BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Wednesday, February 8, 2017

MUALLAF, THE BEST DECISION IN MY LIFE


Belum pernah rasanya saya berpikir sekeras ini untuk menentukan sebuah keputusan. Padahal saya bukanlah seorang tipe pemikir dan tidak terlalu meribetkan sesuatu, apapun itu. Bagi saya ya hidup cukup berdasarkan logika dan ya udah. Maklum saya memang rada pemalas dan senengnya yang happy-happy saja. Namun kali ini otak saya dibuat berpikir 1000x lebih keras dari biasanya. Bahkan lebih keras dari saya bermain candy crush, mainan di handphone yang sering saya mainkan dikala bosan dan gak bosan hahahahaaa..

Saya adalah seorang Katolik namun pola pikir saya cenderung atheis. Dan saat ini saya memutuskan untuk berpindah agama menjadi seorang muslim. Keputusan ini bukanlah sebuah keputusan yang mudah bagi saya. Mungkin keseharian saya terlihat tanpa beban tapi sejujurnya ada perdebataan antara hati dan logika. Secara logika ketika saya berpindah agama tentunya teman-teman akan banyak yang mempertanyakan, menjadi bahan omongan bahkan mungkin celaan. Itu baru sisi teman-teman, belum dari sisi keluarga. Pasti tidak kalah gencarnya pertanyaan mereka kepada saya. Tapi secara hati, saya menginginkan sebuah kebenaran, dan saya rasa kebenaran itu akan saya dapatkan setelah saya memeluk agama Islam

Satu hal yang perlu saya syukuri, kedua orang tua saya tidak melarang saya memeluk Islam. Karena keluarga besar saya memang banyak yang beragama Islam. Jadi bukan hal yang tabu jika ada anggota keluarga yang berpindah agama. Tapi tetap saja awalanya dibombardir berbagai macam pertanyaan yang diawali dengan kata-kata “kenapa” “yakin?” “kok bisa” ya pokoknya banyaklah dan malam itu berasa jadi peserta sidang tugas akhir dimana orang tua sebagai penguji. Saya tau orang tua saya pasti shock mendengar keputusan saya. Tapi keputusan saya sudah bulat, InshaaAllah segala keputusan ini berasal dari Allah SWT

Setelah saya menjelaskan alasan saya dengan jelas akhirnya mereka menerima keputusan saya untuk memeluk agama Islam. Dan diskusi malam itu ditutup dengan satu pesan dari orang tua saya “Apapun Pilihan Kamu Pertanggungjawabkan” kalimat singkat ini cukup menjadi motivasi sekaligus beban bagi saya. Pfffftttttt T_T

20 Januari 2017, hari jumat dihadapan ustad dan beberapa jamaah sholat jumat pertama kalinya saya mengucap dua kalimat syahadat, Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Hari itu menjadi moment yang sakral buat saya. Entah kenapa saat mengucap dua kalimat syahadat rasanya ada getaran dari dalam dada dan tanpa terasa air mata saya mengalir dengan derasnya, ada rasa bahagia seakan saya sedang mendapatkan sesuatu yang sudah lama saya impikan. Kalau bukan perkara laki-laki mungkin saya udah mewek-semeweknya. Ya kurang lebih seperti itu yang saya rasakan. 

Siapa sangka keputusan yang sempat menjadi perdebatan dipikiran saya kala itu adalah keputusan yang bisa mengubah kehidupan saya 5, 10, 20 tahun kedepan bahkan mungkin sampai saya menutup usia. Inilah keputusan saya, tanpa ada rasa penyesalan, tanpa ada paksaan, dan tanpa desakan dari pihak manapun.

Ada keputusan, ada alasan. Semua orang disekitar saya tentunya mempertanyakan alasannya kenapa saya sampai bisa memutuskan untuk memeluk agama Islam, terutama orang-orang yang mengetahui pola pikir saya. Saya hanya memberikan jawaban singkat “Alhamdulillah Allah SWT sudah menurunkan hidayahnya kepada saya untuk menjadi lebih baik” dan tidak sedikit dari mereka yang melemparkan pertanyaan balikan namun saya akan dengan sabar menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang saya anggap sudah paling bijak. Saya tidak ingin menjadi paling benar karena saya seorang Muallaf. Malah karena saya Muallaf, saya merasa bahwa saya ini adalah gelas kosong yang perlu diisi oleh berbagai ilmu dunia maupun akhirat. 

Setelah menjadi seorang Muallaf, saya merasakan adanya perubahan pada hidup saya. Namun hal yang paling berasa yaitu hati saya menjadi lebih tenang dari biasanya. Kegelisahan tak berasalan yang kadang datang tanpa diundang sedikit demi sedikit menghilang. Namun bukan berarti saya tak mengalami ujian dan cobaan, terutama ujian dari lingkungan sekitar. Yang ada dipikiran saya saat itu adalah hasil yang indah membutuhkan proses dan proses membutuhkan pengorbanan. Sebaris kalimat anti klimaks yang selalu saya ucapkan “Semua Akan Indah Pada Waktunya” hahaa

Mungkin saya sudah sedikit banyak menceritakan mengenai proses hijrah saya, kali ini saya ingin menceritakan mengenai teman hidup saya. Ya, dialah istri saya saat ini. Wanita yang benar-benar menerima saya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya *kelebihan mah dibagian perut, sisanya kekurangan* simak ya, begini ceritanya.

Nama istri saya adalah Marsha. Saya dan Marsha adalah rekan kerja. Kita memang dekat, sering makan bareng, bahkan saya sering mengajak Marsha nonton di Bioskop. Bullyan ciee ciee dari teman kantor sudah tak terelakkan lagi. Tapi baik saya dan Marsha sudah menganggap itu adalah hal biasa. Kalau kata Marsha BOMAT, Bodo Amat! “Biarin ajalah mas, entar juga anak-anak kantor pada capek sendiri”. Cueknya Marsha memang sudah akut, udah ngalahin cueknya saya. 

Pernah saya menanyakan suatu hal ke Marsha “Sha kamu gak takut ntar kalau ada cowok yang mau deketin trus gak jadi karena ngirain kamu pacar aku gimana?” dengan santainya Marsha menjawab “yaelah mas kalau jodoh mah gak kemana” *ckckck mas ampun sama kamu Sha*. 

Sejujurnya saya juga gak tau kapan saya mulai suka sama Marsha, mungkin karena keseringan jalan sama dia, keseringn ngobrol sama dia, curhat sama dia. Bahkan pernah kami berdiskusi masalah agama dan pola pikir. Setelah beradu argumen dengan Marsha, saya bisa menyimpulkan kalau dia sangat open minded. Bahkan hampir semua pertanyaan saya dijawab dengan jawaban yang tidak memojokkan saya sebagai non muslim (saat itu saya masiih Katolik). Mungkin inilah yang menjadi pemicu saya untuk belajar mengenai Islam. Saya mulai mencari tau mengenai Islam, menonton ceramah di youtube, bahkan saya bertanya ke beberapa ustad yang dikenalkan oleh teman saya. Dan semua itu tanpa sepengetahuan Marsha.

Sampai suatu hari saya mengajak Marsha untuk nonton film yang lagi hits di Bioskop, setelah nonton kami menyempatkan untuk nongkrong bentar di kedai kopi, masih di mall yang sama. “Sha nikah yuk” sebaris kalimat yang saya lontarkan kepada Marsha. “Syahadat dulu kamu mas” jawaban yang selalu akan saya dengar jika saya mengajak dia menikah. Oiya sebelum-sebelumnya saya memang sudah sering mengajak dia menikah, namun saya akui itu hanyalah candaan belaka. Dan kali ini saya serius ingin melamar dia. Tapi saya rasa dia menganggap ajakan saya kali ini adalah candaan sama seperti sebelum-sebelumnya. 

Saya kemudian melanjutkan “kalau beneran syahadat kamu beneran mau nikah sama aku gak?”. Sambil mengaduk kopi pesanannya “hmmm... bisa diatur”. Ya ampun ni anak cueknya kebangetan. Tapi saya gak boleh kalah, kali ini beneran saya ingin melamar dia “yaudah kalo gitu kita bakal nikah”. Dan obrolan kami yang tadinya dalam konteks candaan berubah jadi serius. Obrolan panjang kami hari itu berakhir dengan jawaban YESSS dari Marsha.
Setelah YES dari Marsha tentunya perjuangan saya belum berakhir, sayapun harus bisa meyakinkan orang tuanya. Butuh waktu beberapa bulan untuk bisa mendapatkan restu dari orang tuanya. Awalnya ada penolakan dari orang tua Marsha tapi semua itu tidak menyurutkan semangat saya untuk memperistrikan teman kantor saya yang satu ini. 

Dan singkat cerita saya bertemu dengan kedua orang tuanya untuk secara resmi meminta restu mereka. Sumpah ini adalah hal kedua yang membuat otak saya berpikir keras. Baru kali ini juga saya harus berpikir dalam menjawab, biasanya mah asal ceplos aja. Pertemuan satu jam bersama orang tua Marsha serasa seharian. Untung saja orang tua Marsha lagi ada urusan waktu itu jadi tidak bisa berlama-lama. Terpujilah orang yang mempunyai janji dengan orang tua Marsha waktu itu.
Saya kembali mengingat pesan orang tua Marhsa sebelum meninggalkan kami “Segala sesuatunya kamu yang jalanin, Papa sama Mama cuma bisa mengarahkan dan memberi nasehat”. Sebenarnya sebaris kalimat nasehat itu adalah jawaban YA atas lamaran yang saya tujukan untuk Marsha. Aduh Pa, Bu mau bilang Ya aja pake dramatis gitu *semoga mertua gak baca tulisan inilah X_X*.

Dari proses lamaran hingga pernikahan Alhamdulillah semua dilancarkan. Disinilah saya percaya bahwa jika sudah menjadi kehendak Allah SWT, maka tidak akan ada kesulitan didalamnya.
Dari semua hal yang saya alami dalam hidup, saya rasa tidak ada yang kebetulan karena semua sudah menjadi skenario Allah. Kita manusia akan memerankan peran sesuai porsinya. Dan benar saja, keputusan saya untuk menjadi Muallaf menjadi awal dari semua kebahagiaan yang saya dapatkan hari ini. Saya memiliki istri yang baik hatinya, dan sebentar lagi menjadi seorang ayah. 

"Sha, Mas memang bukan suami yang romantis layaknya suami-suami yang lain

Mas juga suami yang selalu lupa buat ngucapin Happy Birthday

Mas juga sesekali absen ngasih kamu kado di hari ulang tahun kamu

Mas juga akan selalu terlelap duluan saat kamu mulai ngoceh dengan keluhan-keluhanmu di kantor.

Mas juga selalu lupa akan titipan-titpan kue kesukaanmu saat pulang kantor.

Karena mas hanya bisa menyuguhkan banyolan-banyolan yang selalu membuatmu cekikinan.

Sha, Mas sayang sama kamu, mas cinta sama kamu.

Semoga kita selalu bersama, tak terpisahkan, tak saling meninggalkan

Para pembaca, cerita diatas cuma fiktif belaka. Beberapa hari yang lalu saya memesan taksi online dari Jakarta ke kosan saya di Tangerang. Dan ternyata bapak drivernya seorang Muallaf, sepanjang jalan beliau menceritakan mengenai proses hijrahnya. Kebetulan saya memang sangat tertarik dengan kisah orang-orang yang menjadi Muallaf. Salah satunya adalah ustad Felixsiauw. Dan kali ini saya mendapat kesempatan untuk mendengar langsung dari seorang Muallaf. Rasa haru, dan kagum bercampur saat mendengar cerita sang bapak driver. Sungguh suatu hadiah yang luar biasa dari Allah SWT untuk orang-orang yang dibukakan hatinya untuk berhijrah menjadi lebih baik, terlebih untuk mereka yang memutuskan menjadi seorang Muallaf. 

Tadinya saya ingin menulis cerita mengenai bapak driver tapi karena saya takut salah dan saya rasa kurang akurat jika saya menulis cerita tanpa mewawancarai langsung orang yang menjadi objek cerita, makanya muncullah ide tulisan diatas. Ya kira-kira seperti itulah asal muasal ide dari cerita fiktif diatas.

Mungkin kedepannya saya akan bikin cerita dengan kisah yang berbeda tapi masih dalam topik Muallaf. Tapi ntar, kalau sekarang belum ada idenya...... hahahhaha

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts