BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Tuesday, August 22, 2017

MENULUSURI SPOT MAINSTREAM INDONESIA PALING BARAT (Part 1)

Kesempatan itu akhirnya datang juga, kesempatan mengunjungi Indonesia ujung paling paling barat, yang tak lain adalah Provinsi Banda Aceh dan Pulau Weh. Hanya butuh 2 minggu perencaan dan semuanya berjalan 90% sesuai rencana, 10% sisanya seperti biasa ada drama-drama sebagai bumbu dari sebuah trip.

Saat itu saya memang masih berada di Medan, disalah satu tempat proyek saya bekerja. Seperti yang sudah sudah, memanfaatkan kesempatan pas lagi proyek luar kota adalah hobi baru saya sejak bekerja. Mumpung di Medan, tak ada salahnya untuk sekalian berkunjung ke Aceh, dan dengan memanfaatkan fasilitas hometrip *ngakak terbang2*.

Bermodalkan informasi dari mbah Google, baca sana sini di blog orang, dan informasi dari teman-teman yang sudah pernah kesana akhirnya itinerary trip Aceh ready. Selain itinerary ada hal lain yang jauh lebih siap, tak lain dan tak bukan adalah NIAT.

Jadwal kapal menyebrang dari Pelabuhan Ulee Lheue (Aceh) – Balohan (Sabang) adalah jam 10.00. dan pagi itu pesawat baru landing di Bandara Sultan Iskandar Muda sekitar pukul 09.00. Belum lagi harus mengantri turun, berjalan keluar terminal sampai bertemu dengan Bapak yang akan mengantar kami ke Pelabuhan Ulee Lheue. Oiya saya lupa cerita, kalau salah satu rekan trip kali ini adalah orang Aceh namanya Fauzan tapi biasa dipanggil Ojan. Jadi segala fasilitas kendaraan dan penginapan selama di Banda Aceh free dari Ojan *ini nih yang namanya dapet durian runtuh bertubi-tubi* *rejeki anak baik doyan trip*. Tawaran tersebut sangat membantu penghematan budget kami, sangat-sangat membantu. Jadi maaf teman-teman semuanya, saya tidak bisa memberikan referensi kendaraan dan penginapan selama di Banda Aceh. Semoga kalian yang mau kesini bisa seberuntung saya hahahaha.

Sekitar pukul 9 lewat nyaris setengah 10 kami baru memulai perjalanan menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Rasa senang bercampur deg-deg an. Loh kok deg-deg an Gha? Kayak udah mau lamaran aja. Iyalah deg-deg an, bakal ketinggalan kapal atau tidak. Tapi kalaupun buruk-buruknya ketinggalan kapal cepat, yasudahlah yak. Berarti harus ada perubahan rencana, rombak 180 derajat. Sebenarnya ada kapal lambat yang berangkat pukul 11. Tapi lama perjalanannya 2 jam. 2 jam? Belum perjalanan ke penginapan, belum ngurus ina inu nya, duh gak yakin bisa ke kejar kalau pakai kapal lambat, kecuali di Pulau Weh nya menginap 2 malam.
Referensi Harga &Jadwal Kapal Cepat & Lambat
Dari informasi yang saya dapat, jarak dari Bandara ke Pelabuhan memakan waktu sekitar 45 menit. Tapi lagi-lagi rejeki *anak baik doyan trip* 30 menit kami sudah tiba di Pelabuhan Ulee Lheue dan ternyata kapal berangkat setengah jam lebih lambat. Dengan drama lari-larian, berpamitan seadanya, cepat-cepat membayar tiket akhirnya kami bisa duduk manis di kapal cepat menuju pulau Weh. Legaaaaaaaaaa… *itulah sepotong drama mengawali perjalanan ke Pulau Weh*

#Pulau Weh – Pantai Iboih

Ngoonggggg. Ngoooongg. Semacam suara klakson kapal menandakan sebentar lagi kapal akan berlabuh. Dari dalam kapal sudah terlihat tebing-tebing karang menjulang. Hijau pepohonan yang membungkus tebing berpadu dengan birunya air laut sekitar tebing, dua warna yang selalu berhasil meluluh lantahkan hati saya. Keindahan dan pesona Indonesia memang tak pernah mengecewakan. Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan Indonesia. Makanya hasilnya jadi indah begini. 

Tak sabar untuk melompat keluar kapal, tak sabar untuk segera menulusi keindahan pulau ini, dan tak sabar untuk menyentuh air lautnya. Semua serba tak sabar.

Tujuan kami adalah Pantai Iboih, disanalah kami akan menginap. Spot terdekat dari Pulau Rubiah, tempat snorkeling. Setelah selesai dengan urusan pinjam meminjam motor, isi bensin, mengisi angin ban motor, mengecek segala perintilan dan berangcuuuuuuuts. Akan sangat merepotkan jika di tengah jalan kehabisan bensin, ban bocor, atau motor mogok. Karena selama perjalanan tidak semua ramai oleh rumah-rumah warga. Sesekali kalian akan melewati hutan, kiri kanan pepohonan, tidak ketinggalan penghuni-penghuni hutan turut mangkal dijalan (maksudnya monyet). Jadi pastikan kondisi motor sebelum berangkat. Selama perjalanan sesekali kalian akan langsung melihat laut lepas, pulau dengan tebing tingginya. Indah? Duh jangan ditanya. Indah bangeeetttttt.

Mengenai kondisi jalan dan palang-palang petunjuk arah, tak perlu khawatir. Karena jalanan di pulau ini adalah aspal mulus dan petunjuk arahnya pun sangat jelas. Terlebih sinyal di tempat ini masih manusiawi artinya masih bisa mengandalkan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) - tidak tidak, maksud saya GPS dalam arti yang sesungguhnya kok. Belum lagi masjid yang sangat mudah ditemukan. Walaupun hanya di pulau kecil tapi masjid-masjid disini sangat indah. Jarang-jarang saya ngetrip bisa mendengar adzan sholat 5 waktu.

45 menit perjalanan, hawa panas dan aroma laut sudah terasa. Yap, kami sudah sampai di Pantai Iboih. Setelah mengurus penginapan, berganti kostum siap nyemplung, mengisi perut, kami menuju pulau seberang yaitu Pulau Rubiah.

Sebelum menyebrang ke Pulau Rubiah, saya sempatkan duduk di pinggir pantai. Merasakan angin laut menerpa wajah, hawa panas bercampur bau asin, terik matahari membuat dahi mengernyit, suara desir ombak, dan sesekali mengambil gambar untuk kebutuhan blog dan sosial media.

#Pulau Weh – Pulau Rubiah

Lagi-lagi harus saya akui pesona Indonesia memang tak pernah mengecewakan. Jernihnya air laut, berkilau oleh terpaan terik matahari, warna hijau dan biru yang berbaur satu sama lain, semua keindahan ini sudah lama saya rindukan. Tapi perlu saya selipkan, 2 sahabat saya, teman trip yang hampir selalu ada disetiap perjalanan saya tidak ada disana. Lain kali keindahan ini harus saya nikmati bersama mereka. Belum puas menikmati sensasi tergoncang di atas boat ternyata kami sudah sampai. Hanya butuh 15 menit untuk sampai ke Pulau Rubiah *cepet juga ya*.
Menuju Pulau Rubiah *Happy Face*
Di sekitar Pulau Rubiah

Spot Snorkeling Pulau Rubiah
Seasoldier Ada Di Setiap Trip :D
Berbeda dengan snorkeling yang sudah-sudah. Saya pikir kami akan menuju spot snorkeling dengan boat. Tapi ternyata kami menuju spot snorkeling dengan berjalan kaki. Mungkin kalian bingung nanti barang-barang berupa HP, dompet, kacamata, dan barang penting lainnya akan disimpan dimana, karena biasanya disimpan di boat. Tapi tak perlu khawatir, karena barang-barang bawaan yang tidak mungkin dibawa pada saat snorkeling dapat dititipkan di warung. Biasanya guide sudah mempunyai kesepakatan dengan pemilik warung untuk menitipkan barang milik wisatawan yang dia bawa. Jadi keuntungan untuk pemilik warung juga, karena selepas snorkeling biasanya wisatawan akan menyempatkan untuk memesan makanan atau minuman di warung tersebut. Simbiosis mutualisme *duileh masih inget aja pelajaran jaman sekolah*.

Karang-karang disini memang tak seindah di Pahawang atau di Gili, tapi ikan-ikannya sunnguh beragam. Dari yang sekecil kelingking, sampai sebesar telapak tangan. Bukan hanya ukuran, tapi warnanya pun beragam. Kerinduan akan laut terbayar sudah, tapi kerinduan yang lain ahh entahlah *egha fokus plis*.

Semakin sore semakin teduh. Jelas menguntungkan kami yang masih belum puas bermain-main di air. Tapi setelah snorkeling, kami harus mengunjungi spot mainstream lainnya, Tugu 0 Kilometer. Spot paling barat Indonesia. Seperti lagu nasionalisme “dari Sabang sampai Merauke, berjejer pulau-pulau”. Ya, kami memang sedang berada di Sabang.
Undewater yang ketjehnya parah
Sempat menikmati hidangan lezat indomie dari si ibu warung, menyeruput kopi, mengambil foto dan kami pun harus kembali ke seberang. Mandi, berganti pakaian kering dan bersih, menuju tugu 0 kilometer.

#Pulau Weh – Tugu 0 Kilometer

Lagi-lagi saya kagum dengan jalanan di pulau ini. Aspalnya yang mulus benar-benar tidak jadi penghalang bagi para wisatan menuju tugu 0 kilometer. Walaupun jalanannya bagus dan mulus tapi harus tetap berhati-hati, karena di belokan bisa saja dikejutkan oleh sekelompok monyet liar yang entah sedang mengobrol atau sedang mengadakan pertemuan di tengah jalan. Walaupun berada di pulau dengan jalanan sepi tetap harus menjaga tata karma. Yang terpenting jangan ngebut sesuka hati.
Tugu 0 Kilometer
Tugu 0 Kilometer Yang Ada Saya nya & Si Mas-Mas Yang Ikut Kefoto
Pukul 18.00 WIB, di Jakarta mungkin langit sudah mulai gelap berpadu dengan warna jingga tapi di Sabang langit masih terang benderang. Spot foto yang bertuliskan KILOMETER 0 sudah sangat ramai oleh wisatawan. Bahkan sampai mengantri untuk bisa berpose, mengabadikan momen dengan berfoto.
Saranghaeyo
Mas Mas Yang Gak Tau Siapa Namanya Gak Mau Turun Dari Tempat Duduknya, Minta di Foto Banget
Ini Udah Setengah 7 loh Tapi Masih Terang Banget
Nyaris pukul 7 sore *saya bingung mau bilang 7 malem apa 7 sore, masih terang bo'*, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Kami tak mau mengambil resiko kembali ke penginapan sebelum benar-benar gelap. Toh sudah dapat foto di tugu 0 kilometer, sudah menikmati sunset yang indah di Sabang, lagi dan lagi terselip keinginan untuk menikmati semua ini bersama 2 sahabat saya. Andai mereka berdua ada disini. Hmm..

Malam harinya, tak banyak yang kami lakukan. Mengisi perut di salah satu tempat makan dengan hidangan ikan yang sungguh nikmat, berbelanja ole-ole, membeli jagung bakar, mengobrol sebentar dan tidur.

Tantangan terbesar keesokan harinya, pukul 06.00 tapi langit rasa pukul 04.00. Tau kan gimana mager nya. Belum lagi kami harus mengejar jadwal kapal pukul 08.00. Sama dengan drama sebelumnya, kejar-kejaran naik kapal, membayar tiket buru-buru dan akhirnya bisa kembali duduk di kapal cepat menuju pelabuhan Ulee Lheue. Karena jika kami telat, maka terpaksa kami harus menaiki kapal lambat. Waktu tempuh 2 jam meunuju Ulee Lheue. Dan tentunya semua jadwal berkunjung tempat wisata di Banda Aceh akan bergeser.
View Dari Penginapan Yang Bikin Gak Mau Pulang Cepet-Cepet
Oiya sebenarnya ada banyak tempat yang bisa kalian kunjungi selama di Pulau Weh, seperti Pantai Sumur Tiga, Gua Sarang, Pantai Anoi Itam, Pulau Klah, Danau Aneuk Laot, Benteng Jepang, Air Terjun Pria Laot, Pantai Ujung Kareung. Bahkan bisa main-main ke Kota Sabang. Tapi tentu saja kalian membutuhkan banyak waktu untuk mengeksplore lebih banyak tempat.

Kali aja bisa jadi referensi. Walopun sebenarnya bisa cek sendiri di Google Map hehe



Perjalanan belum selesai guys, hari kedua kami akan menelusuri tempat-tempat mainstream yang ada di Kota Banda Aceh. Klik disini MENULUSURI SPOT MAINSTREAM INDONESIA PALING BARAT (Part 2)

2 comments:

  1. terus termangu baca tulisan ini...
    huft~ :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu harus kesana kamu harus kesana, kamu harus kesana
      Udah itu aja

      Delete

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts