BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Tuesday, June 6, 2017

SEMERU - THE MOST DRAMATIC CLIMB!!

Semeru, gunung yang sudah menjadi idola dihati para pendaki ditambah dengan kehadiran film 5cm yang menampilkan keindahan yang tersimpan di gunung ini semakin mendongkrak popularitas Gunung Semeru. Dikenal dengan Puncak Abadi Para Dewa, Gunung tertinggi di Pulau Jawa, pendaki mana yang tidak gatel pengen menginjakkan kaki kesana, termasuk saya dan 2 orang sahabat saya. Saya, Hafiz, dan Rahman sudah merencanakan pendakian ini dari tahun 2016 *lupa tepatnya bulan apa*dan terealisasi lah di bulan April 2017. Namun pendakian yang sejatinya sangat kami tunggu-tunggu ini ternyata dibalut dengan begitu banyak drama. Mau tau drama apa aja? Simak ceritanya *dih sok ngartis lu ghaaaa*

Keberangkatan kami memang berbeda-beda, ada yang dari Jakarta, ada yang memang sudah di Surabaya dan saya sendiri berangkat dari Medan (saya bukan org Medan ya, cuman lagi dinas kerja di Medan) maka dari itu meeting point kami buat di Bandara Juanda.

Mendengar kabar bahwa salah satu teman rombongan kami ketinggalan pesawat itu rasanyaaaa, nyesek tak tertahankan. Jeng jeng jenggg.. drama dimulai. Dan tak lama kemudian drama lain menyusul dengan kabar bahwa satu lagi teman kami batal berangkat karena pesawat yang akan dia tumpangi di cancel. Hati rasanya udah gak karu2an. Sejujurnya saat itu semangat untuk berangkat ke Semeru sudah turun 20%, mengingat 2 teman kami yang batal ini adalah bisa dibilang sang Gatot Kaca dari rombongan hahaha ^_V. Alhasil jumlah rombongan yang awalnya 12 org sisa 10 orang dengan formasi 5 cewek 5 cowok. Ya sudahlah ya, mau gimana lagi perjalanan harus tetap dilanjutkan sama kayak hidup. Bahasa kerennya Life Must Go On *loh loh kok jadi curhat*

Oke skip..
foto pemanasan dulu lah
Siluet, saat itulah kutampak sedikit kurusan
Rasanya sudah lama sekali saya ingin kesini dan baru terwujud sekarang, melihat pintu gerbang yang ada tulisan Ranupanenya aja udah seneng banget, gimana nanti bisa berdiri di Puncak Mahameru. Itu yang terbesit di hati dan pikiran saya saat itu, sebelum terjadi THE NEXT DRAMA yang akhirnya berakhir dengan kalimat “oke, kayaknya kita gak bisa sampai puncak”.

Setelah melakukan pendaftaran, mengecek barang bawaan, repacking, sunblockan, dan briefing. Oiya sebelum melakukan pendakian para pendaki harus melakukan briefing. Briefing dilakukan diruangan tertutup dan kapasitasnya pun terbatas. Jadi buat kalian yang berencana untuk melakukan pendakian lebih awal jangan sampai telat untuk pendaftaran dan briefing. Karena untuk briefing antrinya luar biasa cem jalan tol di Jakarta. Setelah semua itu terakhir adalah pengecekan surat keterangan sehat. Dan inilah drama yang paing jadi sorotan dalam pendakian kali ini.
Briefing.. Wajib Broo!!
Tiga surat sehat, termasuk saya ditolak mentah-mentah oleh pengelola TNBTS. Karena surat sehat tersebut memang palsu, capnya bukan cap basah tapi hanya cap hasil print-an. Dengan segala jurus, jurus melas, jurus tipu-tipu tetep aja gak mempan. Udah barang palsu mau tipu2 pula, ya gak loloslah. Oke akhirnya kami menyerah untuk melakukan aksi tipu-tipu. Kami pun mencoba bertanya ke warga sekitar dan porter yang ada disana, satu-satunya cara agar supaya kami yg bersurat sehat palsu ini bisa lolos ya buat surat sehat asli di puskesmas terdekat. Dan puskesmas terdekat ada di Tumpang yang jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam sekali berangkat. Whaaat??????

Pikiran yang udah gak karuan, begitupun hati. Udah pengen nyerah tapi pengen nanjak juga. Dan saat seperti inilah kesetiaan seorang teman diuji. Rahman dan Hafiz angkat bicara, “Masih mau lanjut gak? Ayo buruan urus suratnya, masih ada waktu kok. Kita tungguin”. Terharuuuuuuuu T____T. Demi mendapatkan surat sehat, kami bertiga rela menempuh perjalan 3jam pulang pergi. Kondisi jalan yang naudzubillah ditambah lagi karena buru-buru kecepatan mobil yang hanya driver dan Tuhan yang tau, jurang, mobil tanpa klakson *ebuseeeeet ngalahin shooting FF8 ini mah*. Akhirnya sampai kembali ke Ranupane dengan selamat tanpa ada cacat sudah jadi rasa syukur banget buat kami bertiga.

Lega telah mendapatkan surat sehat dan berhasil lolos untuk melakukan pendakian. Tapi harus dibayar dengan rasa ikhlas bahwa puncak mungkin tidak dapat kami gapai. Saya jadi inget kalimat hits di Instagram “Puncak bukanlah tujuan utama tapi kembali dengan selamat yang menjadi tujuan kita”.  Sekitar jam 3 sore kami melangkahkan kaki memulai pendakian. Untungnya selama perjalanan menuju Ranukumbolo tidak ada drama yang lebih menguras hati. Paling hanya rasa lelah dan letih, nyut-nyut di betis, pundak, jempol kaki, dan hujan yang mengguyur.
para pencari sinyal ^_^
Sempat kehilangan harapan untuk menyaksikan hamparan bintang di langit Ranukumbolo, namun ternyata setelah bersantap malam dan membuat minuman hangat, langit malam itu bisa diajak kompromi. Satu per satu bintang mulai bermunculan. Selepas sholat isya, saya menyempatkan untuk berbaring sebentar diatas matras, menatap langit bertaburan bintang, dan melayangkan pikiran ke hal-hal yg tak usah diceritakan disini :)))))
 

 

Kekinian
One of my perfect morning
Kalau kami memang tak bisa menggapai puncak, minimal kami bisa berfoto dengan background sang Maha Puncak di Jambangan. Tanjakan Cinta, Ora-Ora Ombo, Cemoro Kandang memang indah luar biasa. Tak heran memng jika gunung ini sangat fenomenal. Keindahan yang tersimpan di dalamnya memang melegakan hati. Dalam perjalanan dari Jambangan kembali ke Ranukumbolo, saya menyempatkan duduk sebentar dan menatap lekat-lekat semua keindahan yang ada didepan mata . Semua keindahan yang saya saksikan saat itu memang sudah diabadikan di kamera handphone tapi keindahan yang tercapture oleh kamera tidak akan bisa menandingi keindahan yang disaksikan oleh mata kepala. Kalau gak percaya, dateng sendiri deh.
setelah ini jalurnya bakal nanjak terus, persiapkan fisikmu nak
betis udah cenat cenut tp ketinggiannya masih 2600. nyesek gak lo??
tuh bpk2 aja kuat, masa yang muda2 kalah telak
belum sempet naik puncak, minimal foto background puncak

Saat ini saya memang tidak diberi kesempatan untuk menikmati keindahan diatas sana (nunjuk ke Puncak Mahameru) tapi kelak saya akan kembali lagi dengan persiapan yang lebih matang dan tentunya dengan surat sehat asli. Rasa penasaran dengan puncak sejujurnya masih berlum terjawab. Sepulang dari Semeru, selain membawa pulang ole-ole foto yang bejibun ada dengkul yang cenat cenut *koyo mana koyo*.

keluarga cemoro
roti bakar yg jadi enak bgt kalo di gunung

Oiya drama penutup dari perjalanan kami adalah teman-teman yang malamnya pulang ke Jakarta nyaris ketinggalan pesawat, belum ada yang ganti baju karena gak sempet, masih dengan kostum berlumur debu semeru... SEKIAN!!

The Fenomenal of Ranukumbolo


Add Information:
KNO-SUB PP = sekitar 2jtan (check di traveloka aja)
SUB-TUMPANG PP = 2,5jt (elf, kapasitas 19org) - CP: 085645981180
TUMPANG-RANUPANE = 1jt (2 mobil avanza) - CP: 081333310017
RANUPANE-TUMPANG = 650rb (jeep, muat 10 org) - CP:081232058250
PORTER = 200rb/hari/org (maksimal bawaan 20kg)




0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts