BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Tuesday, August 22, 2017

MENULUSURI SPOT MAINSTREAM INDONESIA PALING BARAT (Part 2)

Sebelumnya di Part 1, lanjut hari kedua masih dengan penulusuran tempat-tempat mainstream di bagian Indonesia paling barat.

#Banda Aceh – Museum Tsunami

Museum Tsunami Aceh adalah museum yang dibangun sebagai monumen simbolis untuk bencana tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 lalu. Bencana yang membumi ratakan kawasan Banda Aceh dan menelan ratusan ribu korban ini menyisakan luka perih di hati warga Indonesia, terlebih warga Aceh. Museum ini dirancang oleh Bapak Ridwan Kamil, yang sekarang menjabat sebagai Walikota Kota Bandung.

Bentuk gedung ini sangat unik. Dilihat dari samping tampak seperti bentuk kapal, namun bila diperhatikan dari atas tampak seperti pusaran gelombang yang merefleksikan gelombang tsunami. Bapak Ridwan Kamil memang seorang yang berbakat, karya dari beliau ini memang tak hanya monumen peringatan tsunami Aceh tapi juga sebagai perlindungan dari bencana tsunami apabila terjadi lagi di masa mendatang.
Sebelum masuk lebih dalam di gedung ini, pengunjung akan menemui lorong sempit dan gelap diantara dua dinding dengan air yang mengalir. Saya memang tidak merasakan langsung bencana ini, tapi lorong ini seolah mengantarkan saya merasakan suasana dan kepanikan saat tsunami. Jujur gak lebay, bulu kuduk saya sempat merinding.
Lorong Sebelum Masuk Ke Dalam Museum
Setelah melewati lorong, wisatawan akan mendapati ruangan yang dindingnya berlapis cermin-cermin dan di tengah ruangan ada banyak balok-balok yang diatasnya terdapat layar yang menampilkan potongan foto-foto sebelum dan sesudah terjadi tsunami.

Tidak cukup sampai disitu, memasuki lebih dalam bagian gedung ini akan ada ruangan gelap, hanya cahaya lampu yang tertempel di dinding yang menjadi penerang sekaligus dinding-dinding tersebut bertuliskan nama-nama korban serta di bagian paling atas terdapat lubang untuk masuknya cahaya matahari. Hati saya begetar melihat lubang paling atas pada ruangan tersebut. Terdapat ukiran ALLAH. Menurut saya pribadi, ini adalah ruangan yang paling spiritual dari semua ruangan di museum ini.
The Light Of God
Nama-Nama Korban Tsunami
Perjalanan masih berlanjut, diruang-ruang selanjutnya lebih menceritakan sejarah kota Banda Aceh. Sebelum terjadi tsunami, saat terjadi tsunami, dan bahkan setelah terjadi tsunami. Ada juga maket-maket yang sengaja dibuat untuk menampilkan kondisi saat tsunami terjadi. Semua itu hanya maket, hanya boneka tapi rasanya cukup bisa membuat saya merasakan bencana dahsyat yang terjadi di tahun 2004 silam.
Maket-Maket Yang Menggambarkan Kondisi Saat Tsunami
Maket-Maket Bangunan-Bangunan Yang Hancur Di Terjang Tsunami
Sisi Lain Museum Tsunami *tjakeep*
Bahkan ada 1 ruangan yang disediakan untuk pemutaran film pendek berdurasi 30 menit. Film yang tentunya menampilkan bagaimana kondisi Banda Aceh saat di terjang tsunami. Bangunan, jalan-jalan, mobil-mobil semua hancur tak tersisakan.

Oiya mungkin saya lupa bilang kalau tiket masuk museum ini gratis!!

#Banda Aceh – Masjid Baiturrahman

Sebagai umat muslim, rasanya tak lengkap jika ke Aceh tapi tidak menyempatkan beribadah di masjid yang menjadi ikon tanah Serambi Mekkah ini yakni Masjid Baiturrahman. Masjid yang masih berdiri kokoh saat tsunami terjadi menambah kisah menarik dari sejarah Masjid Baiturrahman. Setelah mengalami beberapa kali transformasi, kini masjid ini tampak semakin menarik dengan arsitektur yang indah. Di sekeliling halaman di luar masjid dilapisi dengan marmer dan ditambah dengan payung-payung elektrik. Bahkan ada yang menyebutkan tampilan Masjid Baiturrahman mirip dengan Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Pada saat saya berkunjung pembangunannya memang belum selesai. Tapi dengan tampilan yang saat ini pun sudah sangat indah, bahkan betah berlama-lama berada disana walaupun cuaca di Aceh sangatlah terik.
Masjid Baiturrahman Aceh
Halaman Sekitar Masjid
Kondisi Di Dalam Masjid Yang Bikin Betah Berlama-Lama
Untuk masuk kedalam masjid, pengunjung diharuskan untuk melepas alas kaki dan menggunakan rok untuk perempuan (jika memakai celana, maka dari pengurus masjid akan memberikan rok) dan celana panjang untuk laki-laki (jika menggunakan celana pendek, maka pengurus masjid memberikan sarung) selama berada dikawasan masjid.

#Banda Aceh – Kapal Di Atas Rumah

"Kapal Diatas Rumah" atau "Kapal Lampulo"
“Kapal Lampulo” ya seperti itulah sebutan objek wisata yang satu ini karena memang terletak di Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam. Dan sebutan lainnya “Kapal Di Atas Rumah” karena kapal ini memang berada di atas rumah. Bukan karena sengaja diletakkan diatas rumah melainkan karena dahsyatnya gelombang tsunami yang menerjang Kota Banda Aceh lalu menyebabkan kapal nelayan yang biasanya digunakan mencari ikan ini terhempas sekitar 1 kilometer ke pemukiman warga dan tersangkut diatas salah satu rumah warga.

“Kapal nelayan ini menjadi saksi bisu kehebatan gelombang tsunami yang terjadi kala itu. Kalau tidak ada kapal ini, mungkin saya tidak akan selamat dari bencana tsunami”, terang seorang nenek warga desa itu yang menceritakan kejadian yang dialaminya saat tsunami terjadi. “Bahkan kapal nelayan ini menyelamatkan 59 nyawa saat itu, termasuk saya salah satunya”, tambah penjelasan dari sang nenek.
Kapal Lampulo Dilihat Dari Atas
Di sebelah kanan kapal dibuat jalanan setinggi 5 meter agar pengunjung dapat melihat kapal dari atas. Dari atas dapat terlihat puing-puing rumah warga yang hancur karena terjangan tsunami, bahkan kondisinya pun tetap dipertahankan, tidak merubah bentuk aslinya agar selamanya bisa menjadi saksi bisu bencana tsunami Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 silam. 

Terlihat pula cat kapal yang telah diperbaharui sebagai bagian dari perawatan objek wisata dan agar enak dipandang. Di sekitar kawasan ini juga ada toko yang menjual souvenir, kopi, jajanan khas kota ini. 

#Banda Aceh – PLTD Apung

Bukan hanya “Kapal Diatas Rumah” tapi ada kapal lain yang menjadi saksi bisu dahsyatnya tsunami Aceh yang pernah terjadi, yakni “Kapal PLTD Apung”. Kalau Kapal Lampulo terseret 1 kilometer jauhnya, nah Kapal PLTD Apung ini malah terseret sejauh 5 kilometer. Awalnya kapal ini berada di wilayah Ulee Lheue, digunakan sebagai sumber tenaga listrik diwilayah tersebut. Tapi kedahsyatan gelombang tsunami membuat kapal ini terseret hingga ke jantung Kota Banda Aceh. Letak objek wisata yang satu ini memang tidak jauh dari Museum Tsunami.
Kapal PLTD Apung
Kawasan Disekitar PLTD Apung
“Tadinya kapal ini ingin dikembalikan ke wilayah Ulee Lheue tapi dengan luas mencapai 1.900 meter dan bobot 2.600 ton rasanya mustahil untuk menggeser kapal ini kembali ke wilayah asalnya”, kurang lebih seperti penjelasan dari teman yang mengantar kami selama berada di Kota Banda Aceh. Oleh karena itu, pemerintah membeli wilayah ini untuk dijadikan monument sekaligus menjadi wahana wisata edukasi.

Saat berkunjung ke tempat wisata ini, pastikan tidak pada saat jam sholat karena dengan tegas petugas disana akan mempersilahkan para pengunjung untuk meninggalkan lokasi wisata dan akan dipersilahkan kembali masuk saat sholat telah selesai. Dan benar-benar tidak ada toleransi, tegas, dan disiplin. BAGUS PAK, LANJUTKAN!!

Beberapa tempat wisata yang menjadi ikon Kota Banda Aceh sudah kami kunjungi. Lagian waktu juga sudah menunjukkan pukul 4 sore hari. Sebelum pulang ke penginapan, kami memang berencana untuk mengunjungi salah satu pantai yang tak jauh dari Kota Banda Aceh.

Ohya, semua tempat wisata yang kami kunjungi di Kota Banda Aceh itu gratissss!! Saya sangat kagum dengan pemerintah kota ini, semua tempat wisatanya ramai pengunjung tapi tidak ada unsur komersil didalamnya. Walaupun tidak dipungut biaya di tempat wisata tapi kondisi objek wisata yang ada sangat terawat *4 thumb up*

#Banda Aceh – Pantai Lampuuk

Diawali dengan wisata alam, ditutup dengan wisata alam *sempurna*

Belum cukup dengan wisata-wisata menakjubkan di Kota Banda Aceh, ternyata ada pantai yang mempesona yang tak jauh dari kota ini, hanya sekitar 15 kilometer dari Kota Banda Aceh. Ekspektasi saya bahwa kondisi pantai yang tak jauh dari kota pasti akan kotor oleh sampah, dan belum lagi airnya yang tidak sejernih dengan pulau terpencil. Tapi saya keliru. Kondisi Pantai Lampuuk berbeda dengan yang ada dipikiran saya. Pantas saja pantai ini dijuluki sebagai primadona wisata Aceh. Pasir putih, pohon pinus yang rindang, pemandangan tebing bebatuan karang di ujung pantai, warna air yang tak kalah jernih dengan Pulau Weh, wajar jika pantai ini selalu ramai akan pengunjung.

Sayang, Pada Saat Kesana Cuaca Sedang Mendung
Ada banyak hal yang bisa dilakukan di pantai ini, sekedar berenang atau bermain air di bibir pantai, bermain banana boat, ombak tinggi untuk berselancar, atau hanya duduk2 cantik sambil mengisi perut dengan nikmatnya ikan bakar dari warung makan di sisi pantai ditambah dengan kesegaran es kelapa muda juga bisa. Di sekitar pantai disediakan semacam pondokan untuk para pengunjung yang ingin beristirahat sambil menikmati keindahan pantai.


Bulet-Bulet Semua Yak :))))
Awalnya saya mengira akan ada warga atau petugas yang akan menagih sewa pondokan, namun sejam berlalu, durian yang kami beli juga sudah habis, hingga kami beranjak pulang, tak ada tagihan sewaan. Wah lagi lagi gratissss.

Aceh, berhasil mencuri hati saya. Tak salah menjadikan Aceh dan Pulau Weh sebagai salah satu “Destinasi Wajib Kunjung” dalam hidup saya. Wisata alam, wisata sejarah, wisata kuliner, Aceh termasuk juara. Apalagi kopinya. Saya sangat suka dengan kopi khas Aceh. Kopi yang pernah buat saya gak tidur semalaman karena minum 2 gelas kopi khas Aceh dengan rasa yang berbeda.
Guys, you must try!!
Saat itu sebelum meninggalkan Kota Banda Aceh, doa saya dalam hati “semoga tak ada lagi bencana dahsyat yang menimpa kota ini, dan kota-kota di seluruh Indonesia. Bencana yang bukan hanya merenggut harta benda tapi juga nyawa manusia, bencana yang memilukan hati tiap warganya, bencana yang memisahkan setiap anggota keluarga. Cukuplah tsunami yang menjadi bencana dahsyat yang menimpa kota ini”







Jarak dari satu tempat ke tempat memang tidak terlalu jauh. Belum lagi kondisi jalan di Aceh tidak semacet Jakarta. Jadi dalam sehari pun bisa mengunjungi beberapa tempat di kota ini.


::Additional Information::
1. Kapal cepat Ulee Lheue (Aceh)- Balohan (Sabang)  = Rp. 80.000 (Executive)
2. Kapal cepat Balohan (Sabang) - Ulee Lheue (Aceh) = Rp. 80.000 (Executive)
3. Sewa Motor di Sabang  = Rp. 100.000/motor (2 hari) - CP : 085277903700
    Note: sebenanrnya Rp. 75.000/hari. Tapi karena hari minggu saya hanya menyewa 1/2hari jadinya dapat potongan. Jadi kalian tawar aja kalau cuman make 1/2 hari.
4. Penginapan di Sabang (Pantai Iboih)  = Rp. 400.000 (2D1N) - CP : 081360601597
5. Boat + Guide + Foto Underwater + Alat Snorkeling  = Rp. 650.000 (saya lupa per itemnya berapa)
    Note: untuk penyewaan peralatan snorkeling bisa tanya ke yang punya penginapan


Nextnya tunggu tulisan saya tentang trip “PELARUGA, GREEN CANYON VERSI SUMATERA UTARA” 😊
Read More

MENULUSURI SPOT MAINSTREAM INDONESIA PALING BARAT (Part 1)

Kesempatan itu akhirnya datang juga, kesempatan mengunjungi Indonesia ujung paling paling barat, yang tak lain adalah Provinsi Banda Aceh dan Pulau Weh. Hanya butuh 2 minggu perencaan dan semuanya berjalan 90% sesuai rencana, 10% sisanya seperti biasa ada drama-drama sebagai bumbu dari sebuah trip.

Saat itu saya memang masih berada di Medan, disalah satu tempat proyek saya bekerja. Seperti yang sudah sudah, memanfaatkan kesempatan pas lagi proyek luar kota adalah hobi baru saya sejak bekerja. Mumpung di Medan, tak ada salahnya untuk sekalian berkunjung ke Aceh, dan dengan memanfaatkan fasilitas hometrip *ngakak terbang2*.

Bermodalkan informasi dari mbah Google, baca sana sini di blog orang, dan informasi dari teman-teman yang sudah pernah kesana akhirnya itinerary trip Aceh ready. Selain itinerary ada hal lain yang jauh lebih siap, tak lain dan tak bukan adalah NIAT.

Jadwal kapal menyebrang dari Pelabuhan Ulee Lheue (Aceh) – Balohan (Sabang) adalah jam 10.00. dan pagi itu pesawat baru landing di Bandara Sultan Iskandar Muda sekitar pukul 09.00. Belum lagi harus mengantri turun, berjalan keluar terminal sampai bertemu dengan Bapak yang akan mengantar kami ke Pelabuhan Ulee Lheue. Oiya saya lupa cerita, kalau salah satu rekan trip kali ini adalah orang Aceh namanya Fauzan tapi biasa dipanggil Ojan. Jadi segala fasilitas kendaraan dan penginapan selama di Banda Aceh free dari Ojan *ini nih yang namanya dapet durian runtuh bertubi-tubi* *rejeki anak baik doyan trip*. Tawaran tersebut sangat membantu penghematan budget kami, sangat-sangat membantu. Jadi maaf teman-teman semuanya, saya tidak bisa memberikan referensi kendaraan dan penginapan selama di Banda Aceh. Semoga kalian yang mau kesini bisa seberuntung saya hahahaha.

Sekitar pukul 9 lewat nyaris setengah 10 kami baru memulai perjalanan menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Rasa senang bercampur deg-deg an. Loh kok deg-deg an Gha? Kayak udah mau lamaran aja. Iyalah deg-deg an, bakal ketinggalan kapal atau tidak. Tapi kalaupun buruk-buruknya ketinggalan kapal cepat, yasudahlah yak. Berarti harus ada perubahan rencana, rombak 180 derajat. Sebenarnya ada kapal lambat yang berangkat pukul 11. Tapi lama perjalanannya 2 jam. 2 jam? Belum perjalanan ke penginapan, belum ngurus ina inu nya, duh gak yakin bisa ke kejar kalau pakai kapal lambat, kecuali di Pulau Weh nya menginap 2 malam.
Referensi Harga &Jadwal Kapal Cepat & Lambat
Dari informasi yang saya dapat, jarak dari Bandara ke Pelabuhan memakan waktu sekitar 45 menit. Tapi lagi-lagi rejeki *anak baik doyan trip* 30 menit kami sudah tiba di Pelabuhan Ulee Lheue dan ternyata kapal berangkat setengah jam lebih lambat. Dengan drama lari-larian, berpamitan seadanya, cepat-cepat membayar tiket akhirnya kami bisa duduk manis di kapal cepat menuju pulau Weh. Legaaaaaaaaaa… *itulah sepotong drama mengawali perjalanan ke Pulau Weh*

#Pulau Weh – Pantai Iboih

Ngoonggggg. Ngoooongg. Semacam suara klakson kapal menandakan sebentar lagi kapal akan berlabuh. Dari dalam kapal sudah terlihat tebing-tebing karang menjulang. Hijau pepohonan yang membungkus tebing berpadu dengan birunya air laut sekitar tebing, dua warna yang selalu berhasil meluluh lantahkan hati saya. Keindahan dan pesona Indonesia memang tak pernah mengecewakan. Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan Indonesia. Makanya hasilnya jadi indah begini. 

Tak sabar untuk melompat keluar kapal, tak sabar untuk segera menulusi keindahan pulau ini, dan tak sabar untuk menyentuh air lautnya. Semua serba tak sabar.

Tujuan kami adalah Pantai Iboih, disanalah kami akan menginap. Spot terdekat dari Pulau Rubiah, tempat snorkeling. Setelah selesai dengan urusan pinjam meminjam motor, isi bensin, mengisi angin ban motor, mengecek segala perintilan dan berangcuuuuuuuts. Akan sangat merepotkan jika di tengah jalan kehabisan bensin, ban bocor, atau motor mogok. Karena selama perjalanan tidak semua ramai oleh rumah-rumah warga. Sesekali kalian akan melewati hutan, kiri kanan pepohonan, tidak ketinggalan penghuni-penghuni hutan turut mangkal dijalan (maksudnya monyet). Jadi pastikan kondisi motor sebelum berangkat. Selama perjalanan sesekali kalian akan langsung melihat laut lepas, pulau dengan tebing tingginya. Indah? Duh jangan ditanya. Indah bangeeetttttt.

Mengenai kondisi jalan dan palang-palang petunjuk arah, tak perlu khawatir. Karena jalanan di pulau ini adalah aspal mulus dan petunjuk arahnya pun sangat jelas. Terlebih sinyal di tempat ini masih manusiawi artinya masih bisa mengandalkan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) - tidak tidak, maksud saya GPS dalam arti yang sesungguhnya kok. Belum lagi masjid yang sangat mudah ditemukan. Walaupun hanya di pulau kecil tapi masjid-masjid disini sangat indah. Jarang-jarang saya ngetrip bisa mendengar adzan sholat 5 waktu.

45 menit perjalanan, hawa panas dan aroma laut sudah terasa. Yap, kami sudah sampai di Pantai Iboih. Setelah mengurus penginapan, berganti kostum siap nyemplung, mengisi perut, kami menuju pulau seberang yaitu Pulau Rubiah.

Sebelum menyebrang ke Pulau Rubiah, saya sempatkan duduk di pinggir pantai. Merasakan angin laut menerpa wajah, hawa panas bercampur bau asin, terik matahari membuat dahi mengernyit, suara desir ombak, dan sesekali mengambil gambar untuk kebutuhan blog dan sosial media.

#Pulau Weh – Pulau Rubiah

Lagi-lagi harus saya akui pesona Indonesia memang tak pernah mengecewakan. Jernihnya air laut, berkilau oleh terpaan terik matahari, warna hijau dan biru yang berbaur satu sama lain, semua keindahan ini sudah lama saya rindukan. Tapi perlu saya selipkan, 2 sahabat saya, teman trip yang hampir selalu ada disetiap perjalanan saya tidak ada disana. Lain kali keindahan ini harus saya nikmati bersama mereka. Belum puas menikmati sensasi tergoncang di atas boat ternyata kami sudah sampai. Hanya butuh 15 menit untuk sampai ke Pulau Rubiah *cepet juga ya*.
Menuju Pulau Rubiah *Happy Face*
Di sekitar Pulau Rubiah

Spot Snorkeling Pulau Rubiah
Seasoldier Ada Di Setiap Trip :D
Berbeda dengan snorkeling yang sudah-sudah. Saya pikir kami akan menuju spot snorkeling dengan boat. Tapi ternyata kami menuju spot snorkeling dengan berjalan kaki. Mungkin kalian bingung nanti barang-barang berupa HP, dompet, kacamata, dan barang penting lainnya akan disimpan dimana, karena biasanya disimpan di boat. Tapi tak perlu khawatir, karena barang-barang bawaan yang tidak mungkin dibawa pada saat snorkeling dapat dititipkan di warung. Biasanya guide sudah mempunyai kesepakatan dengan pemilik warung untuk menitipkan barang milik wisatawan yang dia bawa. Jadi keuntungan untuk pemilik warung juga, karena selepas snorkeling biasanya wisatawan akan menyempatkan untuk memesan makanan atau minuman di warung tersebut. Simbiosis mutualisme *duileh masih inget aja pelajaran jaman sekolah*.

Karang-karang disini memang tak seindah di Pahawang atau di Gili, tapi ikan-ikannya sunnguh beragam. Dari yang sekecil kelingking, sampai sebesar telapak tangan. Bukan hanya ukuran, tapi warnanya pun beragam. Kerinduan akan laut terbayar sudah, tapi kerinduan yang lain ahh entahlah *egha fokus plis*.

Semakin sore semakin teduh. Jelas menguntungkan kami yang masih belum puas bermain-main di air. Tapi setelah snorkeling, kami harus mengunjungi spot mainstream lainnya, Tugu 0 Kilometer. Spot paling barat Indonesia. Seperti lagu nasionalisme “dari Sabang sampai Merauke, berjejer pulau-pulau”. Ya, kami memang sedang berada di Sabang.
Undewater yang ketjehnya parah
Sempat menikmati hidangan lezat indomie dari si ibu warung, menyeruput kopi, mengambil foto dan kami pun harus kembali ke seberang. Mandi, berganti pakaian kering dan bersih, menuju tugu 0 kilometer.

#Pulau Weh – Tugu 0 Kilometer

Lagi-lagi saya kagum dengan jalanan di pulau ini. Aspalnya yang mulus benar-benar tidak jadi penghalang bagi para wisatan menuju tugu 0 kilometer. Walaupun jalanannya bagus dan mulus tapi harus tetap berhati-hati, karena di belokan bisa saja dikejutkan oleh sekelompok monyet liar yang entah sedang mengobrol atau sedang mengadakan pertemuan di tengah jalan. Walaupun berada di pulau dengan jalanan sepi tetap harus menjaga tata karma. Yang terpenting jangan ngebut sesuka hati.
Tugu 0 Kilometer
Tugu 0 Kilometer Yang Ada Saya nya & Si Mas-Mas Yang Ikut Kefoto
Pukul 18.00 WIB, di Jakarta mungkin langit sudah mulai gelap berpadu dengan warna jingga tapi di Sabang langit masih terang benderang. Spot foto yang bertuliskan KILOMETER 0 sudah sangat ramai oleh wisatawan. Bahkan sampai mengantri untuk bisa berpose, mengabadikan momen dengan berfoto.
Saranghaeyo
Mas Mas Yang Gak Tau Siapa Namanya Gak Mau Turun Dari Tempat Duduknya, Minta di Foto Banget
Ini Udah Setengah 7 loh Tapi Masih Terang Banget
Nyaris pukul 7 sore *saya bingung mau bilang 7 malem apa 7 sore, masih terang bo'*, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Kami tak mau mengambil resiko kembali ke penginapan sebelum benar-benar gelap. Toh sudah dapat foto di tugu 0 kilometer, sudah menikmati sunset yang indah di Sabang, lagi dan lagi terselip keinginan untuk menikmati semua ini bersama 2 sahabat saya. Andai mereka berdua ada disini. Hmm..

Malam harinya, tak banyak yang kami lakukan. Mengisi perut di salah satu tempat makan dengan hidangan ikan yang sungguh nikmat, berbelanja ole-ole, membeli jagung bakar, mengobrol sebentar dan tidur.

Tantangan terbesar keesokan harinya, pukul 06.00 tapi langit rasa pukul 04.00. Tau kan gimana mager nya. Belum lagi kami harus mengejar jadwal kapal pukul 08.00. Sama dengan drama sebelumnya, kejar-kejaran naik kapal, membayar tiket buru-buru dan akhirnya bisa kembali duduk di kapal cepat menuju pelabuhan Ulee Lheue. Karena jika kami telat, maka terpaksa kami harus menaiki kapal lambat. Waktu tempuh 2 jam meunuju Ulee Lheue. Dan tentunya semua jadwal berkunjung tempat wisata di Banda Aceh akan bergeser.
View Dari Penginapan Yang Bikin Gak Mau Pulang Cepet-Cepet
Oiya sebenarnya ada banyak tempat yang bisa kalian kunjungi selama di Pulau Weh, seperti Pantai Sumur Tiga, Gua Sarang, Pantai Anoi Itam, Pulau Klah, Danau Aneuk Laot, Benteng Jepang, Air Terjun Pria Laot, Pantai Ujung Kareung. Bahkan bisa main-main ke Kota Sabang. Tapi tentu saja kalian membutuhkan banyak waktu untuk mengeksplore lebih banyak tempat.

Kali aja bisa jadi referensi. Walopun sebenarnya bisa cek sendiri di Google Map hehe



Perjalanan belum selesai guys, hari kedua kami akan menelusuri tempat-tempat mainstream yang ada di Kota Banda Aceh. Klik disini MENULUSURI SPOT MAINSTREAM INDONESIA PALING BARAT (Part 2)
Read More
Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts