BINTANG ada, BINTANG hadir, BINTANG mendengarkan

Tuesday, August 22, 2017

MENULUSURI SPOT MAINSTREAM INDONESIA PALING BARAT (Part 2)

Sebelumnya di Part 1, lanjut hari kedua masih dengan penulusuran tempat-tempat mainstream di bagian Indonesia paling barat.

#Banda Aceh – Museum Tsunami

Museum Tsunami Aceh adalah museum yang dibangun sebagai monumen simbolis untuk bencana tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 lalu. Bencana yang membumi ratakan kawasan Banda Aceh dan menelan ratusan ribu korban ini menyisakan luka perih di hati warga Indonesia, terlebih warga Aceh. Museum ini dirancang oleh Bapak Ridwan Kamil, yang sekarang menjabat sebagai Walikota Kota Bandung.

Bentuk gedung ini sangat unik. Dilihat dari samping tampak seperti bentuk kapal, namun bila diperhatikan dari atas tampak seperti pusaran gelombang yang merefleksikan gelombang tsunami. Bapak Ridwan Kamil memang seorang yang berbakat, karya dari beliau ini memang tak hanya monumen peringatan tsunami Aceh tapi juga sebagai perlindungan dari bencana tsunami apabila terjadi lagi di masa mendatang.
Sebelum masuk lebih dalam di gedung ini, pengunjung akan menemui lorong sempit dan gelap diantara dua dinding dengan air yang mengalir. Saya memang tidak merasakan langsung bencana ini, tapi lorong ini seolah mengantarkan saya merasakan suasana dan kepanikan saat tsunami. Jujur gak lebay, bulu kuduk saya sempat merinding.
Lorong Sebelum Masuk Ke Dalam Museum
Setelah melewati lorong, wisatawan akan mendapati ruangan yang dindingnya berlapis cermin-cermin dan di tengah ruangan ada banyak balok-balok yang diatasnya terdapat layar yang menampilkan potongan foto-foto sebelum dan sesudah terjadi tsunami.

Tidak cukup sampai disitu, memasuki lebih dalam bagian gedung ini akan ada ruangan gelap, hanya cahaya lampu yang tertempel di dinding yang menjadi penerang sekaligus dinding-dinding tersebut bertuliskan nama-nama korban serta di bagian paling atas terdapat lubang untuk masuknya cahaya matahari. Hati saya begetar melihat lubang paling atas pada ruangan tersebut. Terdapat ukiran ALLAH. Menurut saya pribadi, ini adalah ruangan yang paling spiritual dari semua ruangan di museum ini.
The Light Of God
Nama-Nama Korban Tsunami
Perjalanan masih berlanjut, diruang-ruang selanjutnya lebih menceritakan sejarah kota Banda Aceh. Sebelum terjadi tsunami, saat terjadi tsunami, dan bahkan setelah terjadi tsunami. Ada juga maket-maket yang sengaja dibuat untuk menampilkan kondisi saat tsunami terjadi. Semua itu hanya maket, hanya boneka tapi rasanya cukup bisa membuat saya merasakan bencana dahsyat yang terjadi di tahun 2004 silam.
Maket-Maket Yang Menggambarkan Kondisi Saat Tsunami
Maket-Maket Bangunan-Bangunan Yang Hancur Di Terjang Tsunami
Sisi Lain Museum Tsunami *tjakeep*
Bahkan ada 1 ruangan yang disediakan untuk pemutaran film pendek berdurasi 30 menit. Film yang tentunya menampilkan bagaimana kondisi Banda Aceh saat di terjang tsunami. Bangunan, jalan-jalan, mobil-mobil semua hancur tak tersisakan.

Oiya mungkin saya lupa bilang kalau tiket masuk museum ini gratis!!

#Banda Aceh – Masjid Baiturrahman

Sebagai umat muslim, rasanya tak lengkap jika ke Aceh tapi tidak menyempatkan beribadah di masjid yang menjadi ikon tanah Serambi Mekkah ini yakni Masjid Baiturrahman. Masjid yang masih berdiri kokoh saat tsunami terjadi menambah kisah menarik dari sejarah Masjid Baiturrahman. Setelah mengalami beberapa kali transformasi, kini masjid ini tampak semakin menarik dengan arsitektur yang indah. Di sekeliling halaman di luar masjid dilapisi dengan marmer dan ditambah dengan payung-payung elektrik. Bahkan ada yang menyebutkan tampilan Masjid Baiturrahman mirip dengan Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Pada saat saya berkunjung pembangunannya memang belum selesai. Tapi dengan tampilan yang saat ini pun sudah sangat indah, bahkan betah berlama-lama berada disana walaupun cuaca di Aceh sangatlah terik.
Masjid Baiturrahman Aceh
Halaman Sekitar Masjid
Kondisi Di Dalam Masjid Yang Bikin Betah Berlama-Lama
Untuk masuk kedalam masjid, pengunjung diharuskan untuk melepas alas kaki dan menggunakan rok untuk perempuan (jika memakai celana, maka dari pengurus masjid akan memberikan rok) dan celana panjang untuk laki-laki (jika menggunakan celana pendek, maka pengurus masjid memberikan sarung) selama berada dikawasan masjid.

#Banda Aceh – Kapal Di Atas Rumah

"Kapal Diatas Rumah" atau "Kapal Lampulo"
“Kapal Lampulo” ya seperti itulah sebutan objek wisata yang satu ini karena memang terletak di Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam. Dan sebutan lainnya “Kapal Di Atas Rumah” karena kapal ini memang berada di atas rumah. Bukan karena sengaja diletakkan diatas rumah melainkan karena dahsyatnya gelombang tsunami yang menerjang Kota Banda Aceh lalu menyebabkan kapal nelayan yang biasanya digunakan mencari ikan ini terhempas sekitar 1 kilometer ke pemukiman warga dan tersangkut diatas salah satu rumah warga.

“Kapal nelayan ini menjadi saksi bisu kehebatan gelombang tsunami yang terjadi kala itu. Kalau tidak ada kapal ini, mungkin saya tidak akan selamat dari bencana tsunami”, terang seorang nenek warga desa itu yang menceritakan kejadian yang dialaminya saat tsunami terjadi. “Bahkan kapal nelayan ini menyelamatkan 59 nyawa saat itu, termasuk saya salah satunya”, tambah penjelasan dari sang nenek.
Kapal Lampulo Dilihat Dari Atas
Di sebelah kanan kapal dibuat jalanan setinggi 5 meter agar pengunjung dapat melihat kapal dari atas. Dari atas dapat terlihat puing-puing rumah warga yang hancur karena terjangan tsunami, bahkan kondisinya pun tetap dipertahankan, tidak merubah bentuk aslinya agar selamanya bisa menjadi saksi bisu bencana tsunami Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 silam. 

Terlihat pula cat kapal yang telah diperbaharui sebagai bagian dari perawatan objek wisata dan agar enak dipandang. Di sekitar kawasan ini juga ada toko yang menjual souvenir, kopi, jajanan khas kota ini. 

#Banda Aceh – PLTD Apung

Bukan hanya “Kapal Diatas Rumah” tapi ada kapal lain yang menjadi saksi bisu dahsyatnya tsunami Aceh yang pernah terjadi, yakni “Kapal PLTD Apung”. Kalau Kapal Lampulo terseret 1 kilometer jauhnya, nah Kapal PLTD Apung ini malah terseret sejauh 5 kilometer. Awalnya kapal ini berada di wilayah Ulee Lheue, digunakan sebagai sumber tenaga listrik diwilayah tersebut. Tapi kedahsyatan gelombang tsunami membuat kapal ini terseret hingga ke jantung Kota Banda Aceh. Letak objek wisata yang satu ini memang tidak jauh dari Museum Tsunami.
Kapal PLTD Apung
Kawasan Disekitar PLTD Apung
“Tadinya kapal ini ingin dikembalikan ke wilayah Ulee Lheue tapi dengan luas mencapai 1.900 meter dan bobot 2.600 ton rasanya mustahil untuk menggeser kapal ini kembali ke wilayah asalnya”, kurang lebih seperti penjelasan dari teman yang mengantar kami selama berada di Kota Banda Aceh. Oleh karena itu, pemerintah membeli wilayah ini untuk dijadikan monument sekaligus menjadi wahana wisata edukasi.

Saat berkunjung ke tempat wisata ini, pastikan tidak pada saat jam sholat karena dengan tegas petugas disana akan mempersilahkan para pengunjung untuk meninggalkan lokasi wisata dan akan dipersilahkan kembali masuk saat sholat telah selesai. Dan benar-benar tidak ada toleransi, tegas, dan disiplin. BAGUS PAK, LANJUTKAN!!

Beberapa tempat wisata yang menjadi ikon Kota Banda Aceh sudah kami kunjungi. Lagian waktu juga sudah menunjukkan pukul 4 sore hari. Sebelum pulang ke penginapan, kami memang berencana untuk mengunjungi salah satu pantai yang tak jauh dari Kota Banda Aceh.

Ohya, semua tempat wisata yang kami kunjungi di Kota Banda Aceh itu gratissss!! Saya sangat kagum dengan pemerintah kota ini, semua tempat wisatanya ramai pengunjung tapi tidak ada unsur komersil didalamnya. Walaupun tidak dipungut biaya di tempat wisata tapi kondisi objek wisata yang ada sangat terawat *4 thumb up*

#Banda Aceh – Pantai Lampuuk

Diawali dengan wisata alam, ditutup dengan wisata alam *sempurna*

Belum cukup dengan wisata-wisata menakjubkan di Kota Banda Aceh, ternyata ada pantai yang mempesona yang tak jauh dari kota ini, hanya sekitar 15 kilometer dari Kota Banda Aceh. Ekspektasi saya bahwa kondisi pantai yang tak jauh dari kota pasti akan kotor oleh sampah, dan belum lagi airnya yang tidak sejernih dengan pulau terpencil. Tapi saya keliru. Kondisi Pantai Lampuuk berbeda dengan yang ada dipikiran saya. Pantas saja pantai ini dijuluki sebagai primadona wisata Aceh. Pasir putih, pohon pinus yang rindang, pemandangan tebing bebatuan karang di ujung pantai, warna air yang tak kalah jernih dengan Pulau Weh, wajar jika pantai ini selalu ramai akan pengunjung.

Sayang, Pada Saat Kesana Cuaca Sedang Mendung
Ada banyak hal yang bisa dilakukan di pantai ini, sekedar berenang atau bermain air di bibir pantai, bermain banana boat, ombak tinggi untuk berselancar, atau hanya duduk2 cantik sambil mengisi perut dengan nikmatnya ikan bakar dari warung makan di sisi pantai ditambah dengan kesegaran es kelapa muda juga bisa. Di sekitar pantai disediakan semacam pondokan untuk para pengunjung yang ingin beristirahat sambil menikmati keindahan pantai.


Bulet-Bulet Semua Yak :))))
Awalnya saya mengira akan ada warga atau petugas yang akan menagih sewa pondokan, namun sejam berlalu, durian yang kami beli juga sudah habis, hingga kami beranjak pulang, tak ada tagihan sewaan. Wah lagi lagi gratissss.

Aceh, berhasil mencuri hati saya. Tak salah menjadikan Aceh dan Pulau Weh sebagai salah satu “Destinasi Wajib Kunjung” dalam hidup saya. Wisata alam, wisata sejarah, wisata kuliner, Aceh termasuk juara. Apalagi kopinya. Saya sangat suka dengan kopi khas Aceh. Kopi yang pernah buat saya gak tidur semalaman karena minum 2 gelas kopi khas Aceh dengan rasa yang berbeda.
Guys, you must try!!
Saat itu sebelum meninggalkan Kota Banda Aceh, doa saya dalam hati “semoga tak ada lagi bencana dahsyat yang menimpa kota ini, dan kota-kota di seluruh Indonesia. Bencana yang bukan hanya merenggut harta benda tapi juga nyawa manusia, bencana yang memilukan hati tiap warganya, bencana yang memisahkan setiap anggota keluarga. Cukuplah tsunami yang menjadi bencana dahsyat yang menimpa kota ini”







Jarak dari satu tempat ke tempat memang tidak terlalu jauh. Belum lagi kondisi jalan di Aceh tidak semacet Jakarta. Jadi dalam sehari pun bisa mengunjungi beberapa tempat di kota ini.


::Additional Information::
1. Kapal cepat Ulee Lheue (Aceh)- Balohan (Sabang)  = Rp. 80.000 (Executive)
2. Kapal cepat Balohan (Sabang) - Ulee Lheue (Aceh) = Rp. 80.000 (Executive)
3. Sewa Motor di Sabang  = Rp. 100.000/motor (2 hari) - CP : 085277903700
    Note: sebenanrnya Rp. 75.000/hari. Tapi karena hari minggu saya hanya menyewa 1/2hari jadinya dapat potongan. Jadi kalian tawar aja kalau cuman make 1/2 hari.
4. Penginapan di Sabang (Pantai Iboih)  = Rp. 400.000 (2D1N) - CP : 081360601597
5. Boat + Guide + Foto Underwater + Alat Snorkeling  = Rp. 650.000 (saya lupa per itemnya berapa)
    Note: untuk penyewaan peralatan snorkeling bisa tanya ke yang punya penginapan


Nextnya tunggu tulisan saya tentang trip “PELARUGA, GREEN CANYON VERSI SUMATERA UTARA” 😊

2 comments:

  1. i really want to goooo theerreeee....
    baru dimas yang sempat ke sana. itu pun nggak lama dan nggak kemana-mana.
    masak pamernya: sayang, keliatan nggak itu bayangan di ujung? nah, itu pulau sabang!

    -_-" hakdessshhh~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boahahhaa..
      Brrt ke aceh tapi gak sempet ke Sabang ya?

      Ihh mesti kudu kesana lagi. Beneran deh, pulau kecil rasa provinsi. Jalanannya bagus, byk masjid, pemandangannya jgn ditanya. *Makin kompor makin kompor* wkwkkwkw

      Delete

Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Megawati Sriayu Lestari
View my complete profile
pengen kurus tapi doyan makan
pengen putih tapi hobi travelling
But I call this challenge :)))))

Followers

Instagram

EGHA_LESTARI

Popular Posts