yola
Pemandangan di Kantor Yang Isinya Ya Pegawai ICA dan Beberapa Ahjussi
Gak banyak yang bisa diceritakan untuk rutinitias harian selama di site. Standarlah, bangun pagi ke kantor yang letaknya ditengah pabrik, sesekali ke pabrik yang sebenarnya gak penting-penting amat, paling cuma nyari foto dengan helm proyek dan sepatu boat proyek *tiba2 Imam Darto nyamber nyanyi lagu helm proyek*. Kegiatan lainnya trainingin user dengan kondisi yang mesti super duper sabar dan lemah lembut. Atau kegiatan gak penting lainnya gabut, dikarenakan jaringan yang bukan kadang-kadang lagi tapi sering banget mati. Huaaaaaaa pulangkan eghaaaa segeraaa mungkin. Baru kali itu ngerasain lebih memilih nunggu datangnya hari Hometrip ketimbang Cinta Sejati *Empreeetttttt-_-*

PROJECT #3 – PT. SAKA ENERGI INDONESIA

Datangnya kabar bahwa bakal di release dari project ICA itu semacam angin seger dari surga. Semacam abis naik gunung seminggu trus turunnya mandi disungai, segeeeerrrr. Walaupun project yang didepan mata ini bukan implementasi, tapi project ngubek-ngubek master data. Tapi tak apalah beneran ikhlas lahir batin direlease dari project ini.

Sehari sebelum keberangkatan dapat kabar kalau akan ke kilang minyak yang dimana lokasinya di tengah laut. Dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sekitar 2 jam untuk sampai dengan kapal lambat. Adduh apalagi ini. Site lagi. Jauh dari mana2 lagi. Site di tengah laut tinggal nyempung aja jadi mermaid alias dugong lucu. Emmaaaakkk pengen pulang aja emmaaakk. Oiya proyek saya kali ini adalah proyek oil & gas, makanya sitenya kilang minyak yang letaknya bener-bener ditengah laut.
Kalau Gak Kilang Minyak ya Kapal Tanker. Pemandangan Yang Menemani Menuju Site
Ini Bukan Monster Pacific Rim ya, Ini Kilang Minyak Milik PT. Saka
Gak banyak yang bisa diceritain sih untuk proyek ini. Paling cuma site kilang minyak yang letaknya di tengah laut yang ngeliatnya berasa lagi shooting Pacific Rim. Ya kurang lebih gitulah fantasi egha.

Tapi untung saja penempatannya bukan di site tapi di kantor pusat, di Gresik. Slameeet slameeeet

PROJECT #4 – PT. JOB PERTAMINA

Masih dengan perusahaan oil & gas. Kali ini dapatnya proyek implementasi lagi. Dan karena proyeknya oil & gas, lagi dan lagi sitenya jauh dari peradaban manusia. Kalau sebelumnya udah pernah merasakan berada dilokasi yang mesti nyebrang sungai untuk sampai ke lokasi kali ini sedikit lebih ekstrim, menyebrangi lautan *udah macam popeye si pelaut tut tuuuuut*

Nah ini egha baru mau cerita, dibaca perlahan dengan seksama dan jangan dihayati. Penerbangan dari Jakarta ke Luwuk dengan menempuh perjalanan kurang lebih kurang lebih 4-5 jam. Detailnya; Jakarta – Makassar 2,5jam, transit di Makassar 0,5jam, trus lanjut Makassar-Luwuk 1,5jam dengan pesawat ATR yang bunyinya udah macam kopaja. Nabrak burung aja berasa nabrak sapi *wah kalian harus nyobain sensasinya*. Sesampainya di Luwuk masih harus menempuh perjalanan darat kurang lebih 4 jam an juga. Jetlag belum kelar, ditimpa lagi ama mabok darat. Udah kelar?? Belom lah. Lanjut lagi dengan perjalanan laut sekitar 45 menit. Dan akhirnya sampailah kita di pulau yang diberi nama TIAKA (Timbunan Atas Karang). Sesuai namanya Timbunan Atas Karang, sudah bisa menggambarkan keadaan pulau nama ini. Pulau ini memang adalah pulau buatan yang dibawahnya adalah karang yang ditimbun dan jadilah pulau ini. Karena ini buatan, luasnya pun hanya sebesar 3x lapangan bola

Disekitar pulau sudah terlihat kapal tanker dan beberapa speedboat. Di pinggir dermaga terlihat beberapa bapak-bapak yang sedang memancing gurita, pemandangan langkah sih buat egha. Sebelum memasuki pulau harus mengikuti beberapa prosedur karena ini memang buat wisata tapi daerah kerja. Bukan cuma itu, tapi di pulau ini juga dijaga oleh beberapa orang TNI ankgatan laut
Gaya Ya Kita, Foto Pinjem Pistol Om Tentara
Gurita Hasil Tangkapan Orang Kita Pinjem Buat Foto
Beberapa hari disini mengajarkan saya bahwa setiap keterbatasan, Tuhan pasti selalu menyelipkan kelebihan. Salah satu kelebihan ditempat ini adalah Sunset yang nyaris sempurna. Menjelang sholat magrib, selepas training saya sebagai penikmat senja tidak akan melewatkan moment untuk menyaksikan sang mega mega merah kembali ke peraduannya. Biasanya saya jauh-jauh ke pantai atau ke gunung untuk menikmati moment ini. Bukan hanya sunset indahnya, tapi tiap sore bisa snorkling gratis.  Tapi sayangnya, gak sempet untuk mencoba scuba diving
Gaya-Gaya Dulu Lah Sebelum Naik Kapal Tanker
Spot Yang Pas Buat Nungguin Sunset
Kita Mah Apa Ketimbang Cantiknya Sunset Yang Jadi Background
5 hari ini dipulau ini cukuplah buat saya merasakan kerja rasa liburan tapi tetep kalau disuruh kesini lagi, GAK DEH MAKASIH. 

PROJECT #5 – PT. ANGKASA PURA II

Sudah beberapa kali main sama minyak, gas, pabrik, alat berat *cewek tapi mainnya sama ginian ckck* nah sekarang dapat kesempatan berbeda dari sebelumnya. Kalau sebelumnya jadi anak pabrik sekarang jadi anak bandara. Tapi judulnya doank sih yang anak bandara, kalau mau cerita pengalaman kemana aja nya di proyek ini sebenarnya gak ada. Walaupun sitenya di beberapa bandara di Sumatera tapi tetep aja gak dapet kesempatan kesana. Yang ditugasin ke visit site senior egha, hiks *apalah saya yang hanya kremesan tempe mendoan*. SEKIAN
List Bukber Yang Bejibun Selama Project *horaaaaang pentiiing*
Maen Di Rooftop, Liatin si Om Om Key User Bobo Ciang, Dengerin Obrolan Dewasa Para Bapak2 Anak Satu, Nontonin Yang Maen PS After Office Hour. Gak Ada Visit Site, Yang Ada Kegiatan2 Diatas ckck
Bukan Foto Keluarga
PROJECT #6 – PT. PERKEBUNAN NUSANTARA V

“Tuhan, egha pengn banget deh ke Sumatera. Enak kali ya kalau dapat project di Sumatera tapi gak usah lama, jangan sampe bertahun-tahun”

Pernah beberapa kali terlintas kalimat diatas dalam hati. Ngucapinnya juga gak niat-niat banget sih, cuma berdasarkan rasa pengen tapi pengennya yang pengen banget dan ternyata terkabul. Ini yang namanya ucapan adalah doa. Setelah proyek APII kelar malah dapat tawaran proyek di PTPN 5 yang dimana penempatannya di Pekanbaru, trus udah gitu cuma 6 bulan masa implementasi. Waaaaahhhhh Tuhan mendengarkan doa anak yang sering kena bully sama key user di APII ini. Ah tau gitu doanya “Tuhan, pengen deh egha punya rubicon, punya cottage di Mentawai, bisa ke Raja Ampat, trus punya suami gantengnya kayak Zayn Malik” *Gha cukup itu ngelunjak*
Di Kebun Juga Bisa Foto Ala2 Loh :))
Langitnya Terlalu Dramatis Untuk Gak Di Foto

Namanya juga perkebunan, ya mainnya pasti ke kebun masa ke sawah. Main ke kebun sawit bikin fantasi saya melayang ke film Jurrasic Park. Kebun dengan luas yang berhektar-hektar dengan tanaman sawit di kiri kanan jalan, bahkan sempat melewati tanah luas, cuaca panas gersang, dan awan yang biru yang dramatis mampu membuat imajinasi saya berasa sedang mau shooting film The Lost World. Bukan hanya berkunjung ke kebun, tapi tim kami juga sempat mengunjungi Pabrik Sawit yang tempatnya memang masih satu lokasi dengan Kebun Sawit. Pertama kalinya ke kebun sawit, pertama kalinya nyium sawit yang baunya sungguh tak bersahabat, pulang-pulang ke hotel sesak
Berkat proyek ini saya bisa menikmati keindahan Padang, Bukittinggi dan sekitarnya. Mau tau detail tempat-tempat wisata yang sempat saya kunjungi dalam sehari di Sumatera Barat, klik disini

Berharap next nya dapat project di Lombok atau gak Bali atau gak Jogja atau gak Makassar atau gak atau gak *Gha Gha itu mah destinasi jalan-jalan semua*
Apapun pekerjaan kita ya nikmatin ae lah, yang penting berkah, yang penting halal dan terakhir YANG PENTING DAPET JALAN-JALANNYA
Read More

Wednesday, February 8, 2017

MUALLAF, THE BEST DECISION IN MY LIFE


Belum pernah rasanya saya berpikir sekeras ini untuk menentukan sebuah keputusan. Padahal saya bukanlah seorang tipe pemikir dan tidak terlalu meribetkan sesuatu, apapun itu. Bagi saya ya hidup cukup berdasarkan logika dan ya udah. Maklum saya memang rada pemalas dan senengnya yang happy-happy saja. Namun kali ini otak saya dibuat berpikir 1000x lebih keras dari biasanya. Bahkan lebih keras dari saya bermain candy crush, mainan di handphone yang sering saya mainkan dikala bosan dan gak bosan hahahahaaa..

Saya adalah seorang Katolik namun pola pikir saya cenderung atheis. Dan saat ini saya memutuskan untuk berpindah agama menjadi seorang muslim. Keputusan ini bukanlah sebuah keputusan yang mudah bagi saya. Mungkin keseharian saya terlihat tanpa beban tapi sejujurnya ada perdebataan antara hati dan logika. Secara logika ketika saya berpindah agama tentunya teman-teman akan banyak yang mempertanyakan, menjadi bahan omongan bahkan mungkin celaan. Itu baru sisi teman-teman, belum dari sisi keluarga. Pasti tidak kalah gencarnya pertanyaan mereka kepada saya. Tapi secara hati, saya menginginkan sebuah kebenaran, dan saya rasa kebenaran itu akan saya dapatkan setelah saya memeluk agama Islam

Satu hal yang perlu saya syukuri, kedua orang tua saya tidak melarang saya memeluk Islam. Karena keluarga besar saya memang banyak yang beragama Islam. Jadi bukan hal yang tabu jika ada anggota keluarga yang berpindah agama. Tapi tetap saja awalanya dibombardir berbagai macam pertanyaan yang diawali dengan kata-kata “kenapa” “yakin?” “kok bisa” ya pokoknya banyaklah dan malam itu berasa jadi peserta sidang tugas akhir dimana orang tua sebagai penguji. Saya tau orang tua saya pasti shock mendengar keputusan saya. Tapi keputusan saya sudah bulat, InshaaAllah segala keputusan ini berasal dari Allah SWT

Setelah saya menjelaskan alasan saya dengan jelas akhirnya mereka menerima keputusan saya untuk memeluk agama Islam. Dan diskusi malam itu ditutup dengan satu pesan dari orang tua saya “Apapun Pilihan Kamu Pertanggungjawabkan” kalimat singkat ini cukup menjadi motivasi sekaligus beban bagi saya. Pfffftttttt T_T

20 Januari 2017, hari jumat dihadapan ustad dan beberapa jamaah sholat jumat pertama kalinya saya mengucap dua kalimat syahadat, Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Hari itu menjadi moment yang sakral buat saya. Entah kenapa saat mengucap dua kalimat syahadat rasanya ada getaran dari dalam dada dan tanpa terasa air mata saya mengalir dengan derasnya, ada rasa bahagia seakan saya sedang mendapatkan sesuatu yang sudah lama saya impikan. Kalau bukan perkara laki-laki mungkin saya udah mewek-semeweknya. Ya kurang lebih seperti itu yang saya rasakan. 

Siapa sangka keputusan yang sempat menjadi perdebatan dipikiran saya kala itu adalah keputusan yang bisa mengubah kehidupan saya 5, 10, 20 tahun kedepan bahkan mungkin sampai saya menutup usia. Inilah keputusan saya, tanpa ada rasa penyesalan, tanpa ada paksaan, dan tanpa desakan dari pihak manapun.

Ada keputusan, ada alasan. Semua orang disekitar saya tentunya mempertanyakan alasannya kenapa saya sampai bisa memutuskan untuk memeluk agama Islam, terutama orang-orang yang mengetahui pola pikir saya. Saya hanya memberikan jawaban singkat “Alhamdulillah Allah SWT sudah menurunkan hidayahnya kepada saya untuk menjadi lebih baik” dan tidak sedikit dari mereka yang melemparkan pertanyaan balikan namun saya akan dengan sabar menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang saya anggap sudah paling bijak. Saya tidak ingin menjadi paling benar karena saya seorang Muallaf. Malah karena saya Muallaf, saya merasa bahwa saya ini adalah gelas kosong yang perlu diisi oleh berbagai ilmu dunia maupun akhirat. 

Setelah menjadi seorang Muallaf, saya merasakan adanya perubahan pada hidup saya. Namun hal yang paling berasa yaitu hati saya menjadi lebih tenang dari biasanya. Kegelisahan tak berasalan yang kadang datang tanpa diundang sedikit demi sedikit menghilang. Namun bukan berarti saya tak mengalami ujian dan cobaan, terutama ujian dari lingkungan sekitar. Yang ada dipikiran saya saat itu adalah hasil yang indah membutuhkan proses dan proses membutuhkan pengorbanan. Sebaris kalimat anti klimaks yang selalu saya ucapkan “Semua Akan Indah Pada Waktunya” hahaa

Mungkin saya sudah sedikit banyak menceritakan mengenai proses hijrah saya, kali ini saya ingin menceritakan mengenai teman hidup saya. Ya, dialah istri saya saat ini. Wanita yang benar-benar menerima saya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya *kelebihan mah dibagian perut, sisanya kekurangan* simak ya, begini ceritanya.

Nama istri saya adalah Marsha. Saya dan Marsha adalah rekan kerja. Kita memang dekat, sering makan bareng, bahkan saya sering mengajak Marsha nonton di Bioskop. Bullyan ciee ciee dari teman kantor sudah tak terelakkan lagi. Tapi baik saya dan Marsha sudah menganggap itu adalah hal biasa. Kalau kata Marsha BOMAT, Bodo Amat! “Biarin ajalah mas, entar juga anak-anak kantor pada capek sendiri”. Cueknya Marsha memang sudah akut, udah ngalahin cueknya saya. 

Pernah saya menanyakan suatu hal ke Marsha “Sha kamu gak takut ntar kalau ada cowok yang mau deketin trus gak jadi karena ngirain kamu pacar aku gimana?” dengan santainya Marsha menjawab “yaelah mas kalau jodoh mah gak kemana” *ckckck mas ampun sama kamu Sha*. 

Sejujurnya saya juga gak tau kapan saya mulai suka sama Marsha, mungkin karena keseringan jalan sama dia, keseringn ngobrol sama dia, curhat sama dia. Bahkan pernah kami berdiskusi masalah agama dan pola pikir. Setelah beradu argumen dengan Marsha, saya bisa menyimpulkan kalau dia sangat open minded. Bahkan hampir semua pertanyaan saya dijawab dengan jawaban yang tidak memojokkan saya sebagai non muslim (saat itu saya masiih Katolik). Mungkin inilah yang menjadi pemicu saya untuk belajar mengenai Islam. Saya mulai mencari tau mengenai Islam, menonton ceramah di youtube, bahkan saya bertanya ke beberapa ustad yang dikenalkan oleh teman saya. Dan semua itu tanpa sepengetahuan Marsha.

Sampai suatu hari saya mengajak Marsha untuk nonton film yang lagi hits di Bioskop, setelah nonton kami menyempatkan untuk nongkrong bentar di kedai kopi, masih di mall yang sama. “Sha nikah yuk” sebaris kalimat yang saya lontarkan kepada Marsha. “Syahadat dulu kamu mas” jawaban yang selalu akan saya dengar jika saya mengajak dia menikah. Oiya sebelum-sebelumnya saya memang sudah sering mengajak dia menikah, namun saya akui itu hanyalah candaan belaka. Dan kali ini saya serius ingin melamar dia. Tapi saya rasa dia menganggap ajakan saya kali ini adalah candaan sama seperti sebelum-sebelumnya. 

Saya kemudian melanjutkan “kalau beneran syahadat kamu beneran mau nikah sama aku gak?”. Sambil mengaduk kopi pesanannya “hmmm... bisa diatur”. Ya ampun ni anak cueknya kebangetan. Tapi saya gak boleh kalah, kali ini beneran saya ingin melamar dia “yaudah kalo gitu kita bakal nikah”. Dan obrolan kami yang tadinya dalam konteks candaan berubah jadi serius. Obrolan panjang kami hari itu berakhir dengan jawaban YESSS dari Marsha.
Setelah YES dari Marsha tentunya perjuangan saya belum berakhir, sayapun harus bisa meyakinkan orang tuanya. Butuh waktu beberapa bulan untuk bisa mendapatkan restu dari orang tuanya. Awalnya ada penolakan dari orang tua Marsha tapi semua itu tidak menyurutkan semangat saya untuk memperistrikan teman kantor saya yang satu ini. 

Dan singkat cerita saya bertemu dengan kedua orang tuanya untuk secara resmi meminta restu mereka. Sumpah ini adalah hal kedua yang membuat otak saya berpikir keras. Baru kali ini juga saya harus berpikir dalam menjawab, biasanya mah asal ceplos aja. Pertemuan satu jam bersama orang tua Marsha serasa seharian. Untung saja orang tua Marsha lagi ada urusan waktu itu jadi tidak bisa berlama-lama. Terpujilah orang yang mempunyai janji dengan orang tua Marsha waktu itu.
Saya kembali mengingat pesan orang tua Marhsa sebelum meninggalkan kami “Segala sesuatunya kamu yang jalanin, Papa sama Mama cuma bisa mengarahkan dan memberi nasehat”. Sebenarnya sebaris kalimat nasehat itu adalah jawaban YA atas lamaran yang saya tujukan untuk Marsha. Aduh Pa, Bu mau bilang Ya aja pake dramatis gitu *semoga mertua gak baca tulisan inilah X_X*.

Dari proses lamaran hingga pernikahan Alhamdulillah semua dilancarkan. Disinilah saya percaya bahwa jika sudah menjadi kehendak Allah SWT, maka tidak akan ada kesulitan didalamnya.
Dari semua hal yang saya alami dalam hidup, saya rasa tidak ada yang kebetulan karena semua sudah menjadi skenario Allah. Kita manusia akan memerankan peran sesuai porsinya. Dan benar saja, keputusan saya untuk menjadi Muallaf menjadi awal dari semua kebahagiaan yang saya dapatkan hari ini. Saya memiliki istri yang baik hatinya, dan sebentar lagi menjadi seorang ayah. 

"Sha, Mas memang bukan suami yang romantis layaknya suami-suami yang lain

Mas juga suami yang selalu lupa buat ngucapin Happy Birthday

Mas juga sesekali absen ngasih kamu kado di hari ulang tahun kamu

Mas juga akan selalu terlelap duluan saat kamu mulai ngoceh dengan keluhan-keluhanmu di kantor.

Mas juga selalu lupa akan titipan-titpan kue kesukaanmu saat pulang kantor.

Karena mas hanya bisa menyuguhkan banyolan-banyolan yang selalu membuatmu cekikinan.

Sha, Mas sayang sama kamu, mas cinta sama kamu.

Semoga kita selalu bersama, tak terpisahkan, tak saling meninggalkan

Para pembaca, cerita diatas cuma fiktif belaka. Beberapa hari yang lalu saya memesan taksi online dari Jakarta ke kosan saya di Tangerang. Dan ternyata bapak drivernya seorang Muallaf, sepanjang jalan beliau menceritakan mengenai proses hijrahnya. Kebetulan saya memang sangat tertarik dengan kisah orang-orang yang menjadi Muallaf. Salah satunya adalah ustad Felixsiauw. Dan kali ini saya mendapat kesempatan untuk mendengar langsung dari seorang Muallaf. Rasa haru, dan kagum bercampur saat mendengar cerita sang bapak driver. Sungguh suatu hadiah yang luar biasa dari Allah SWT untuk orang-orang yang dibukakan hatinya untuk berhijrah menjadi lebih baik, terlebih untuk mereka yang memutuskan menjadi seorang Muallaf. 

Tadinya saya ingin menulis cerita mengenai bapak driver tapi karena saya takut salah dan saya rasa kurang akurat jika saya menulis cerita tanpa mewawancarai langsung orang yang menjadi objek cerita, makanya muncullah ide tulisan diatas. Ya kira-kira seperti itulah asal muasal ide dari cerita fiktif diatas.

Mungkin kedepannya saya akan bikin cerita dengan kisah yang berbeda tapi masih dalam topik Muallaf. Tapi ntar, kalau sekarang belum ada idenya...... hahahhaha
Read More
Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts